
Sunil bernapas lega setelah sampai di apartemen milik Dev. Dia masih bisa menyembunyikan keadaan Krish yang terluka olehnya. Tapi dia tidak tahu sampai kapan rahasia itu terbongkar. Mungkin saja besok dia ketahuan bahwa dia telah lalai menjalankan tugasnya.
"Paman Sunil, apa mommy dan daddy masih lama?" tanya Krish.
"Ya, sepertinya masih lama. Krish tidur lah duluan, apa perlu Paman temani?" tawar Sunil.
"Iya boleh, Paman. Tapi biasanya mommy membacakan dongeng sebelum aku tidur, aku tidak bisa tidur kalau tidak seperti itu," kata Krish.
"Dongeng? Paman tidak bisa bercerita, Krish. Di sini juga tidak ada buku dongeng yang bisa Paman bacakan untukmu. Bagaimana kalau Kris dengar kisah Paman sewaktu kecil?"
"Apa itu menarik?" tanya Krish, tapi dia tidak yakin karena melihat wajahnya yang serius apa ada masa kecilnya yang menarik?
"Oke, Krish dengarkan Paman ya? Semoga cerita ini bisa mengantarmu ke alam mimpi. Pada suatu hari, Paman masih kecil. Tapi cita-cita Pama ingin jadi polisi, terus ibu tidak membolehkannya karena tidak punya biaya. Terus Paman--" Cerita itu terhenti saat melihat Krish yang sudah memejamkan mata.
"Secepat itu dia tidur? Apa iya harus ada dongeng?" pikirnya. "Tapi bagus deh, aku jadi bisa pergi dari sini, mumpung Dev belum pulang."
Pada saat Sunil beranjak, nyatanya pintu apartemen terbuka. Canda tawa Dev dan Kiran terdengar di pendengarannya.
"Mereka sudah pulang, bagaimana ini? Dev bisa ceramah malam ini, aku tidak siap mendengar ceramahnya. Apa aku pura-pura tidur saja? Sepertinya itu ide bagus, tapi di mana aku tidur?" Dia melihat Krish yang sudah tidur pulas, tidak ada pilihan lain selain tidur dengan bocah itu. Tidak peduli dengan mereka yang akan tidur di mana, yang jelas dia harus cari aman.
***
__ADS_1
"Dev," panggil Kiran.
"Ya, ada apa?" tanya Dev.
"Lihat, yang kau tunggu malah tidur. Mereka sudah tidur ternyata," ujar Kiran.
"Ish, kurang ajar! Berani sekali dia tidur di sini." Dev berniat membangunkan Sunil, tapi di cegah oleh Kiran.
"Biarkan saja dia tidur, mungkin dia capek." Sebenarnya Kiran berhutang budi pada lelaki itu, berkatnya dia dan putranya bisa selamat. Karena Sunil baik, dia pun meminta pada Dev untuk membiarkan Sunil tidur bersama Krish.
"Apa tidak apa-apa dia tidur di sini? Nanti kamu tidur di mana?" tanya Dev.
"Aku bisa tidur di mana saja, di lantai pun aku sudah biasa," kata Kiran.
"Aku tidak akan membiarkanmu tidur kedinginan." Dev malah membopong tubuh Kiran ala bridal Style. "Kita bisa tidur di sofa," tukas Dev.
***
Lampu di matikan, keadaan di ruangan itu sudah cukup gelap. Dev menjatuhkan tubuh Kiran di sofa, lalu dia menindihnya. Membelai pipi wanita itu dengan lembut. Lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir.
"Sutthh, mereka sudah tidur. Tidak ada yang tau," bisik Dev.
__ADS_1
Rasa rindu itu sepertinya tidak bisa lagi ditahan. Wanita yang ada di hadapannya
akan menjadi istrinya dalam hitungan hari. Dev akan segera menikahi Kiran meski tanpa restu.
Perlahan, Dev mengecup kening wanita itu. Tangannya mulai menjelajah ke arah kancing baju kekasihnya. Kancing satu terlepas, lalu dilanjut dengan kancing kedua.
Kiran mengalungkan tangannya di leher lelaki itu, dengan penerangan seadanya Kiran dapat melihat manik indah itu dengan jelas. Dev menyalakan senter ponsel sebagai penerangan.
Sampai akhirnya, senter ponsel pun m
benar-benar padam karena suasana sudah mulai berubah. Ada hawa panas yang menjalar menguasai tubuh mereka. Setelah mendapatkan ujian, nyatanya cinta mereka semakin besar. Tidak ada lagi ragu dari wanita itu pada lelakinya.
"Aku mencintaimu, Kiran," bisik Dev.
"Aku juga mencintaimu, Dev." Kiran membalas perlakuan lelaki itu.
Namun, mereka tidak menyadari bahwa dalam kegelapan itu ada yang mendengar suara lenguhan percintaan mereka. Status Sunil yang sebagai lajang itu hanya bisa menelan salivanya kuat-kuat.
"Ya ampun, Dev. Kenapa kau melakukan itu di sini sekarang? Apa kau tidak kasihan padaku yang jomblo ini?" gumam Sunil.
____
__ADS_1
Rekomendasi hari ini, jangan lupa mampir ya 🥰🥰