Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Aku Mau Dia Mengerti


__ADS_3

Keesokan harinya aku terbangun dengan sekujur tubuh yang terasa lelah lantaran tidur terlalu malam, dan menunggu waktu agar diriku terlelap.


Untungnya aku tidak bangun terlalu kesiangan sampai lupa waktu untuk menempati janji bertemu dengan Cristan pagi ini.


Jam menunjukkan pukul 06.45 aku segera bergegas dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


Saat aku lihat wajahku lewat pantulan cermin aku terkejut melihat bekas kehitaman di bawah mataku.


Inilah efek kesulitan tidur semalam selain tubuh yang terasa lelah.


"Huh... sepertinya hari ini akan berat ya..."


Jujur saja aku merasa lelah dan ingin tidur lagi.


20 menit lebih aku berada di kamar mandi, setelah usai membersihkan badan aku langsung saja pergi ke kamar lagi.


Sedangkan rasa lelah berkurang setengahnya.


Di tengah perjalanan aku masih belum bertemu dengan Devan, hingga diriku telah sampai di depan pintu kamar.


Untuk pakaian aku hanya membawa sedikit tak begitu banyak, hanya ada tiga yang diantaranya pakaian untuk pulang dan pakaian kasual hanya untuk hari ini saja.


Serta untuk make up, aku membawanya tak terlalu banyak. Jujur saja aku menyukai diriku tanpa make up. Tapi karena liburan ini aku bersama dengan Devan, ya mau bagaimana lagi.


Hanya sedikit polesan make up untuk membuatku percaya diri hari ini.



Ku harap besok adalah hari dimana liburan ini berakhir. Bukan karena aku tidak betah disini, tapi aku tak mau merepotkan dia lagi.


Pasti saat dia tahu aku membawa pakaian yang tidak terlalu banyak sehingga diriku terpaksa harus pulang dengan dalih itu. Dia kemungkinan akan membelikan ku pakaian baru lagi.


Yang harganya bisa membuatku hidup mandiri selama satu sampai dua tahun, bahkan lebih.


Dan sudah cukup banyak pemberian yang dia berikan kepadaku selama ini.


Gaun merah yang aku pakai kemarin pun saat ku cek harganya pada web senilai tujuh puluh jutaan.


Saking mahalnya aku jadi takut untuk sekedar mencuci.


Tok! tok! tok!


"Uhm....."


"Siapa ya..?"


Suara ketukan pintu membuatku terperanjat dikala aku berpose di depan cermin sehingga bibirku tak sengaja aku gigit.


"Aduh... sakit..."


"Ini aku Devan, apa kamu sibuk!?"


"A-ku nggak sibuk kok.. bentar!"


Selembar tisu aku ambil dari wadah yang ada di atas nakas, lalu aku bersihkan darah yang keluar pada bibir bawahku dengan cekatan.


Ceklek!


"...Maaf aku lama bukanya..."


"Tidak apa-apa, hmm, kamu baik-baik saja?"


"Aku baik, kamu gimana...?"


"Ikut aku!"

__ADS_1


"Eh?"


Devan langsung saja meraih tanganku untuk mengikutinya, entah dia akan membawaku kemana, aku tidak tahu.


Dari ekspresinya aku melihat raut khawatir di wajahnya.


Sebuah ruangan medis dengan lambang khusus, Devan ternyata membawaku kemari.


"Duduk!"


"Huh??"


Dia lalu menyuruhku duduk sementara dirinya sibuk mencari sesuatu.


Tak lama sesuatu yang dicarinya pun ditemukan, saat Devan berbalik dia ternyata memegang obat merah dan juga kapas luka.


Tak hanya itu, ada juga botol kecil berisi cairan mirip air yang tidak aku ketahui apa kegunaannya.


Kesimpulannya, Devan hendak membersihkan luka maupun mencegah infeksi dengan obat merah, tapi sampai saat ini aku masih bingung, karena tidak melihat dari dirinya yang terluka?


"Ini sungguh membingungkan."


"Duh... aku lupa bahwa bibirku ada luka..." gumamku saat tak menyadari luka di bibir bagian bawah ketika ******* bibir.


Terasa begitu nyeri hingga membuatku hampir mendesah.


"Kamu mau apa?" tanyaku disaat Devan melihatku dengan intens, sementara tangannya memegang botol kecil itu dan kapas luka.


Tidak ada respon, Devan lalu mendekatkan wajahnya secara perlahan saat badannya condong pada diriku yang tengah duduk.


