Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Dua Kepribadian Devan


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja Xia, wajahmu memerah, apa kamu masih sakit?"


"Tidak-tidak, aku baik-baik saja."


"Humph, dia nggak peka sekali. Udah buat wanita salting malah ngak sadar."


Grep.


"Ayo kita mengunjungi tempat itu, aku sudah baikan sekarang!"


"Eh.. iya.."


Harus menunggu beberapa menit sampai kompres dingin pada pipi Devan baru bisa diangkat, nyatanya dia menegaskan jika dirinya sudah baikan.


Dengan terburu buru Devan mengajakku untuk pergi ke tempat itu. Dia sangat antusias sekali.


Kami berdua lalu ijin kepada ibu dan ayah, dimana ibu berkata tentang permintaan maafnya sekaligus rasa terimakasih kepada Devan yang telah membantu banyak orang. Terutama dirinya.


Aku masih belum mengerti keseluruhan perkataan ibu, yang ku tahu ibu berterimakasih karena Devan sudah membantuku dalam mengatasi masalah demam.


Dengan menggunakan mobil kami berdua berangkat.


Di perjalanan aku teringat oleh masalah yang menyangkut tempat tinggal ku, atau bisa dikatakan masalah yang dialami oleh banyak orang sekaligus.


"Ada apa? Kamu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu padaku, tapi kamu malu sepertinya?"


"Iya, sebenarnya aku mau meminta bantuan kepadamu. Tapi aku merasa tidak enakan, karena bantuan itu terlalu..."


"Jadi bagaimana, jelaskan saja kepadaku Xia, aku siap membantumu!?"


"Hah, um... apa tidak apa-apa?"


"Bukan menjadi masalah bagiku asal bisa kulakukan."


"Baiklah, aku percaya sama kamu. Sebenarnya tempat tinggal ku akan digusur besok, lebih tepatnya sektor di wilayah itu. Jadi... kalau boleh mau kamu menggunakan kekuasaan yang kamu punya untuk mencegah penggusuran itu!"


Sebaik baiknya aku bersikap dengan sangat teliti dan hati hati sekarang, berharap bisa membuat Devan mau membantuku.


"Oke. Aku akan membantumu."


"Eh!? Serius?"


"Iya, lagian hal itu bisa kulakukan. Jadi kamu tenang saja."


"Terimakasih banyak Devan... tapi kenapa kamu begitu mau membantuku, bukannya perkataan mu tadi begitu gampang diucapkan, ups.. barusan aku..."


"Benar apa yang kamu katakan, tidak mudah hanya dengan ucapan. Butuh berapa waktu agar perkataan ku tadi dapat terwujud, tapi kamu tenang saja. Aku bisa mengatasinya walaupun sedang bersantai sekarang!"


"Huf... aku kira Devan begitu dekat denganku akan melakukan tindakan romantis, tapi dia hanya menegaskan ucapannya saja.."


Berhenti di sebuah tempat hijau yang sekiranya belum pernah aku lihat. Keadaan hijau pada tempat ini begitu terasa. Dari mulai suasana, segar dan fresh, serta kesejukan yang tiada Tara.


Jadi Devan membawaku ke sebuah tempat yang luar biasa seperti ini.


Hanya saja aku merasa disini terlalu senyap dan sepi. Cuma ada aku, Devan, dan beberapa orang saja.

__ADS_1


"Selamat siang tuan muda dan..."


"Aku pemban..."


"Dia adalah pendampingku!"


Devan barusan mencegahku untuk mengatakan kalau aku ini adalah pembantu. Apa dia memiliki alasan khusus?


Usai sambutan oleh dua orang pria dan wanita dengan pakaian rapi kami berdua lalu diarahkan olehnya.



Di depan sana terlihat sebuah rumah dan tempat yang akan kami lewati nantinya.


Benar benar, disini sangat sejuk dan asri seperti berada di negeri dongeng saja.


Negeri hijau yang diceritakan memiliki peradaban yang sangat luar biasa.


Saat aku berjalan sesekali aku menoleh ke kanan dan ke kiri, bahkan aku shock ketika mendapati penanda berisi tulisan sebagai petunjuk.


Jadi bisa saja Devan menyewa tempat yang seharusnya dikunjungi oleh beberapa orang sekaligus kini sepenuhnya di miliki olehnya sekarang.


"Boros banget sih menurut aku.."


"Ahh!!"


Grep.


