
Kedatangan Cristan ini seperti tamu tak diundang apalagi dia secara mengejutkan muncul di tempat ini.
Aku memiliki firasat jika dia memang sengaja datang kesini, tapi ini terasa mustahil dan nyata di kedua sisi.
Bukannya dia berada di lantai masyarakat kelas bawah. Dan bertugas sebagai penjaga perpustakaan di tempat wisata itu bergantian dengan ayahnya.
"Ah... untuk itu aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu sekarang, yang pasti aku adalah utusan dari seseorang yang kau kenal, Xia!" jelas Cristan padaku. Tatapannya terlihat serius dan dapat dipercaya.
"Tapi kenapa kamu tahu keberadaan ku, apa kamu selama ini...."
"Yup, aku menggunakan alat kecil yang menempel di bajumu, dan alat itu selalu berpindah pada saat dirimu berganti baju. Dengan alat kecil berwujud serangga itu aku bisa selalu melacak keberadaan mu. Ya... seperti GPS!"
Duk.
Aku langsung saja beranjak dari kursi kebesaran saat aku fokus pada monitor, lalu mendekati Cristan dan langsung memukul pucuk kepalanya dengan genggaman tangan.
"Dasar mesum!" umpat ku padanya sembari menatapnya tajam.
"Kau salah paham, aku masih belum selesai menjelaskan. Jadi alat itu tidak bisa merekam, entah itu dalam bentuk suara maupun video!" ucapnya membela. Namun masih belum aku percayai.
Kali ini aku dibuat jengkel kembali karena ada satu hal yang mengejutkan, sama seperti kasus Devan sebelumnya.
Dengan menggunakan CCTV ia melakukan pengawasan terhadap keluargaku. Bahkan hampir di beberapa titik dia memasang.
Dan yang menjengkelkan adalah hal itu tidak aku sadari sebelumnya. Dan kini Cristan datang entah dengan maksud apa dirinya kemari mengaku sebagai utusan dari orang yang ku kenal.
Dia bahkan mengaku memasang GPS dengan menggunakan alat kecil, padahal waktu itu dia bilang untuk curiga kepada Devan.
Karena menurutnya Devan memasang GPS juga padaku.
"Katakan siapa orang itu? Kalau gak, aku ga mau ikut!" terang ku kepadanya sembari bersekap dengan pipi kembung. Pertama-tama aku pastikan terlebih dahulu.
"Huh... kamu ini keras kepalanya ya, sama seperti ayahmu," ucapnya membuatku terkejut pada kalimat terakhirnya.
"Tunggu, berarti utusan yang kamu maksud jangan-jangan...."
"Ya. Dia adalah ayahmu, dia menyuruhku kemari untuk membawamu pergi dari tempat ini. Jika kamu tanya alasan, itu karena Devan hendak menghipnotis dirimu!"
__ADS_1
Kata-kata Cristan belum bisa aku cerna maksudnya.
"Umm... apa perkataan mu bisa dipercaya, lalu apa tujuannya dia melakukan itu padaku?" tanyaku menatapnya lekat. Orang yang sedang berbohong pasti grogi saat di tatap secara langsung dan intens, apalagi tatapan menyelidik begitu dalam.
" ... Dia sebenarnya memiliki hubungan dengan pemimpin tempat ini, pekerjaan rahasianya adalah menegakkan keadilan. Bagi seseorang yang dicintainya, saat dia tahu seseorang itu adalah anak kriminal dia sangat benci hal itu. Jadi saat aku menyelidikinya, aku menemukan sesuatu. Dia berencana membuatmu lupa dengan keberadaan ayahmu, bila perlu ibumu!" jelas Cristan panjang lebar, di akhir ucapannya dia menekan kata.
Kini yang menjadi tanda tanya tentang identitas Devan perlahan terungkap, jika perkataan Cristan tadi tidaklah suatu kebohongan.
Dia memang orang asing yang baru beberapa hari lalu aku kenal. Dia adalah orang dengan sifat cuek, namun suka mempelajari hal baru.
Perilaku baik pada orang seperti diriku, dengan syarat se-frekuensi dengannya. Begitulah pandangan ku tentang Cristan.
