
"Xia.. kamu baik-baik saja nak?!"
"Ibu, Xia mungkin telah mengalami mimpi buruk sebelumnya!"
Suara yang ku kenali seolah memanggil ku dari tempat yang tidak terjamah. Membuatku terbangun dan sadar bahwa diriku sedang terbaring di atas ranjang.
Aku mulai membuka mata.
Dimana aku melihat ibu dan ayah sedang menatapku dengan raut gelisah.
Aku masih diam, bukan berarti aku acuh karena keadaan. Melainkan aku berusaha mengingat sesuatu yang hampir terlupakan seluruhnya.
Beberapa saat berusaha mengingat, ingatan itu nyatanya telah hilang. Tak dapat aku ingat kembali untuk sekarang ini.
Sementara kedua orang tuaku tak habis-habisnya melihatku dengan pandangan sendu. Setelah mereka berdua sengaja membiarkan diriku untuk menenangkan diri.
"Ugh..."
"Xia?!"
Ibu akhirnya menunjukkan air mata kecil pada celah pelupuk matanya. Bisa kubayangkan betapa cemasnya ibu saat ini.
Sebelumnya pun dia sengaja membendung air mata demi kenyamanan suasana saat diriku menenangkan diri.
"Ibu..."
"Kamu mungkin mengalami mimpi buruk Xia, tapi melihat ekspresi mu tadi membuat ibu sedih..."
Ayah lalu mulai menjamah tubuh ibu dari belakang, pelukan hangat yang sepertinya mampu menghilangkan perasaan sedih.
Barusan kepalaku merasakan pusing sebelah dan samar samar ada ingatan terlintas dalam kepalaku.
Sekilas, sedikit menggambarkan suatu ruangan dalam kurun waktu perdetik. Membuatku susah untuk sekedar menjabarkan ruangan itu.
"Kepalaku sakit Bu..."
Mungkin karena sakit di kepala yang aku rasakan ingatanku menjadi tumpul.
"Tunggu sebentar ya... ibu akan ambilkan air putih sama obat. Ayah jaga Xia dulu!"
"Serahkan Xia kepadaku."
Meskipun ibu harus bergerak dengan kursi roda tapi ibu begitu cekatan jika berhubungan dengan hal penting baginya.
"Xia, kamu barusan bermimpi buruk bukan? Ayah dan ibu sebelumnya melihatmu dalam keadaan terlelap, namun kamu seperti mengatakan sesuatu yang tak bisa ayah pahami. Kata-kata yang kamu ucapkan hanya beberapa persen yang ayah mengerti!"
Sekarang aku ingat bahwa sebelumnya aku tengah bermimpi.
__ADS_1
Sayangnya ingatan tentang mimpi itu lenyap saat aku mencoba untuk mengingatnya, dan hampir saja ku ingat namun malah sebaliknya.
Tak dapat ku ingat saat ibu bertanya tentang keadaanku.
Di satu sisi aku masih mengingat, walaupun samar samar suatu ruangan dalam ingatan yang terlintas tadi. Tapi tidak sepenuhnya terlihat jelas. Ini malah membuatku semakin penasaran.
Apakah aku bermimpi atau dalam suatu kondisi di mana aku melupakan hal yang ku alami.
Bahkan ingatan mengenai ruangan itu ku rasakan seperti perasaan Dejavu yang mengalir dalam diriku. Tak asing lagi dengan ruangan itu.
Hanya saja seperti ada pembatas dalam kepalaku sehingga membuat ingatan samar samar itu tak bisa menjangkau terlalu dalam.
"Lihat. Air mata ini bisa menjadi bukti jika mimpi buruk yang kamu alami berhubungan dengan tragedi maupun kejadian yang membuatmu sedih di dalam mimpi, Xia!"
Aku termenung, ketika ayah memperlihatkan setetes air saat menyeka mataku.
Ibu kemudian datang dan membawakan aku air minum serta tablet berisi obat pereda pusing.
"Gimana, apa Xia sudah tenang sekarang?" tanya ibu lembut padaku dengan nada lirih serta mata penuh kekhawatiran.
"Um... aku baik-baik saja Bu, sakit di kepalaku juga mulai hilang."
"Syukurlah, ibu sebelumnya sangat khawatir kepadamu Xia. Ayo minum dulu, terus minum obatnya ya..."
"Iya Bu..."
