
"Kalian ngapain bisik-bisik?" Kiran menatap curiga suaminya dengan Sunil.
"Tidak, kami hanya bicara soal pekerjaan," jawab Dev berbohong.
"Oh, ayo masuk," ajak Kiran kemudian. Dia tidak memperhatikan adiknya, padahal sudut bibir wanita itu masih terluka akibat serangan dari suaminya.
Sebisa mungkin, Syiha menutupi luka tersebut. Keluarganya tidak boleh tahu soal rumah tangganya yang sedang tidak baik-baik saja.
Dan hari ini, keluarga Mohan tengah berkumpul. Lelaki paruh baya itu bisa tersenyum melihat keluarganya yang utuh.
"Syiha, kenapa suamimu tidak ikut? Padahal, momen ini Ayah sangat merindukan nya. Kenapa akhir-akhir ini suamimu jarang berkunjung?" Pertanyaan itu membuat semua yang ada di ruang makan menatap Syiha.
Kiran menatapnya dengan menelisik, sampai akhirnya, dia melihat ada luka di sudut bibir adiknya itu. Kiran tidak secara langsung bertanya, dia tahu betul bagaimana sikap ayahnya. Dia tak akan mengundang kecurigaan pada lelaki itu.
***
Setelah selesai sarapan. Kiran mengajak adiknya untuk berbicara, tanpa berbasa-basi lagi dia langsung menanyakan soal rumah tangga adiknya itu.
"Apa yang kamu sembunyikan dari kakak?" tanya Kiran.
__ADS_1
"Maksud, Kakak?" Syiha pura-pura tidak mengerti, bahkan sejak tadi dia memalingkan wajahnya. Tak berani melihat ke arah Kiran walau hanya sejenak.
Kiran langsung menangkup kedua pipi adiknya itu. Melihat sorot mata yang begitu banyak beban dan luka.
"Kamu tidak bisa menyembunyikan ini dari Kaka, Syiha. Kenapa dengan suamimu? Kenapa dia tega menyiksamu?" tanya Kiran.
Syiha tak berkutik, bibirnya bungkam karena tidak bisa membela sang suami. Itulah kebenarannya, suaminya menyiksa fisik. Tak hanya itu, dia mendapati tanda merah di tubuh suaminya. Dia tahu tanda merah apa itu, sebuah gigitan kecil yang pastinya seusai bercinta.
Syiha meluapkan emosinya saat itu juga. Dia menangis di pelukan kakaknya.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega." Kiran mengusap punggung adiknya dengan lembut.
Tapi sayang, itu sudah bukan lagi rahasia. Mohan mendengar percakapan kedua putrinya. Kali ini, Mohan langsung bertindak. Dia akan turun tangan secara langsung. Tidak ada yang boleh menyakiti anak-anak nya
Jika ada, itu akan berhadapan langsung dengannya.
***
Syiha sudah jauh lebih tenang karena Kiran mengajaknya untuk berbicara mengenai semuanya.
__ADS_1
"Jangan pikirkan soal itu, Sanju tidak akan kekurangan kasih sayang. Dev bisa memberikan kasih sayangnya layaknya seorang ayah, Sanju akan mendapatkan itu darinya," kata Kiran.
"Terima kasih Kak."
"Jangan berterima kasih seperti ini, kau itu adikku. Sudah sepantasnya aku melakukan ini padamu."
"Iya, Kak."
Karena waktu sudah mulai sore, Dev mengajak istri dan anaknya pulang. Apa lagi dia ada acara minggu dekat ini. Dev akan mengadakan konser besar-besaran. Yaitu, dia akan duet bersama putranya. Krish tak kalah memiliki suara yang merdu seperti dirinya.
Tapi, Kiran dan Dev menunggu Mohan. Lelaki itu tak kunjung muncul, tidak ada yang tahu kemana lelaki itu pergi.
***
"Kau akan menyesal, Smith! Kau siksa putriku, dan kau akan mendapatkan siksaan yang lebih dari itu."
Beberapa kali Mohan memberikan sebuah cambukan di tubuh menantu yang tidak tahu diri itu. Apa lagi, Mohan mendapati Smith tengah bersama seorang wanita di rumahnya sendiri.
Smith mengaduh dan meminta ampun, lelaki itu sudah tidak berdaya. Tubuhnya dipenuhi luka.
__ADS_1
"Luka ini tak seberapa dengan luka putriku, kau lelaki yang tidak tau diri. Aku diam bukan berarti tidak tau, Smith. Syiha selalu menutupi kesalahanmu, aku sudah curiga sejak dulu. Kau sudah jarang menemani istrimu, kau sibuk dengan duniamu. Dan ini hukuman untukmu. Kau tinggal menunggu perceraian itu tiba!"