Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Kejadian Tak Mengenakan


__ADS_3

Game selanjutnya yaitu game arcade, dapat dimainkan dua players sekaligus. Game ini bergenre petualangan run bernuansa perang dunia.


Namun membutuhkan dua koin. Meskipun begitu kami berdua asyik memainkan game ini dengan duduk beriringan dan fokus pada jalannya game.


Satu koin membuat satu player memiliki peluang hidup lima kali setelah kematian.


Devan terlalu mendominasi permainan, dia mampu mengalahkan banyak pasukan dan berada paling depan.


Sedangkan diriku hanya mengamankan area belakang, dimana musuh tidak terlalu mencolok.


Suara latar dari game ini pun membuatku terhipnotis seperti halnya berada di sana dan berperang melawan musuh. Jiwaku menggelora untuk yang pertama kalinya.


"Woow kamu hebat banget, ucapku memuji Devan yang memang jago dalam bermain, dia sama sekali tidak menghabiskan kesempatan hidup dari karakternya.


Dan mampu menghindari berbagai serangan musuh seperti senjata api, misil, granat, dan lainnya.


Dia sepertinya halnya pemain veteran yang sangat mahir.


Berbeda denganku yang menyerah karena koinku tinggal empat. Maka aku memutuskan untuk berhemat koin.


Melihat Devan yang asyik bermain walaupun hanya dia seorang diri di game, membuatku terobsesi oleh paras dan semangat itu.


Jujur saja aku jatuh cinta dengan antusiasnya saat bermain, dari senyuman dan keterampilannya.


Baru kali ini aku menyukai bermain game arcade, yang ternyata begitu mengasyikkan. Sungguh pengalaman yang takkan ku lupakan sampai kapanpun.


"Apa kamu mau main lagi, Xia?" ucap Devan di sela bermain.


"Umm enggak deh.. kamu aja. Aku mau main game lain kayaknya."


"Kamu ini. Ini, beli koin yang banyak sana! Kita akan bermain bersama lagi."


Entah kenapa aku tidak menolak saat Devan menyuruhku untuk membeli koin, dan itupun dalam jumlah yang tidak dipastikan.


Yang artinya aku bebas membeli koin berapapun jumlahnya.


Tanpa berpikir panjang aku pun langsung mengambil uang yang dia sodorkan padaku.


Kemudian beranjak pergi meninggalkan Devan menuju tempat penukaran koin sekaligus penukaran hadiah dari game tadi.


"Berapa nona imut?"


"Umm... berapa ya, dua puluh aja deh.."


"Heh, kamu bimbang, apa kamu di suruh oleh pacarmu yang tampan itu ya?"


"Ah..." wajahku mulai terasa panas karena malu.


"Hehe.. masa-masa muda memang sangat menyenangkan."


Dua puluh koin sudah aku dapatkan lalu aku menukar tiket hadiah dengan sesuatu yang aku mau sesuai poin yang tertera.


[Ada tas membutuhkan : 240 poin]


[Berbagai cemilan dari kisaran poin 20-100]


[Minuman dengan kemasan menarik di kisaran poin 30-120]

__ADS_1


Dan banyak lagi, membuatku bingung kali ini.


Aku menoleh kebelakang melihat Devan yang tengah asyik bermain game, tapi ada yang membuatku perhatian padanya.


Sehingga aku tahu apa yang ingin aku tukarkan saat ini.


"Kamu perhatian banget ya... pacar kamu pasti beruntung memiliki pacar secantik ini."


"Mmm aku pergi dulu ya.."


Aku langsung saja pergi karena tak ingin wajahku mata rasa menahan malu.


Ada sebuah cermin dan saat aku lihat diriku lewat pantulan ternyata wajahku memerah.


"Pantas saja mba pegawai tadi tersenyum terus kepadaku.."


"Xia, kenapa wajahmu memerah?"


Aku terkejut dikala Devan sudah berada di depanku, ternyata dia sudah meninggalkan permainan yang tengah dia mainkan.


"Apa ada orang yang menggodamu, mana orangnya?"


Ekspresi Devan terlihat kesal, apa mungkin dia...