Deg.


"Devan mau apa sih...? Aku kan jadi canggung...."


"Apa dia mau melakukan hal itu denganku, kalau gitu ini adalah yang pertama kalinya buatku, sebuah pengalaman!"


Ternyata hanyalah ekpektasi saja Devan hendak melakukan hal itu denganku, buktinya dia malah mengobati luka di bibirku.


Padahal saat wajah aku dan dia sudah dekat aku sampai menutup mata sembari bereaksi terlebih dahulu.


"Hn... rasanya sungguh malu!!!"


Kini Devan mengoleskan obat merah pada bibirku dengan lembut, setelah selesai membersihkan dengan cairan pada botol kecil itu.


Wajah kami berdua begitu dekat, tapi Devan sama sekali tidak terganggu pada kondisi ini. Dia nampak tenang tidak teralihkan oleh apapun, hanya satu yang dia fokuskan saat ini.


Yaitu merawat lukaku dengan sabar. Sementara diriku merasa panas dan tak bisa berlama-lama lagi berdekatan dengan Devan sampai jarak yang sedekat ini.


Apalagi dia berganti posisi dengan duduk di kursi yang saling berhadapan denganku.


"Wajahmu memerah, apa kamu sakit?" tanya Devan spontan membuatku gelagapan.


"Ha, itu...."


"Hmph."


"Uh...."


Dia malah membungkam mulutku lagi dengan melakukan perawatan menggunakan kapas luka di bibirku.


Karena itu aku dibuat mendesah lantaran nyeri di bibir terasa.


"He.."


Senyuman sekejap tadi membuatku penasaran dengannya.

__ADS_1


Selesai melakukan pengobatan yang memakan waktu sepuluh menitan, akhirnya bibirku tak terasa nyeri lagi saat bersentuhan dengan bibir bagian atas.


"Makasih..." ucapku berterimakasih kepada Devan dengan senyum terkembang.


"Ya, sama-sama. Sebaiknya kita makan segera, kamu belum sarapan kan?"


"Iya aku belum sarapan, tapi...."


"Um... aku memiliki janji dengan..."


"Dengan siapa?!" tanya Devan secara spontan mendekatkan wajahnya padaku.


"Itu hanya teman baru yang aku jumpai kemarin di perpustakaan, kami berniat akan membaca buku lagi di perpus!" jelasku tidak semuanya aku katakan.


Lantaran Cristan mengajakku pergi ke suatu tempat dimana kebanyakan orang tidak mengetahuinya.


Dia hanya memberitahukannya kepadaku karena menganggap diriku dapat dipercaya.


"Kalau begitu aku akan ikut denganmu. Tak baik anak kecil sepertimu berkeliaran di sektor tempat ini tanpa pengawasan."


"Tapi...."


"Tidak ada tapi-tapi!"


"Hmm, iya aku mengerti..." balasku dengan nada pelan sembari menundukkan wajah.


Selalu saja, Dia menganggap ku seperti anak kecil polos yang tak tahu apa-apa. Padahal aku udah tumbuh sedemikian rupa.


Dan belajar banyak hal agar diriku bisa berada disisinya.


Di meja makan aku hanya sibuk dengan makananku, tak ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya.


Aku sedang marahan sekarang.


"Apa menu sarapan ini enak Xia?"


"Iya."


"Lalu bagaimana dengan kemarin, apa kamu bersenang-senang?"


"Hmm, aku bersenang-senang."


Ku harap dia peka agar aku tidak marah lagi sama dia.


Sampai sarapan yang ku makan telah habis, sama sekali aku tidak mendapati hal yang aku inginkan. Devan seolah tak sadar jika aku sedang marahan dengannya.


"Aku ke kamar kecil dulu!"


"Silahkan."


Aku ijin ke kamar kecil lantaran tak kuat menahan perasaan sedih yang aku rasakan.


"Hiks..."


Beberapa saat berlalu, aku pun keluar dan kembali ke meja makan.


"Apa kamu menangis?" tanya Devan dengan tatapan terkejut.


"Enggak, aku nggak nangis."


Tap.. tap..


"Kenapa? Apa ada seseorang yang membuatmu sedih?"


Devan mendekati diriku lalu mengangkat daguku dengan satu tangan agar diriku menatapnya.

__ADS_1


"Aku pasti akan membuatnya membayar untuk itu!"


__ADS_2