Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Permainan


__ADS_3

"Umm.. aku sering melihatnya karena ingin tahu informasi terkini mengenai krisis yang terjadi!" jelas ku lirih, ada perasaan khawatir menyelimuti diriku.


"Apa kamu telah mengetahui sesuatu yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya?" tanya Devan yang mana membuatku membulatkan mata.


Dia benar-benar dapat membaca pikiran seseorang.


"Tenang saja, aku tidak akan memberitahu yang lain tentang informasi itu. Jadi kamu bisa jelaskan padaku sekarang."


Ku pikir dia dapat menebak apa yang tengah aku pikirkan, tapi rasa-rasa Devan sedang mengorek informasi dariku dengan cara berpura-pura tahu sesuatu yang tengah aku pikirkan.


Dia mungkin membaca raut wajahku lewat spion belakang mobil dan mengetahui makna dari ekspresi itu, lalu menghubungkannya dengan krisis saat ini.


"Tunggu, jika begitu, Devan... juga mengetahui informasi rahasia itu. Namun bisa saja.. dia hanya ingin tahu apa yang aku khawatirkan. Uh... ini rumit!"


Aku menjawab perkataan Devan dengan candaan bahwa dia hampir benar membaca raut wajahku.


Devan kemudian bertanya apa yang aku sukai tentang bumi, dan apa yang telah aku pelajari sampai saat ini.


Perkataannya itu membuatku bingung, karena dia seperti halnya Mengganti topik pembicaraan dengan topik lain.


Saat ini aku merasa dia tengah mengintrogasi diriku untuk maksud tertentu.


Sebisa mungkin aku bersikap sewajarnya, dan menjawab perkataan Devan dengan hati-hati. Tujuannya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Flashback on


Saat aku memutuskan untuk kembali menuju penginapan, Cristan sempat berkata kepadaku.


"Xia, ada hal yang harus kamu ketahui. Sebenarnya pria yang berprofesi sebagai guru itu tengah menyadap mu!" ujar Cristan memberitahukan. Namun aku masih belum memercayainya pada saat itu.


Tapi setelah dia menunjukkan bukti adanya alat kecil yang menempel pada kerah pakaianku kini membuatku percaya.


"Apa ini bisa membuat seseorang disana mendengar apa tengah aku bicarakan?" tanyaku penasaran dengan nada cepat.


"Yups, dan juga bisa melacak keberadaan mu dari jauh. Tapi kamu tenang saja, karena aku sudah mengantisipasi akan hal itu."


"Mengantisipasi... caranya??"


"Huh... kamu ini seperti anak kecil saja, membuatku kerepotan sampai harus menjelaskannya," ucap Cristan sembari menepuk dahinya.


Melihat Cristan yang benar-benar serius mengatakan itu membuatku memanyunkan bibir sembari memalingkan wajah ke arah samping.


Tak lupa pula melipat kedua tangan di depan dada.


"Humph."


Hingga pada akhirnya, saat aku meliriknya kembali, Cristan tengah menghela nafas panjang kemudian menjelaskan perihal yang membuatku penasaran.


"Saat kita berdua memasuki area khusus yang sudah aku pasangi gelombang pelindung ruangan, alat penyadap itu tidak bisa mengetahui lokasi pasti kita!"

__ADS_1


"Lokasi yang terkirim kesana hanyalah lokasi tempat lain, namun logis dengan jejak terakhir kamu bergerak," sambungannya membuatku mengangguk karena paham dengan ucapannya.


Lalu untuk suara, luar biasanya ada perubahan logisnya pula dibantu dengan Ai.


Flashback off


Drrtttt...


Suara dering ponsel langsung Devan sambar dari saku celananya, aku mendengar dia tengah berbicara dengan seseorang yang menyuruhnya untuk pergi kesana.


Tapi saat aku terlihat olehnya dengan raut penasaran pada kaca spion, Devan berdalih dirinya sedang sibuk berkendara. Dan fokus pada jalanan.


Yang pada akhirnya sambungan itu berakhir.


"Hum... aku tahu pembicaraan itu hanya untuk orang dewasa, tapi ga gitu juga dia main rahasia-rahasiaan. Kalau gitu aku juga sama, humph!"


"Ah.. apa kamu marah sama aku Xia, mukamu cemberut begitu?"


"Enggak kok..."


"Haish, bagaimana kalau kita bermain beberapa permainan di mall besar itu?!"


"Haaa kamu serius?!"