Tapi dia baru saja berkata bahwa Devan berencana berbuat yang tidak baik kepadaku, kalau ucapannya benar harusnya aku ikut dengannya.
Akan tetapi rencana ku untuk mengetahui lebih banyak tentang Devan akan berakhir disini.
"Baiklah cepat, aku tidak punya waktu sekarang."
"Nggak, aku maunya disini...."
Saat langkah Cristan hampir mendekati pintu keluar yang sudah terbuka aku langsung saja mendekatinya.
Ku putuskan untuk ikut dengannya, meskipun aku bisa di cap sebagai orang yang plin-plan menurut diriku sendiri.
"Ya. Mari ikuti aku, kita akan menuju tempat rahasia."
"Apa kamu marah sama aku, tadi aku bercanda, gak serius!" ungkap ku padanya.
"Hmm, tak apa. Lagian kita...." ucapan Cristan menggantung saat Devan tiba-tiba saja memasuki ruangan ini.
"Akhirnya ikan memakan umpannya," ucap Devan menatap sinis.
Di saat-saat seperti ini harusnya aku meminta penjelasan darinya tentang rencananya itu, aku tak ingin jika harus bersama orang sepertinya kalau dia memiliki niat buruk.
Tapi saat hendak membuka mulut untuk bertanya Cristan lebih dahulu berkata.
"Langsung saja, aku ini hendak membawanya pergi dari sini. Rencana jahat mu padanya sudah aku beri tahu," ujar Cristan tetap tenang dalam situasi ini. Harusnya dia gelisah karena ketahuan memasuki tempat tersembunyi ini.
__ADS_1
Devan ku lihat tersentak saat Cristan selesai berkata, dia seperti halnya memiliki niatan buruk saja padaku. Lalu karena ketahuan dia jadi seperti itu.
Kini Devan seakan bungkam karena suatu alasan, dia sama sekali tidak berbicara lagi. Lalu beberapa robot dari arah belakang muncul dan memasuki ruangan ini.
Robot menyerupai manusia namun masih bisa ku bedakan. Wujudnya benar-benar mirip.
"Ketahuilah Xia, aku melakukan hal itu karena aku mencintaimu!" katanya yang mana membuatku tertegun.
Perkataan tadi adalah mimpi yang selama ini inginkan maupun aku harapkan meskipun terdengar mustahil.
Mengingat diriku beda kasta untuk bersama dengannya.
"Uhh... apa dia beneran mengatakan itu, tadi ekspresinya seperti apa ya..." ucapku dalam hati bermonolog, mengingat-ingat.
"Tch, berhenti memperdayainya. Kau itu hanya menginginkan dirinya demi nafs*mu saja!" ucap Cristan begitu menohok, tapi dari respon Devan dia sepertinya sesuai apa yang dikatakan Cristan.
Kurasa kali ini aku benar-benar membutuhkan penjelasan dari orang yang aku kagumi itu. Meskipun rasanya akan menyakitkan jika kenyataannya begitu pahit.
"Devan...?" ucapku menatapnya lekat menanti penjelasan.
"Sigh, baiklah. Aku . . . "
Ucapannya tak dilanjutkan, lantaran kini diriku maupun sekitaran terasa berguncang.
Entah apa yang terjadi ini baru pertama kali aku rasakan seumur hidupku.
"Guncangan ini jangan-jangan...." ucap Devan sempat di sela.
"Jelas diakibatkan oleh hewan laut dalam, yang dengan ukurannya itu mampu membuat guncangan di tempat ini sekalipun. Meskipun sudah dilengkapi teknologi anti gempa!" sahut Cristan membuatku berpikir.
Kini aku mengingat bahwa kejadian tadi dinamakan gempa bumi, aku mengetahuinya saat membaca buku pengetahuan itu.
Seingat ku guncangan itu diakibatkan oleh penggeseran lempeng bumi dan juga objek alam dinamakan gunung berapi.
Beberapa saat hingga akhirnya guncangan tadi menghilang dengan sendirinya.
"Sekarang aku minta kalian berdua harus akur dan jangan bertengkar titik!" pintaku sembari menekan kata kepada mereka berdua.
__ADS_1