Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Dikala keadaan romantis akan berlanjut pada titik tertentu, hal tidak diinginkan tiba-tiba saja mengejutkan diriku maupun Devan.


Marin yang bekerja sebagai pembantu tiba-tiba saja muncul di ruang tamu. Padahal aku ingat jika sebelumnya ibu menyuruh Marin agar keluar bersama mereka.


Positif thinking saja, mungkin ibu ataupun ayah menyuruh Marin untuk mengambilkan sesuatu.


Hanya saja aku kesal karena hal ini malah terjadi di waktu yang tidak tepat, dan malah menganggu momen yang aku idamkan selama ini.


Barusan setelah mengetahui kami berdua yang hendak melakukan aktivitas romantis, Marin pergi begitu saja dengan keadaan canggung.


"Maafkan aku Xia, sepertinya diriku tadi terbawa suasana. Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi, aku janji tidak akan mengulanginya!" ucap Devan dengan sorot mata bersalah, dia sepertinya serius yakin sekali dengan perkataannya.


"Eh.. apa katamu? Terlalu cepat?"


Jujur aku tidak bisa menerimanya. Karena kejadian barusan dia malah seperti melimpahkan semua kesalahan kepadaku. Pada akhirnya aku yang kena getahnya sekaligus.


Meskipun aku kesal terhadap Marin tapi aku tidak bisa marah kepadanya.


Drrtttt...


Suara ponsel dari saku membuat Devan bergegas untuk merogoh. Ia kemudian mengangkat panggilan tersebut dan menjauh beberapa langkah dariku untuk mengobrol lewat panggilan.


Aku pun menyiapkan rencana guna menetralisir rasa canggung Devan, akibat dia melakukan hal berbau int*m padaku sebelumnya.


Aku sekarang paham, jika perkataan Devan tadi memang sengaja dia ucapkan guna melindungi wibawanya.


Aku pun pergi ke dapur untuk memasak sesuatu untuknya, dengan meninggalkan secarik kertas "tunggu aku beberapa menit, aku mau buatin kamu sup paling enak!"


Beberapa menit setelah menyiapkan bahan aku mulai sibuk dengan aktivitas menu yang akan aku masak.


Seperti menyiapkan panci untuk merebus air dan memotong bahan-bahan.


Saat aku hendak membuka lemari berukuran besar yang belum kulihat sebelumnya, aku sempat dibuat terkejut. Pasalnya lemari ini berisi banyak produk makanan siap saji dan minuman kemasan.


"Eh...?? Kenapa ayah dan ibu menyiapkan begitu banyak produk makanan dan minuman? Seolah mereka harus mempersiapkan ini untuk..."


"Xia!"


Saat aku berbalik badan aku mendapati Marin yang sudah berada di dapur dengan wajah bersalah dan pipi samar-samar memerah, mungkin karena kejadian tadi. Dia pasti kepikiran terus.


"Um... Marin aku minta maaf, kamu mungkin..."

__ADS_1


"Tidak, harusnya aku yang minta maaf karena mengganggu waktu romantis kalian!"


"Tidak... kami bukan mau melakukan hal erot*s, melainkan kontes menatap!" jelas ku yang entah mengapa aku malah berbohong kepada Marin dengan memutar balikkan fakta.


Dia lebih tua dariku, seharusnya Marin paham jika perkataan ku tidak mudah dia percayai.


"Jadi begitu, haa.. aku lega, sebelumnya aku kepikiran terus karena menganggap kamu melakukan hal itu, bahkan aku mengira jika kamu memiliki hubungan spesial dengan pria kelas atas itu..."


"Hihihi enggak mungkin kan, kak Marin. Aku ini berumur enam belas tahun, sedangkan kakak itu jauh dariku. Dan kami juga terhalang oleh status, mana mungkin kan, memiliki hubungan rahasia hihi.." jelas ku dengan keterangan yang memungkinkan memperkuat argumen kebohongan ku.


"Iyaa, aku percaya sama kamu Xia. Btw kamu mau masak apa? Aku bantu ya!"


Sekarang aku lega karena Marin percaya dengan perkataan ku. Melihat senyumannya itu aku tahu bahwa Marin sangat mempercayai ku.


