
Dev menatap manik cokelat anaknya, air matanya berlinang mengajak sungai. Rasanya dia tak ingin meninggalkan putranya sedetik pun, tapi dia tahu bagaimana sikap Kiran yang memang sedikit keras kepala. Untuk saat ini lebih baik dia mengalah demi ketenangan bersama.
"Daddy akan kembali, sekarang bantulah Daddy membujuk Mommy biar memaafkan, Daddy," lirih Dev sebelum naik mobil.
Krish menatap ibunya seraya memohon, dia butuh sosok ayah yang dia rindukan selama ini. Sudah cukup mendapatkan hinaan yang tidak diketahui ibunya. Krish selalu mendapatkan perlakuan buruk karena hanya dia yang tak memiliki orang tua yang utuh.
Bahkan, kerap kali dia mendapatkan kata-kata kasar seperti anak haram. Apa lagi selama ini dia memang tidak tahu siapa ayah kandungnya, untuk sekedar potret nya pun dia tak tahu rupanya.
Neha dan Akram menyaksikan itu semua, mereka pun ikut menangis karena Krish begitu memohon, tapi ibunya malah cuek. Mungkin benar apa kata Dev, Kiran hanya butuh waktu. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, begitu banyak rintangan yang dia hadapi dari sejak Krish masih dalam kandungan.
Siapa yang ingin hidup tanpa pendamping? Orang yang selalu dia cinta dan dia puja nyatanya mencampakkan nya begitu saja. Andai Neha berada di posisi itu, mungkin dia juga tak sanggup menghadapi mulut tetangga yang berbisa melebihi seekor ular. Kiran hanya butuh waktu untuk menerima Dev kembali. Rasa sakit yang ditorehkan memang butuh waktu untuk sembuh.
Akhirnya, dengan berat hati Dev pun pergi meninggalkan rumah reot yang tak layak dihuni itu. Dia akan kembali besok dan perlahan dia akan membujuk Kiran kembali menerimanya, bagaimana pun dia berhak atas Krish karena dia sebagai ayah biologis nya.
"Mommy jahat, Mommy tidak sayang, Krish." Bocah itu merajuk meninggalkan Kiran yang perasaannya masih tidak karuan.
"Krish!" panggil Kiran.
Tapi Krish tidak peduli, bolehkan dia egois untuk kali ini saja? Dia ingin memiliki ayah seperti teman-temannya yang lain.
"Kiran, aku dan suamiku pulang dulu ya? Aku harap kau pikirkan ini matang-matang. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, aku harap kamu mau melakukan itu untuk anakmu," ucap Neha.
Neha dan suaminya pun pamit.
__ADS_1
***
Keesokan paginya.
Dev datang sesuai janjinya, pagi ini dia datang membawakan mainan juga baju yang bagus untuk Krish. Tak lupa dia membawakan makanan kesukaan putranya, karena waktu Krish diajak ke restoran, bocah itu banyak cerita. Tanpa terasa, Dev malah meneteskan air mata. Dia masih berdiri di ambang pintu.
Krish jarang sekali mendapatkan makanan yang enak, sedangkan dia selama ini hidup berkecukupan. Dev sendiri tidak bisa memaafkannya karena tanpa dia ingin, dia telah membuat kedua orang yang berarti dalam hidupnya, hidup menderita.
Dan mulai saat ini dia akan menebus semua semua kesalahan nya. Belum sempat Dev masuk, dia mendengar keributan di dalam. Entah apa yang terjadi, yang jelas dia mendengar Kiran marah.
"Krish, Mommy bukannya tidak sayang, tapi dia tidak membutuhkan kita, dia membuang kita, Krish!" tegas Kiran.
Berulang kali anaknya memohon agar ibunya mau memaafkan daddy-nya. Dan Kiran masih tetap pada pendiriannya, dia belum bisa memaafkan Dev dengan mudah. Lima tahun tak sebanding dengan kata maaf, dia hidup menderita selama ini. Dan dengan mudahnya lelaki itu datang dan meminta maaf setelah apa yang terjadi.
"Tapi aku ingin punya daddy, Mommy. Aku ingin seperti teman-temanku yang lain."
Kiran tidak ingin mendengar rengekan anaknya, dia malah pergi ke belakang untuk bekerja. Cuciannya hari ini cukup banyak, seharusnya semalam waktu dia mencuci pakaian, tapi kejadian tak terduga terjadi.
"Mommy, Mommy!" teriak Krish. Tubuh mungil itu merosot, Krish berjongkok di sudut dinding dalam keadaan memeluk kedua lututnya. Wajahnya yang menggemaskan bersembunyi di kedua lututnya itu.
Krish menangis sesegukkan, sampai dia menoleh karena karena mendengar suara pintu terbuka.
"Daddy." Manik matanya bersinar, dalam sekejap wajah Krish bersinar.
__ADS_1
Dev menghampiri lalu memperlihatkan apa yang dia bawa. Jelas Krish bahagia. Tidak pernah dia memiliki mainan sebagus itu. Ada mobil-mobilan, motor-motoran, juga banyak lagi yang lainnya. Namun, ada salah satu yang membuat Krish semakin tertarik, perutnya yang lapar mencium aroma makanan.
"Apa Daddy bawa makanan?" tanya Krish dengan polosnya.
"Iya, Daddy bawakan makanan banyak. Daddy juga bawakan baju untukmu, hari ini Daddy akan mengajakmu pergi jalan-jalan.
"Hore, jalan-jalan." Krish semakin senang dibuatnya.
"Di mana, Mommy?" tanya Dev pada Krish.
"Di belakang, Daddy. Mommy sedang kerja," jawab Krish.
"Kerja?" tanya Dev, dia tidak tahu pekerjaan apa yang dilakukan kekasihnya itu.
"Iya, Mommy suka mencuci baju-baju tetangga setelah pulang kerja dari restoran," jelas Krish.
Hati Dev mencelos. Begitu sakit dia mendengar hal itu, karena penasaran Dev segera ke belakang untuk menemui Kiran. Namun, lagi-lagi dia merasakan sakit yang luar biasa. Pemandangan yang dia lihat sungguh memprihatinkan. Kiran tengah berjongkok sambil memangku piring, mungkin wanita itu tengah mengganjal perutnya yang lapar.
Sebelum bekerja tentu dia harus punya tenaga. Entah apa yang dimakan wanita itu, itu seperti sepotong roti. Entah enak atau karena lapar, Kiran memakan makanan itu dengan lahap. Lalu, wanita itu minum dengan dua gelas. Persis apa yang Dev lakukan jika sedang lapar, dia pun mengalami hal itu. Rasa lapar yang tidak bisa ditahan, demi mengenyangkan perutnya dia minum dengan banyak.
Dev masih memperhatikan Kiran dari kejauhan. Setelah makan, wanita itu melanjutkan aktivitasnya. Kiran mulai mencuci baju, dan hati Dev teriris. Ini yang dilakukan kekasihnya setiap hari, pekerjaan yang tidak pernah dilakukan wanita itu.
"Kiran," panggil Dev.
__ADS_1