
"Mommy, apa kau tidak ikut makan bersamaku?" tanya Krish dengan berteriak.
Pasalnya, Kiran belum keluar dari kamar mandi setelah hampir satu jam. Dia pamit karena akan membersihkan diri terlebih dulu. Nyatanya, dia malah menangis tersedu-sedu. Dia kira membenci Dev adalah salah satu cara menghilangkan perasaan itu. Tapi dia salah, semakin dia mencoba melupakan, dia semakin merindukan.
Di balik canda tawanya tersimpan kesedihan yang begitu dalam. Hidupnya hancur, mungkin jika tidak ada Krish di dunia ini entah akan seperti apa hidupnya sekarang.
"Dev." Kiran mencium bajunya yang berlumur darah. Masih ingat betul dengan kejadian tadi, kejadian yang hampir membuatnya takut. Takut lelaki itu mati dan Krish selamanya tidak akan memiliki sosok ayah.
Bayang-bayang wajah Dev yang penuh dengan darah membuatnya semakin tak bisa melupakan pria itu. Dia belum tahu bagaimana kondisi lelaki itu setelah dapat penanganan.
Setelah lamanya tidak bertemu, dia dikejutkan dengan pertemuan yang sangat mengkhawatirkan. Dia ingat betul saat dalam perjalanan menuju rumah sakit tadi.
"Dev, kau harus bertahan," lirih nya saat itu.
Dev berada dalam pangkuannya, kepalanya bersandar dan pahanya sebagai bantalnya. Itu kenapa pakaiannya berlumur darah pria itu. Dia juga masih ingat saat Dev setengah sadar menyentuh rambutnya sambil mengucapkan namanya.
Sampai akhirnya, Kiran terkesiap. Lalu dia menyentuh rambutnya. Baru sadar bahwa jepit rambut yang dia gunakan ternyata sudah tidak ada di tempatnya. Jepit rambut yang selalu dia gunakan sehari-hari, dan itu adalah pemberian dari Dev.
"Mommy!" panggil Krish untuk kesekian kalinya.
"Ya, Krish. Mommy belum selesai," jawab Kiran.
__ADS_1
Tak lama, dia pun keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang buah hati tengah mematung di depan pintu sambil bersedekap tangan di dada. Bocah itu merasa kesal karena menunggu ibunya yang tak kunjung keluar. Padahal dia menunggunya karena ingin makan bersama.
"Kenapa lama sekali? Aku sudah sangat lapar," cetus Krish. Dia melihat mata ibunya merah. "Mommy menangis?" tanya nya. Untuk yang pertama kalinya dia melihat ibunya menangis. Selama ini, yang dia tahu ibunya wanita yang tegar. Selalu tersenyum jika sekali pun masalah datang.
"Tidak, Mommy tidak menangis. Ini tadi kena air sabun," jawab Kiran berbohong.
"Begitu ya, kalau gitu cepatlah pakai baju. Terus kita makan," ajak Krish.
Kiran mengangguk lalu segera pergi mengambil baju dan memakainya.
***
Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit akhirnya Dev diperbolehkan pulang. Tapi dia belum bisa beraktivitas seperti semula. Dia harus menjalani perawatan di rumah, dadanya terkadang masih terasa sakit akibat benturan kena stir kemudi.
"Aku yakin ada kesalahpahaman antara aku dan dia, dan itu semua karena Rohit. Jika dia berani membohongi ku, aku rasa dia juga membohongi Kiran. Dia sengaja memisahkan aku dan kekasihku, Sunil. Dan bodohnya aku terlalu percaya padanya."
Sampai akhirnya dia memiliki ide yang dia yakin bahwa Kiran pasti melihatnya. Dev merencanakan sesuatu. Dia akan mengundang wartawan untuk datang ke rumah impiannya yang akan dihuni bersama Kiran. Mungkin dengan begitu Kiran akan tahu bahwa selama ini dia pun kehilangannya.
Dan Sunil setuju dengan ide, Dev. Dia yakin, seluruh dunia akan tahu bahwa selama ini Dev memiliki kekasih, hanya saja terpisah karena kesalahpahaman.
"Aku juga akan menyebarkan foto Kiran ke sosial media dan aku akan meminta kepada siapa pun. Siapa saja yang melihat Kiran harus memberitahuku, bagaimana? Apa ide ku bagus?" tanya Dev.
__ADS_1
"Good, kenapa kau tidak lakukan itu sejak dulu?"
"Aku tidak kepikiran, yang aku tahu dia sudah menikah. Kau tahu hidupku hampir hancur, bahkan karier ku pun sempat meredup hanya karena aku sering pergi ke bar, dan menghabiskan waktu ku di sana."
"Iya, dulu kau itu terlalu bodoh," ledek Sunil.
Kedekatan mereka membuatnya tidak canggung sama sekali. Karena Dev percaya pada Sunil, dia tidak seperti Rohit yang sama-sama mencintai Kiran.
***
Baru juga rencana, tapi kabar berita itu sudah tersebar tentang Dev yang akan memberitahukan soal siapa yang menjadi kekasihnya selama ini. Bahkan, Krish pun selalu mencari informasi mengenai Dev dari berita di tv. Dia akan menunggu kapan tayangan itu diadakan. Ternyata, karena kebaikan Dev membuatnya mengidolakan sosok penyanyi itu.
Diam-diam, Krish sering ikut menonton TV di rumah Neha. Tanpa Kiran tahu bahwa bocah itu ingin melihat Dev di layar kaca. Sejak kecelakaan itu, Dev belum lagi mengadakan acara. Hanya kabar terhangat yang menjadi topik di televisi.
"Neha, kira-kira siapa kekasih paman Dev? Beruntung sekali orang yang dicintai lelaki itu," ujar Krish. Dia sengaja datang ke rumah Neha hanya untuk menonton tv.
"Masih kecil sudah tau cinta, itu urusan orang dewasa. Anak kecil tidak perlu tau," kata Neha.
"Bibi Neha, jangan bilang Mommy ya kalau aku sering kesini hanya untuk melihat paman Dev, dia baik dan aku menyukainya. Andai dia orang tuaku, pasti aku bangga menjadi anak seorang penyanyi," tutur Krish.
Tanpa terasa, Neha malah meneteskan air mata. "Dia daddy mu, Krish. Dia orang tuamu," batin Neha.
__ADS_1
"Bibi Neha, Itu Paman Dev. Apa hari ini acara itu?" tanya Krish. Dia melihat rumah megah bak istana di layar kaca, lalu ada presenter yang mulai masuk ke dalam rumah itu.