
Di kediaman Mohan.
Keberadaan Kiran dan Krish membuat rumah yang dulu sepi kini kembali terasa hangat. Terdengar suara tawa di rumah besar itu. Gauri yang dulu sering merindukan putrinya kini tidak akan lagi merasa kehilangan, kebahagiaan nya telah kembali.
Bahkan, Mohan yang kehilangan tawanya tengah bermain bersama kedua cucunya.
"Kakek, aku juga mau digendong," pinta Sanju anak dari Syiha.
"Tentu, sini." Mohan menggendong kedua cucunya dalam bersamaan. Kedua bocah itu diapit di tangan kanan dan kirinya.
Dan pemandangan itu, tak luput dari pantauan Kiran. Wanita yang tengah berbadan dua itu akhirnya merasakan kebahagiaan setelah melewati banyak cobaan. Tangis itu terganti dengan sejuta kebahagiaan.
"Dev." Kiran merasakan sebuah lengan melingkar di pinggangnya, dua tahu siapa pemilik raga itu. Siapa lagi kalau bukan suaminya.
Dev menyangga dagunya di bahu istrinya itu. Hembusan napas lelaki itu dapat dirasakan oleh Kiran. Kiran menoleh ke arah suaminya. Mereka berdua sama-sama melihat kearah Krish yang tengah bermain di ruangan sana.
"Penantianku akhirnya terbayar, Dev. Aku merasa bahagia saat ini," ucap Kiran.
"Aku juga, sayang." Dev mencium pipi istrinya dari samping. "Dan kebahagiaan kita sebentar lagi bertambah," bisik Dev.
Kiran menyentuh perutnya, ada janin yang tengah berkembang di dalam sana. Kehamilannya yang sekarang tidak akan seperti kehamilan yang pertama, yang di mana dia melakukan segala sesuatunya sendiri. Kini, ada sang suami yang akan menjaga dan memenuhi semua yang dua butuhkan. Tak hanya materi yang dia dapat, tapi kasih sayang dari orang yang dia cintai.
***
__ADS_1
Hari ini, keadaan Syiha sudah jauh lebih baik. luka lebam itu bisa ditutupi dengan make-up nya. Hanya saja, luka di sudut bibir itu masih terasa perih. Syiha sangat berterima kasih pada Sunil karena lelaki itu sudah menolongnya. Namun, dia tidak bisa terus berada di apartemen Sunil.
Syiha keluar dari dalam kamar, dia menemui Sunil yang tengah menikmati secangkir kopi yang dia buat sendiri. Lelaki itu tengah menatap gedung-gedung tinggi dari jendela. Derap langkah dari arah belakang membuat Sunil menoleh.
Lelaki itu tersenyum manis, lalu menghampiri Syiha.
"Aku sudah siapkan sarapan untukmu," kata Sunil. "Apa kau ingin kopi atau teh?" tanya Sunil lagi.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak biasa minum kopi atau teh di pagi hari," tolak Syiha secara halus.
"Hem, baiklah." Sunil tak memaksa akan hal itu, dia hanya ingin wanita itu sarapan pagi ini.
___
"Apa rencanamu sekarang?" tanya Sunil.
"Aku akan mengurus perceraian dengan Smith, aku masih bisa menerima siksaan darinya. Tapi jika sudah menyangkut soal putriku yang tidak dianggap aku tidak bisa terima." Syiha memang sudah mengumpulkan semua bukti soal siksaan yang dilakukan oleh suaminya, dan hari ini setelah berpikir matang-matang dia sudah siap.
Jika dulu dia diam karena memikirkan orang tuanya, dia tidak ingin menambah beban keluarganya. Masalah kakaknya sudah cukup menjadi beban pikiran mereka. Karena masalah Kiran sudah, maka tidak ada lagi untuknya menunda dan membebaskan diri dari suaminya yang ternyata hanya mengincar kekuasaan.
"Sunil, terima kasih kau sudah menolongku. Aku akan pulang sekarang," kata Syiha.
"Aku akan mengantarmu, aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja. Lagian, aku mau menemui Dev di sana."
__ADS_1
"Kau tau mereka ada di rumah orang tuaku? Apa semalam kau mengikuti ku?"
Sunil terdiam, tidak bisa menjawab karena memang benar adanya. Dia mengikutinya karena merasa khawatir. Entah kenapa dia tidak ingin melihat Syiha tersakiti.
***
Akhirnya, Syiha diantar pulang oleh Sunil. Tidak ada yang menduga bahwa mereka semalam berdua di tempat yang sama. Sunil cukup pandai memainkan peran nya.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi, jadi sekalian saja aku ajak bareng," jelas Suni saat tiba di rumah orang tua Kiran.
"Oh ya? Sejak kapan kau suka memberi tumpangan pada orang?" Dev tahu betul siapa Sunil, apa lagi lelaki itu tidak mudah bergaul dengan yang namanya perempuan. Dari sudut pandangnya Dev menangkap sesuatu dari mata sang managernya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dev dengan cara membawa Sunil sedikit menjauh dari istri juga adik iparnya itu.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Tidak ada yang terjadi antara aku dengannya," jelas Sunil.
"Bukan itu pertanyaan ku, kenapa malah menduga ku seperti itu? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu di antara kalian?" Dev malah menduga lebih dari yang dia pikirkan.
Sunil merasa terjebak dengan ucapannya sendiri. "Tidak, aku tidak ada apa-apa dengan adik iparmu," sangkal Sunil.
"Jangan bermain api, Sunil. Syiha memiliki suami dan kau tau itu."
"Tapi Syiha akan menggugat cerai lelaki itu," kata Sunil.
__ADS_1
"Apa?" Dev terkejut.