
Makan malam itu terasa berbeda, tak henti-hentinya Kiran bergelayut manja di bahu sang ayah. Kiran sangat rindu dengan ayahnya itu karena dia cukup dekat sewaktu masih tinggal bersama.
Saking senangnya, Kiran sampai lupa ada kabar bahagia yang seharusnya dia beritahu. Sampai akhirnya, kebahagiaan itu terkuak karena Kiran merasa mual saat mencium aroma makanan yang cukup menyengat.
"Hoek." Kiran menutup mulutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Mohan.
"Kiran lagi hamil," sahut Dev.
Mohan langsung menoleh dan memberikan perhatian pada putri sulungnya itu. Dengan sigap dia mengambil air minum dan segera menyodorkan gelas pada Kiran.
Kiran malah terdiam melihat tangan sang ayah yang terulur padanya. Lalu, dia menoleh ke arah ayahnya itu. Mohan tersenyum dan Kiran juga tak kalah membalas dengan senyuman termanis nya.
"Kenapa tidak bilang kalau kau hamil, hah?! Tau gitu Ayah jauhkan makanan ini darimu," ujar Mohan.
"Ini tidak apa-apa, Ayah. Ngidam saat hamil Krish jauh lebih parah," kata Kiran.
Dev langsung menggenggam tangan istrinya saat mendengar penuturan wanita itu. Kiran pasti menangis saat teringat beberapa tahun silam yang di mana dia hidup sendiri dan begitu kesulitan soal ekonomi. Hidup sebatang kara dan harus menerima semua hinaan karena hamil tanpa sosok suami.
"Aku tidak apa-apa, Dev. Itu kan masa lalu," terang Kiran menenangkan suaminya. Karena dia tahu kalau lelaki itu akan terus merasa bersalah jika dia meneteskan air mata jika teringat kenangan pahit itu.
__ADS_1
Mohan tidak tahu apa saja yang telah dilalui anaknya sewaktu dulu. Betapa menderita Kiran membesarkan putranya, perutnya sering kelaparan dan sering mengalah demi putranya.
"Maafkan, Ayah," kata Mohan tiba-tiba. Melihat putrinya seakan menyimpan sesuatu sehingga dia berpikir pasti hidup Kiran terasa sulit.
"Kakek, kami banyak melalui masa sulit. Dan hari ini Mommy pasti bahagia karena berkumpul kembali, aku juga bahagia sekali," kata Krish yang mulutnya penuh dengan makanan. "Pokoknya hari ini adalah hari bahagia ku juga Mommy," jelas Krish.
"Ini juga kebahagiaan, Daddy," sahut Dev.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Mohan pada Syiha. "Kau pasti rindu dengan suamimu kan, kenapa tidak menyuruhnya kemari dan ikut bergabung di sini? Kapan lagi kita sekeluarga berkumpul?" kata Mohan.
"Iya, kemana suamimu? Harusnya meluangkan waktu di sini," timpal Gaury.
"Dia sibuk, Ibu," kata Syiha membela suaminya.
"Sudahlah, lain kali kita buat jadwal untuk pertemuan berikutnya," kata Kiran.
Berhubung sudah malam, acara makan malam itu akhirnya selesai. Mohan mengajak Kiran untuk bermalam di rumahnya, Kiran sangat senang mendapat tawaran itu. Tapi dia harus mendapatkan izin dari suaminya.
Dev menganggukkan kepala saat istrinya menoleh kearahnya. Tidak perlu izin karena dia pasti mengizinkannya. Kiran dan Krish sangat senang.
"Asyik, bisa tidur sama Kakek." Krish berjingkrak-jingkrak dengan senang.
__ADS_1
***
"Ayah, aku akan pulang ke rumah. Aku tidak bisa ikut bersama kalian," kata Syiha saat tiba di tempat parkir.
"Tapi aku mau ikut dengan Kakek, Mommy. Kuping ku sakit mendengar Daddy selalu berteriak pada Mommy," kata Sanju, putrinya.
Syiha langsung membekal mulut putrinya karena tak ingin keluarganya tahu soal masalah yang dia hadapi saat ini.
"Iya, sayang. Kau boleh ikut bersama Kakek dan Nenek," kata Syiha.
"Teriak-teriak bagaimana?" tanya Mohan penasaran.
"Bukan teriak-teriak, Ayah. Nada suamiku kan memang seperti itu," jelas Syiha.
"Maafkan aku membohongi kalian, kalian tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja. Aku akan menyelesaikan masalahku tanpa melibatkan kalian," batin Syiha.
___
Selamat malam dan selamat beristirahat. Bonus satu part lagi ini ya 😁
dan aku juga bawa karya teman, silakan mampir.
__ADS_1