"Tunggu. Itu berarti... sebelumnya... aku bermimpi persis seperti yang ayah gambarkan. Dan perasaan sedih yang tengah aku rasakan ini perlahan memudar."
Ibu dan ayah lalu menceritakan semuanya kepadaku, semuanya kurasa.
Dari kondisi saat aku tengah bermimpi sebelumnya seperti mengigau, ada raut kesal, yang tiba tiba menjadi sedih, dan teriakan tak terlalu keras seperti meneriaki seseorang.
Lalu yang paling membuatku yakin jika ada kejadian yang ku lupakan adalah...
Hari ini sudah hari esok. Padahal sebelumnya masih tanggal lima belas, sekarang kata ibu tanggal enam belas.
Bahkan saat ini jam menunjukkan pukul 05.00 pagi.
Kata ibu aku ditemukan di sebuah kamar kosong yang sama sekali belum ditempati. Kala itu aku tengah tertidur pulas. Membuat ibu tak tega membangunkan diriku di malam hari.
Tak disangka, saat aku sibuk berasumsi usai ibu dan ayah menceritakan kejadian kemarin, tak ku sangka ibu memelukku dengan erat.
Ibu dengan beraninya beranjak dari kursi rodanya naik keranjang tempat tidurku. Sampai sampai ayah terkejut dan gelagapan karenanya.
Kehangatan dari pelukan ibu menambah ketenangan yang tengah aku rasakan. Bahkan melebihi kelembutan sutra yang sangat lembut di dunia.
Kruyuk...
__ADS_1
Pelukan berakhir saat suara perut terdengar jelas di telinga. Dan suara itu berasal dari perutku. Membuatku tersenyum kecil saat melihat wajah ibu.
Ibu kemudian mengajakku untuk sarapan secepatnya sembari menyentuh keningku, lalu ibu bilang tak usah mandi terlebih dahulu. Dikarenakan aku melewatkan makan malam kemarin.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan disertai senyuman seperti biasa. Dilanjutkan dengan kedipan mata sebagai hadiah bagi ibu dan ayah.
Yang aku pahami saat aku masih kecil ibu dan ayah sangat menyukai diriku saat aku tersenyum. Ku harap dengan tambahan kedipan mata membuat mereka senang.
"Xia...??!"
Respon mereka begitu tak terduga, mematung sembari menatapku tanpa berkedip. Dan mata berbinar setelahnya.
Sehabis mencuci muka dan tangan aku langsung menuju ke meja makan.
Menu sarapan di meja makan ini terlihat begitu banyak entah mengapa. Apakah ibu dan ayah selalu sarapan dengan hidangan sebanyak ini?
"Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa sarapan pagi ini begitu banyak?" ujar ibu spontan saat aku menatap menu tersebut sebelum duduk.
"Biar ayah bantu jawab ya Bu.. Ini karena Xia pulang ke rumah lagi. Terus kemarin kamu belum makan malam, kamu pasti sangat lapar!"
Aku akui sekarang ini aku memang sangat lapar. Namun rasa lapar ini sebenarnya bisa ku tahan sampai siang jika memang karena terpaksa.
Keadaan di masa lalu lah yang membuatku kuat dan terbiasa dengan keadaan yang seadanya. Bahkan harus menahan rasa lapar dengan air.
Kadang kala saat aku melihat mereka yang makan enak di restoran aku hanya dapat membayangkan diriku dalam keadaan persis seperti mereka.
Pulang ke rumah lalu meminum air sebanyak banyaknya sembari membayangkan menu restoran itu. Dengan tambahan melihat gambaran sebuah masakan pada selembaran menu yang aku ambil di jalan.
Entah kenapa imajinasi ku sewaktu kecil terasa begitu nyata. Aku benar benar memakan menu yang aku inginkan itu.
Dan aku ingat saat aku ketahuan membayangkan hal tersebut oleh ayah dan ibu. Mereka menangis lalu memelukku secara bersamaan.
Sedangkan aku sadar jika perutku kembung karena minum terlalu banyak.
"Xia... cepet makan. Jangan melamun di pagi hari, ga baik!"
"iya Bu..."
Untuk saat ini aku fokus untuk mengisi perutku terlebih dahulu.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu terdengar terburu buru membuatku menjeda waktu sarapan.
Siapa sebenarnya tamu itu?
__ADS_1