"Hati-hati jangan meleng, kamu bisa saja terluka karena terpeleset!" ujar Devan memperingati diriku dengan tatapan serius.


"Iya aku mengerti.. terimakasih banyak.."


"Ya, sama-sama."


Lagi lagi sosok Devan sekarang berbeda dengan dirinya saat berduaan denganku.


Dia menjadi pria dingin kembali ketika ada orang didekatnya.


"Maafkan kami tuan muda.. lantai disini begitu licin sampai membuat nona itu hampir terjatuh. Sekali lagi saya minta maaf, untungnya tuan memiliki replek yang bagus barusan."


"Tidak apa-apa, tempat ini memang didesain dan dirancang mirip seperti nuansa aslinya."


"Kalau tuan tidak suka saya akan menyampaikan hal terkait kepada bos kami agar mengubah keadaan lantai tempat ini!?"


"Jika begitu sampaikan padanya untuk mengurangi intensitas air hujan pada tempat-tempat yang dilewati oleh pengunjung!"


"Baik tuan muda."


Terus berjalan menuju tempat yang ada disana tubuhku entah mengapa merasakan dingin tempat ini yang begitu menjalar.


Kurasa pakaian yang aku kenakan tidak cocok untuk suhu di tempat ini.


Sementara pakaian yang Devan kenakan sangat sesuai.


"Aku jadi seperti orang yang tidak tahu saja..."

__ADS_1


"Eh..!?"


"Kamu pasti kedinginan bukan? Dengan ini suhu tubuhmu pasti terjaga. Pakaian itu sepertinya tidak cocok untukmu sekarang."


"Padahal jelas dia yang memberikan pakaian ini kepadaku, harusnya aku yang marah padanya sekarang!"


"Barusan kamu bilang apa tadi?"


"Bukan apa-apa, hmph."


Di satu sisi aku berterimakasih kepadanya karena dia mau melepaskan jaketnya demi menutupi tubuhku dari dinginnya suhu di tempat ini.


"Huu kalau seperti ini aku tidak bisa marah kepadanya..."


Pria berpakaian rapi yang mengikuti kami akhirnya buka mulut, menjelaskan kepadaku yang belum tahu tentang tempat ini.


Katanya tempat ini cocok bagi mereka yang menyukai akan kesendirian di tambah nuasa alam yang menyejukkan jiwa.


Dan tempat ini luasnya sekitar hektaran lebih.


"Sudah sudah, cukup untuk penjelasannya!"


Perkataan Devan tadi sepertinya menyiratkan perasaan dirinya. Saat aku melihat wajahnya dia seperti sedang kesal.


"Baik tuan muda..."


Akhirnya kami sampai di tempat mirip gubuk. Kata pria itu sepenuhnya terbuat dari kayu. Tempat ini memiliki ciri khas khusus yang katanya tidak menggunakan teknologi berlebihan.


Yang aku tangkap dari perkataannya mungkin gubuk ini adalah tempat dimana seseorang terbebas dari teknologi yang seakan menyatu dengan nafas.


Tapi kata Devan sebelum aku tinggal disini, dia menyarankan agar diriku melihat lihat sekitaran yang hijau ini.


"Devan, kamu nggak pakai jaket ini lagi?" tanyaku sembari menarik bagian belakang bahan dari pakaian yang dikenakan Devan.


Dia memang perhatian memberikan kepadaku jaketnya, tapi dia ini aku amati orang yang tidak memperdulikan dirinya sama sekali.


"Tidak apa-apa, aku tidak membutuhkannya sekarang!"


"Nggak. Kamu butuh jaket ini, aku tidak mau kamu kedinginan saat berkeliling disini!" ucapku agak meninggikan suara, menegaskan kepada Devan secara terang-terangan.


"Kamu perhatian sekali ya, ya sudah, kita mendingan berbagi jaket itu. Sini biar aku yang atur."


"Eh..."


Pada akhirnya kami berbagi jaket bersama sambil berjalan.


Hanya berselang beberapa menit saja kami berdekatan, momen ini hilang saat seorang pria menyusul kami.


Dia memberikan jaket tebal kepada Devan, jaket berwarna merah muda yang hampir menyamai gaun yang aku kenakan.


"Buat aku?"


"Iya buat kamu, jadi aku akan pakai jaketku kembali!"


Entah aku yang salah lihat, atau beneran melihat Devan tersenyum bangga. Saat aku berikan jaket miliknya lagi kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2