"Iya, aku serius. Asalkan kamu mau memaafkan diriku. Mungkin aku berbuat salah secara tak sadar."


"Iyaa deh... aku maafin."


•••


Hanya saja aku masih memikirkan kalau dia selama ini mendengar gumaman diriku yang tergila-gila dengannya.


Jujur saja, aku pernah berbicara dengan boneka di kamarku, dan menganggapnya adalah Devan.


Bahkan aku pernah bermain nikah-nikahan dengan diriku yang menjadi pengantin Devan. Dan masih banyak lagi.


Ku harap penyadapannya tidak dilakukan sejak lama.


•••


Di dalam mall cukup besar ini pengunjung terlihat tak terlalu ramai, bahkan tidak banyak seperti aku yang aku pikirkan.


Dari jauh aku melihat rak rak produk kosong, mungkin penjualan produk sedang naik lantaran krisis yang katanya membahayakan kehidupan sehari-hari saat ini.


Namun masih belum di fase berbahaya sekali, dan ku harap masalah itu dapat teratasi setelah pemimpin tertinggi ditemukan.


Dan ada solusi dari segala permasalahan yang terjadi saat ini.


Selang beberapa waktu, aku puas bermain permainan di lantai berisi game game seru. Bermodalkan uang yang ditukar menjadi koin aku bisa bermain sepuasnya.

__ADS_1


Awalnya Devan berniat ingin memberiku koin dalam jumlah banyak agar aku dapat bermain sepuasnya.


Tapi aku tolak karena pembelian koin dalam jumlah banyak itu terlalu membuang-buang uang.


Pada akhirnya Devan membenarkan penolakan ku. Dia lalu memberiku sepuluh koin saja.


Saat itu aku bermain game berhadiah tiket yang dapat ditukarkan dengan hadiah menarik.


Aku memasukkan koin lalu aku pencet tombol hijau. Bola keluar dari atas wadah tertutupi kaca plastik, sedangkan di bawahnya ada beberapa lubang dengan tempat berputar, serta tulisan poin yang bisa aku dapati dari bola yang masuk.


Yang bakal dikonversikan menjadi tiket.


Aku mendapati poin Tiga puluh dari satu bola yang masuk, lalu di sekitaran kaki aku melihat tiket yang keluar dari mesin game ini.


"Yeee!!!" teriakku karena senang. Dan antusias sekali dalam bermain. Kemudian mencabut tiket yang sudah berhenti keluar.


"Hah, keberuntungan mu masih kecil, poin tertinggi di sana sampai dua ratus lima puluh, lihat!" balas Devan yang sepertinya meledekku.


"Kalau gitu kamu yang main selanjutnya, aku mau lihat seberapa besar keberuntungan mu di permainan ini..." ucapku agak sedikit kesal dengannya, dan berniat mengajaknya bermain. Aku mendorongnya agar tepat berada di depan mesin game tersebut.


Ku ingat Devan berkata dirinya hanya akan melihatku saja, alasannya dia tidak berminat untuk bermain. Padahal sebelumnya dia mengajakku dengan kata "kita" yang berarti bermain bersama.


"Oke. Biar aku coba."


Dan ya...


"Apa ini... mesin ini bermasalah ya!"


Devan mendapati poin sepuluh, poin terkecil diantara yang lain.


Dia terlihat kesal dengan giginya yang menggertak.


"Heem rasain!"


"Teehee... kamu malah lebih parah dariku..."


"Mungkin ini cuma kesalahan, ku anggap tadi hanyalah percobaan. Baiklah, aku coba lagi!"


Di percobaan kedua Devan mendapati poin dua puluh, dia benar-benar memiliki keberuntungan yang buruk hari ini. Aku jadi merasa kasian, tapi di satu sisi merasa puas.


"Kita mainkan game lain saja."


"Hehe.."


Sebelum kami berganti game aku bermain satu kali lagi, dan aku beruntung karena kedapatan poin delapan puluh. Poin yang cukup banyak.


Hal itu membuat Devan berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Dia tak ingin melihat keberuntungan ku ini.


Dari game tadi aku mendapatkan poin 110 di tambah poin Devan menjadi 140 dan aku tukarkan dengan cemilan ringan dan beberapa aksesoris imut.

__ADS_1


Permainan selanjutnya pun hendak kami mainkan. Entah mengapa Devan akan menyempatkan waktunya untuk bermain sekarang.


__ADS_2