Benih Yang Kau Titipkan

Benih Yang Kau Titipkan
Bab 41


__ADS_3

Anak-anak tengah bermain dengan riang, Kiran melihat itu sangat lega. Ternyata benar, semua anak-anak dibawa ke taman. Tapi, dia tak melihat Krish. Di mana putranya?


Kiran celingak celinguk mencari keberadaan putranya itu.


"Dev, di mana, Krish? Aku tidak melihatnya," kata Kiran yang terus mengitari taman dengan pandangannya.


Dev tidak menjawab, dia segera menghampiri wali kelas murid. Entah apa yang ditanyakan lelaki itu, Kiran tak bisa mendengar karena jarak yang lumayan jauh. Tak lama, Dev kembali.


"Di mana Krish?" tanya Kiran.


"Mommy." Teriakan itu mampu membuat Kiran menoleh.


"Krish?" Kiran merentangkan tangan menyambut kedatangan putranya. "Dari mana saja? Kenapa tidak ikut bergabung dengan teman-teman mu, hah?! Jangan buat Mommy khawatir." Kiran mencium kening putranya.


Sedangkan Dev, ia mengedarkan pandangan. Mencari sosok yang membawa putranya, karena dari penjelasan guru, Krish diajak oleh orang yang mengaku sebagai kakeknya.


Dan benar saja, Dev melihat Mohan masuk ke dalam mobil, lantas pergi tanpa meninggalkan jejak. Dia yakin kalau mertuanya sangat menyayangi istrinya, tidak ada orang tua yang tak menyayangi anak-anak nya.


"Aku akan memperbaiki hubungan aya dan anak yang sempat rusak karena ku," gumam Dev.


"Dev, kita pulang saja ya?" ajak Kiran kemudian.


"Oh iya, tapi sebaiknya kita pamit dulu pada gurunya Krish. Takut mereka mencari," kata Dev.


Kiran mengangguk. Setelah pamit, Dev dan Kiran benar-benar pergi mengajak Krish pulang. Saat dalam perjalanan, bocah itu terus mengoceh karena dibelikan mainan oleh seorang laki-laki berumur. Sayang, Krish tidak begitu mengenal siapa orang tua itu. Karena saat menemui sangat kakek, dia tidak melihat dengan jelas wajah kakeknya.


"Krish, mainan dari siapa itu?" tanya Kiran.


"Dari orang tadi yang mengajak ku pergi, Mommy. Kakek itu baik kok," kata Krish.


"Kakek siapa?" tanya Kiran.

__ADS_1


"Tidak tau, bilangnya kakek saja," ucap Krish.


Kiran malah berpikir itu adalah memang kakeknya, tapi rasanya mustahil karena dia ingat betul bagaimana sikap ayahnya yang sangat membenci dirinya.


"Lain kali jangan pergi dengan orang asing ya, Mommy takut kamu kenapa-kenapa," ujar Kiran.


"Iya, Mommy." Krish mengangguk patuh. Bahkan bocah itu tidak melepaskan mainan yang di pagang nya.


***


Setibanya di rumah, Dev langsung menghubungi Sunil, dia meminta bantuan agar rencananya berjalan dengan sempurna. Dia akan merencanakan pertemuan antara istrinya dan mertuanya itu.


"Apa gunanya aku libur kalau masih tetap harus bekerja? Aku baru saja sampai di kampung ku, Dev." Sunil menggerutu di sebrang sana, dia baru saja merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.


"Okelah, apa yang harus aku kerjakan?" tanya Sunil kemudian.


"Hubungi Syiha, atur rencana pertemuan Kiran dengan ayahnya, aku ingin memperbaiki hubungan mereka," tukas Dev.


"Kau coba saja hubungi dia, dia pasti membantu. Syiha menyayangi kakaknya," kata Dev.


"Baiklah, aku akan menghubunginya."


Panggilan pun berakhir, Sunil segera menghubungi Syiha. Namun, apa yang dia dengar?


"Siapa kau? Apa kau selingkuhan istriku, hah?!" teriak seorang laki-laki.


Sunil sangat terkejut ketika mendapati tuduhan seperti itu.


"Apa yang kau lakukan, Smith? Aku tidak punya selingkuhan, kau jangan memutarbalikkan fakta, bukannya selama ini kau yang selingkuh dariku?"


Sunil kembali mendengar suara di sebrang sana. Sepertinya, sepasang suami istri itu tengah bertengkar. Ternyata, yang kelihatan harmonis belum benar tidak ada apa-apa. Buktinya, mereka pintar bersandiwara.

__ADS_1


Di depan orang tuanya terlihat bahagia seakan tidak ada yang terjadi apa-apa. Sunil jadi berpikir, bahwa Syiha ternyata menghalalkan segala cara agar orang tuanya tidak ikut campur dengan rumah tangganya.


Lebih baik Kiran dan Dev, tidak mendapatkan restu tapi mereka hidup bahagia tanpa adanya kebohongan.


Gimana caranya Sunil bicara kalau dia sendiri dituduh selingkuhan wanita itu. Akhirnya, Sunil mematikan panggilan itu dari pada harus kena imbasnya.


Setengah jam kemudian.


Ponsel milik Sunil berdering, dia pun segera mengangkatnya karena yang menghubunginya adalah Syiha.


"Ada apa kau menghubungiku?" tanya Syiha.


"Apa kita bisa ketemu? Ada hal yang ingin aku bicarakan."


***


Bertemulah, Sunil dan Syiha disalah satu cafe. Sunil melihat wajah Syiha yang kemerahan di bagian tulang pipi. Tapi dia tidak berani bertanya mengenai hal itu. Dia rasa itu hasil pertengkaran tadi.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Syiha kemudian.


Sunil pun mengatakan niatannya, dan meminta Syiha agar mau membantu pertemuan ayah dan anak itu


"Baik, aku akan membantu," ucap Syiha.


Sunil merasa tidak tega melihat Syiha seperti itu, ingin rasanya dia memberikan perhatian pada wanita yang teraniaya itu.


___


Rekomendasi hari ini, jangan lupa mampir ya 🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2