
"Krish, Mommy datang. Ayo kita pulang," teriak Kiran di luar rumah Neha.
Dan putranya pun keluar dengan semangat. Krish tersenyum bahagia saat ibunya membawa sesuatu di tangan. Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat darah di baju ibunya.
"Mommy, itu darah?" tanya Krish. "Mommy tidak apa-apa 'kan?"
"Tidak, Mommy tidak apa-apa," jawab Kiran. Tapi tubuhnya gemetar setelah menolong orang tadi. Lalu, dia menoleh ke arah dalam rumah. Dia mendengar suara tv dari dalam.
Neha melihat kabar berita hari ini. Dia sangat terkejut bahwa aktris terkenal itu kecelakaan. Neha langsung beranjak karena dia ingin memberitahukan soal kecelakaan itu pada Kiran. Namun, nyatanya ia melihat wanita itu mematung di ambang pintu. Tatapannya tidak teralih dari layar televisi.
Tubuh Kiran masih bergetar. Tapi sebisa mungkin dia bersikap biasa saja. Dia tak ingin putranya tahu bahwa dialah yang menolong Dev dan membawanya ke rumah sakit.
"Kiran, kamu berdarah." Neha terlihat khawatir, dia takut terjadi sesuatu padanya.
"A-aku tidak apa-apa Neha," kata Kiran. Lalu ia membalikkan tubuhnya untuk meraih tangan anaknya. Tapi Krish melihat tayangan di layar kaca.
"Mommy, paman Dev." Krish langsung membekap mulutnya sendiri karena dia sudah lancang menyebut nama laki-laki itu, laki-laki yang tidak ingin di dengar oleh ibunya. "Ayo kita pulang," ajak Krish kemudian. Tapi dia terus melirik ke arah tv, sepertinya dia begitu khawatir dengan penyanyi itu. Rasanya dia ingin sekali menemui Dev, tapi rasa takut itu lebih dominan.
"Neha, aku akan pulang sekarang. Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Darah ini milik orang lain tadi aku menolong seseorang," jelas Kiran.
__ADS_1
"Apa Mommy yang menolong paman Dev?" Lagi-lagi Krish keceplosan, rasa khawatir itu nyatanya tak bisa disembunyikan. Ikatan batin mereka cukup kuat setelah bocah itu bertemu untuk yang kedua kalinya. "Maaf, Mommy," sesal Krish yang merasa bersalah atas kesalahan yang telah dia lakukan barusan.
"Kita pulang, Mommy bawakan makanan untukmu." Kiran langsung menuntun putranya dan mengajaknya pulang.
***
Di rumah sakit
Keadaan Dev baik-baik saja, lelaki itu baru tersadar. Dan saat ini dia tengah melamun, kenapa dia merasa tadi Kiran ada bersamanya. Sayup-sayup matanya melihat sosok wanita itu, suara itu terdengar dengan sangat jelas saat namanya disebut oleh seseorang dalam setengah sadarnya.
"Kau sudah sadar?" tanya seorang pria. Dia adalah Sunil, pengganti Rohit. "Kau pergi terlalu lama, terus kudengar kau masuk rumah sakit. Kau membuatku khawatir, Dev," katanya.
"Siapa yang membawaku kemari?" tanya Dev. Seingatnya tadi dia mabuk, terus hampir menabrak seorang wanita sampai akhirnya dia membanting stir terus malah menabrak pohon, setelahnya dia tidak tahu apa-apa.
"Panggil suster itu kemari," titah Dev.
Sunil pun keluar untuk memanggil suster. Suster pun datang dan langsung ditanya oleh Dev. "Siapa yang membawaku kemari?"
"Saya tidak tau namanya, dia hanya mengisi formulir sesuai data Anda Tuan," kata suster. "Ini kartu identitas, Anda." Suster itu memberikan dompet dan sebuah jepit rambut yang tadi sempat ada di genggamannya.
__ADS_1
Sunil menerima dompet juga jepit rambut itu.
"Apa kau bersama wanita saat kecelakaan?" tanya Sunil pada Dev.
Dev yang terkejut pun langsung menatap wajah Sunil. Alisnya berkerut karena bingung. Sunil tahu bahwa setelah berpisah dengan Madhuri dia tak lagi menjalin hubungan dengan wanita mana pun, terlebih saat tahu soal Kiran yang berbadan dua yang dia yakini bahwa wanita itu mengandung benihnya.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Mana mungkin aku bersama wanita," jelas Dev.
"Ini, ada jepit rambut," kata Sunil.
"Iya, Tuan. Jepit rambut itu tadi ada dalam genggaman, Tuan," sahut suster.
"Jepit rambut?" ulang Dev.
"Mungkin ini milik perempuan itu, Dev. Wanita yang membawamu kemari," timpal Sunil. "Ini, simpanlah. Mungkin ini bisa jadi barang bukti untuk mencari siapa yang menolong mu tadi."
Dev menerima jepit rambut itu. Dia melihatnya dengan teliti, sepertinya dia mengenali jepit rambut itu. Jepit rambut yang persis dia berikan pada Kiran saat wanita itu ulang tahun.
"Berarti aku tidak mimpi, Sunil. Wanita yang menolongku adalah perempuan ku, dia wanita ku. Kekasihku." Andai dia sedang tidak terluka, rasanya dia ingin berlari keluar untuk mencarinya. Tapi rasa sakit di kepala dan di dada tidak bisa membuatnya terbangun.
__ADS_1
"Dev, keadaanmu sedang tidak baik-baik saja. Kita akan mencarinya setelah kau benar-benar sembuh. Kau harus yakin bahwa dia akan kembali padamu," kata Sunil.
"Kiran, aku yakin kau yang menolongku. Aku akan mencarimu," gumam Dev.