
Dev tiba di tempat kumuh, sambil membawa secarcik kertas di tangan. Dia mencocok kan alamat yang tertera di selembar kertas itu. Dev melihat bangunan yang sangat kumuh, tapi cukup bersih dari debu.
"Apa ini rumahnya?" tanya Dev sendiri. "Permisi," ucap Dev.
Pintu terbuka, lalu muncul sosok wanita. "Ya, cari siapa?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Neha.
"Apa benar ini rumah, Krish?" tanya Dev.
"Krish? Siapa, Krish? Saya sudah tinggal di sini cukup lama, tapi tidak ada yang namanya Krish di sini," jawab Neha.
"Oh ya? Tapi ini benarkan alamatnya di sini?" Dev memperlihatkan selembar kertas itu.
"Iya, memang benar ini alamatnya. Tapi Anda salah orang, saya tinggal berdua dengan suami saya di sini," jelas Neha.
"Oh, begitu ya. Apa Anda mengenalku?" tanya Dev lagi.
Neha menggelengkan kepala. "Maaf, saya tidak mengenal, Anda," jawab Neha. Lalu dia menoleh ke belakang, berharap orang yang ada di dalam sana tidak menimbulkan suara apa lagi sampai lelaki itu curiga.
"Baiklah, maaf saya sudah mengganggu." Dev pun akhirnya undur diri. Tapi dia terus menoleh kearah rumah kumuh itu. Semangat yang menggebu nyatanya sirna, orang yang memberikannya alamat itu ternyata membohonginya. Rasanya sia-sia sudah membayarnya dengan mahal.
__ADS_1
***
Kiran bernapas lega, dia terpaksa membekap mulut Krish agar tidak menimbulkan suara.
"Mommy, siapa yang datang? Kenapa kita harus bersembunyi, apa dia orang jahat?" tanya Krish dengan polos.
"Iya, sayang. Dia orang jahat yang akan memisahkan kita, mulai sekarang jangan keluar rumah tanpa Bibi Neha ya?" ujar Kiran.
"Iya, Mommy. Mulai saat ini aku akan nurut, aku tidak mau Mommy marah padaku lagi," kata Krish. "Tapi kapan Mommy bawakan aku daging lagi? Sudah satu minggu aku hanya makan roti tanpa isi, bosan, Mommy," keluh Krish.
"Hari ini Mommy dapat upah, Mommy akan belikan daging untukmu," kata Kiran.
"Iya, Mommy akan membelikan semuanya untukmu. Kamu cukup nurut apa kata Mommy dan Bibi Neha," jelas Kiran.
Neha yang berada di sana selalu meneteskan air mata jika mendengar percakapan ibu dan anak itu. Sangat mengkhawatirkan, ingin rasanya membantu. Tapi sejak kebakaran itu terjadi membuat hidupnya jadi pas-pasan. Dia pun sama-sama berjuang hidup.
"Neha, apa dia sudah benar-benar pergi?" tanya Kiran.
"Aku rasa sudah, dia percaya dengan ucapan ku," jawab Neha. "Kalau begitu aku harus pulang, aku harus masak. Suamiku nanti marah kalau dia tau aku belum menyiapkan makan untuknya."
__ADS_1
"Terima kasih, Neha. Kau begitu baik," ujar Kiran.
"Berhenti lah mengucapkan terima kasih, aku bosan mendengarnya." Kiran hanya tersenyum.
"Kalau tidak keberatan sekalian ajak Krish ke rumahmu, aku akan pergi sebentar. Aku tidak akan lama, aku hanya pergi untuk membeli makanan untuk, Krish," tutur Kiran.
"Hore." Krish jingkrak-jingkrak karena senang. "Ya udah, ayo," ajak Krish pada Neha.
"Lihat, anakmu semangat sekali." Neha menertawakan bocah itu. "Pergilah, aku dan Krish pun akan pergi," titah Neha kemudian.
"Baiklah, tunggu Mommy pulang. Nanti Mommy akan menjemputmu." Sebelum pergi Kiran mencium pucuk kepala Krish.
***
Kiran berada di toko makanan, dia memilih makanan apa saja yang akan dibelinya. Sesuai permintaan Krish, dia membeli roti isi daging juga buah dan yang lainnya. Hari ini dia membeli makanan cukup banyak, demi memuaskan putranya.
Kiran tersenyum saat dalam perjalanan pulang. Hari ini dia bahagia karena upah yang didapat lumayan besar dari sebelumnya. Kiran pulang berjalan kaki, karena dompetnya lumayan terkuras. Tapi tak mengapa, itu semua demi Krish.
Saat di jalan, ada mobil oleng dan hampir saja menabrak Kiran. Tapi beruntung dia bisa menghindar. Namun, mobil itu menabrak pohon. Jalanan cukup sepi sehingga tak ada yang menolong. Akhirnya Kiran menghampiri mobil yang kecelakaan itu. Mobil itu mengeluarkan asap dari bagian depan mobil.
__ADS_1
Kiran mencoba membuka pintu mobil dengan meraih pengait dari jendela yang sedikit terbuka. Kiran berhasil membuka pintu itu, lalu menarik tubuh yang tersungkur di stir kemudi, betapa terkejutnya Kiran saat melihat pengemudi yang kecelakaan itu.