"Ngga ada kok, aku cuma digoda oleh pegawai penukaran koin," jelasku sembari menatapnya lekat.


"Begitu ya, aku kira... oh ya dia pegawai perempuan itu kan?"


"Umm iya, dia."


"Kenapa kamu sampai rela mendatangi diriku, padahal... kamu sedang asyik main game perang itu?" tanyaku dikala melangkah kaki menuju game selanjutnya.


"Aku cuma bosan. Lagian game seperti itu tidak bakal membuatku teralihkan!"


"Hmm??" aku berpikir. Menerka apa yang dia maksud.


"Ya, kamu masih ke..."


Kini aku menatapnya lekat. Dan Devan terlihat menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Maksudku kamu itu harusnya main game bergenre musik, game perang tidak sesuai dengan penampilanmu yang imut itu!"


Ucapan Devan barusan membuatku menundukkan wajah karena malu, mungkin wajahku memerah saat ini.


•••


Game yang kami mainkan saat ini adalah game bergenre musik. Terdapat tempat duduk dan dapat dimainkan oleh dua players sekaligus.


Bedanya tidak menggunakan analog tapi layar seperti papan yang cara bermainnya harus dengan bermodalkan jari. Dan juga kecepatan.


Banyak tipe pola di game ini, aku memilih pola persegi. Pola itu akan bergerak dari sisi layar miring lalu terjun di dekat jariku.


Aku dan Devan harus cepat-cepat menekan pola persegi itu agar aransemen lagu terdengar pas.


Beberapa menit berlalu, kami selesai dengan game ini lalu melanjutkan lagi game selanjutnya guna menghabiskan koin.


Beberapa tiket yang tak dapat ditukar karena kurang aku simpan sebagai kenang-kenangan.

__ADS_1


Devan yang sempat bertanya dan aku menjawabnya begitu langsung beranjak meninggalkan diriku.


Dia lalu kembali dengan membawa aksesoris, boneka kecil yang entah kenapa mirip sekali dengan diriku.


Ada dua boneka, satunya lagi juga mirip dengan perawakan Devan. Hanya saja di bagian kepala terdapat mahkota.


"Kamu kok ada mahkotanya?" tanyaku.


"Ya karena aku yang akan memimpin suatu hari nanti."


"Oh... memimpin itu, aku tahu."


"Dan juga memimpin sebuah keluarga dimasa depan."


"Kedengarannya perkataannya seperti memiliki maksud saat menatapku dengan tatapan itu."


Kami berdua pun kejar-kejaran skor game ini sembari bernyanyi bersama.


•••


Puas bermain, akhirnya kami makan siang di sebuah restoran bintang lima di dalam mall.


Menu disini terlihat mengiurkan karena aku bisa melihat tampilannya.


"Argh, ada apa ini? Kenapa lampunya mati!?"


"Apa sedang terjadi kesalahan teknis?"


Tidak tahu kenapa lampu mall mati total secara keseluruhan, bahkan beberapa aktivitas yang menggunakan listrik jadi terganggu.


Beberapa orang mulai resah karena lampu tak kunjung menyala kembali.


Hingga sepuluh menit berlalu, ternyata lampu yang padam bukan hanya di dalam mall tapi di luar juga.


Badanku langsung lemas hingga aku jatuh diantara kedua lutut.


Devan dengan sigap membantuku lalu membopong diriku.


Tempat yang awalnya menyenangkan pun menjadi berisik oleh para pengunjung yang protes serta gelisah.


Dalam keadaan temaram ini lampu dari ponsel dan juga yang tak menggunakan listrik sangat berguna.


"Kamu tunggu disini dulu, aku akan kembali lagi setelah memastikan keadaan saat ini!" pinta Devan kepadaku.


"Tapi... aku takut sendirian."


"Pikirkan hal-hal yang menyenangkan, membuatmu selalu dalam keadaan ceria dak bersemangat!" sarannya.


"Hmmm."


"Bagus, gadis baik."


"Aku bukan gadis!" balasku menekankan kata sembari menatap Devan.


"Ya ya, aku salah. Maafkan aku.. Baiklah, aku pergi sekarang."


Devan pun meninggalkan diriku yang sendirian di dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2