"Maaf aku membohongimu kak Marin..."


"Aku mau buat sup ayam spesial kak. Um.. bantuan kakak sepertinya akan mempercepat proses."


Selang beberapa waktu, akhirnya sup buatan ku sendiri dengan bantuan dan bimbingan Marin telah siap dihidangkan. Tinggal aku sajikan kepada Devan yang sepertinya menunggu lama hanya untuk ini.


Tapi saat aku membawa sup ini pada nampan dan menuju ke ruang tamu, aku tidak mendapati keberadaan Devan.


Namun sepuluh menit berlalu dia tidak menunjukkan batang hidungnya, membuatku agak cemas kepadanya.


Dan setelah aku cari-cari dia rupanya tidak ada di rumahku, lebih tepatnya, dia sebelumnya tidak pergi ke kamar mandi.


Lalu kemana perginya Devan?


Marin bahkan sampai membantuku mencari Devan di luar rumah, tapi hasilnya nihil.


Hingga aku kembali ke ruang tamu dan melakukan reka ulang apa sebenarnya yang terjadi pada Devan, dia seakan menghilang secara misterius.


Instingku mengatakan jika jejaknya pasti akan tertinggal di ruang tamu ini. Dan benar saja, jejak Devan mengarah pada secarik kertas yang sebelumnya aku gunakan sebagai pesan kepadanya.


Ada tulisan tangan yang aku kenali di tulis oleh Devan.


"Maaf Xia, aku tidak bisa berlama berada di kediaman mu, ada kabar kurang mengenakkan mengenai ayahku. Itulah sebabnya aku harus kembali. Ku harap kamu menikmati waktu senggang saat di kampung halamanmu, titip salam juga buat ayah dan ibumu. Sekali lagi aku minta maaf!"


Sontak isi pesan pada secarik kertas ini membuatku shock. Devan sampai mendadak pergi setelah mengetahui kabar itu, yang artinya masalahnya terlalu berat.


Kurasa aku harus menyusulnya, walaupun belum hitungan jam aku menginjakkan kaki di wilayah masyarakat kelas bawah, kampung halamanku.

__ADS_1


Drtttt...


Suara dering terdengar di saku celanaku sepertinya berasal dari ponsel pemberian Devan.


Sontak aku langsung mengangkatnya.


"Xia, kamu jangan menyusul ku, aku tahu kamu pasti akan bertindak mengikuti kata hati. Tapi kurasa kamu tidak harus melakukannya saat ini! Karena masalah ini berhubungan dengan keluargaku. Aku hanya ingin kamu berdoa yang terbaik."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan..."


Tut... tut... tut...


Devan ternyata lebih memilih untuk menyembunyikan hal itu dariku, mengenai masalah keluarganya.


Ternyata aku hanya orang asing baginya.


Padahal selama ini aku merasa jika aku sudah sangat dekat dengannya, dan aku sudah bisa dianggap sebagai keluarga. Tempat berbagi cerita maupun keluh kesah.


"Xia..."


"Dia pulang kak Marin, katanya ada masalah mendadak berhubungan dengan keluarganya!" gumam ku yang sudah kehilangan semangat.


Marin lalu memelukku sembari mengelus punggungku, tak ku sangka air mataku mulai menetes.


"Tidak apa-apa, mungkin Devan memiliki alasan lain kenapa tidak memberitahukan hal itu kepadamu secara rinci!"


Aku pun dibuat tertegun mendengar perkataan Marin. Air mataku lama-lama berkurang dan dia membantuku menyekanya.


"Hiks.."


"Udah... cup, cup jangan nangis lagi. Xia kan katanya mau jadi gadis tangguh!!"


"Emmm."


Tak lama ayah dan ibu datang mereka begitu terkejut ketika melihatku dalam keadaan sehabis menangis.


Dalam hati sebenarnya aku berterimakasih kepada Marin yang sudah membuat tenang, hanya saja aku tidak mengira jika dia mengetahui nama Devan.


Dan saat menyebut namanya aku lihat dia seolah begitu dekat dengan Devan. Tak asing lagi dengan namanya.


Apa ini cuma perasaanku saja...?"

__ADS_1


__ADS_2