Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Menikmatinya


__ADS_3

Terbangun dari tidur nyenyak setelah meminum obat aku dibuat terkejut saat Devan menyentuh dahiku dengan lembut.


Dia sepertinya sedang memeriksa tingkat panas tubuhku dengan cara itu.


"Akhirnya kamu sudah bangun, tukang tidur!"


"Hmm."


"Makasih."


"Buat apa?"


"Buat semuanya, kamu banyak membantuku sebelumnya."


Di atas nakas aku melihat sebuah wadah dari besi berbentuk mangkuk, dan ada lap di bagian pinggirnya.


Asumsi yang aku pikirkan adalah Devan sebelumnya menetralkan panas tubuhku karena sakit.


Jujur, aku sebelumnya merasakan panas akibat demam yang aku alami. Bahkan mimpi mimpi itu aku rasakan kembali, sebuah mimpi yang umumnya dirasakan oleh banyak orang kurasa.


Beruntungnya diriku karena sekarang terbangun dengan tubuh yang sudah mendingan, serasa tidur dalam waktu lama atau sepuasnya.


"Xia, bagaimana dengan keadaanmu sekarang? Panas tubuh sudah membaik aku rasa, apa kamu bisa aku tanyai sekarang?"


Dari raut wajahnya aku bisa menyimpulkan jika hal yang ingin ditanyakan Devan itu sangat penting, jadi aku tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama lagi.


Lagian tubuhku sudah dalam keadaan prima sekarang.


"Ya, kondisiku sekarang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Kamu bisa tanyakan apa saja padaku!" jawabku sambil beranjak setengah bangun.


"Syukurlah. Jadi, seperti ini.. kemarin kamu tersesat di dalam rumahmu sendiri bukan?"


"Um... iya sih, aku kemarin terse... eh!? Aku inget sekarang!!"


"Kalau begitu coba jelaskan kepadaku sekali lagi kronologisnya!"


Seingat ku diriku pernah berada di suatu ruangan aneh tak biasa aku lihat, tempat itu kalau tidak salah berisi banyak sekali produk produk yang kebanyakan belum pernah aku lihat.


Tapi ada beberapa produk yang sering aku jumpai sih.


"Hmm, dan kamu melihatnya karena secara tak sengaja.. ketika tersesat bukan, jadi apa penyebabnya?"


"Penyebabnya... kalau tidak salah... kucing berwarna oranye, iya oranye!!"


"Lalu apa lagi yang kamu ingat, kenapa bisa kucing itu membuatmu tersesat?" tanya Devan kepadaku lagi seakan aku sedang diinterogasi.


Hanya saja aku merasa diinterogasi olehnya terasa sangat nyaman.


"Hehe.."


"Ada apa?"


"Bukan apa-apa, jadi kucing itu membuatku kasihan kepadanya setelah aku berjalan kembali dengan metode yang kamu sarankan kepadaku. Karena aku mengira kucing itu tersesat juga di rumahku yang super besar dan banyak ruangan, seperti yang aku alami pada saat itu. Aku jadi ingin sekali menolongnya... walaupun kucing itu kabur saat aku dekati.."


"Haha.. itu lucu, karena kucing itu mungkin tidak suka kepadamu Xia."


"Kata siapa, mungkin kucing itu belum mengenal ku lebih dekat, hmph!"

__ADS_1


"Itu malah makin membuatku ingin tertawa sepuasnya, tapi sayangnya aku harus menjaga wibawa ku."


"Mau dilanjutkan ngak?"


"Ya, silahkan. Maaf untuk yang tadi."


Aku tidak menyangka jika orang seperti Devan yang memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan diriku meminta maaf dengan sangat tulus kepadaku.


Harusnya orang orang seperti itu sudah sangat langkah sekarang.


Lanjutannya aku tidak sengaja melihat ruangan yang terbuka karena ulah kucing itu, dia menjatuhkan beberapa barang yang pada akhirnya membuatku ingin cepat cepat menangkapnya.


Ruangan aneh yang mana saat aku lihat didepan sana gelap dan menakutkan. Keadaan didalamnya membuatku enggan untuk melangkahkan kaki kedepan cuma sekedar bergeser.


"Apa begitu menakutkan sampai kamu saja tak berani...?"


"Heh... aku aslinya nggak takut, tapi karena lagi tersesat jadi lain keadaannya..."


"Iya iya, aku tidak akan mengganggumu lagi. Mari lanjutkan."


Kucing itu akhirnya sudah aku tangkap, tapi disaat yang sama saat aku melihat isi ruangan itu dan mematung. Tiba tiba saja kucing itu lepas dari genggaman.


Rasa kasihan sekali lagi membuatku harus menolongnya yang masuk kedalam ruangan menakutkan itu.


Dan entah mengapa saat aku masuk kedalam aku menabrak dinding yang mana terlihat seperti ruangan panjang.


"Hum jadi itu hologram saja."


Tak lama pintu keluar ruangan itu tertutup dan membuatku terperangkap bersama kucing itu.


Nuansa kental pada tempat perbelanjaan terasa sekali disana.


Namun ruangan yang aku lihat benar benar luas sekali dan anehnya dipenuhi oleh produk produk.


....


"Eh.. kamu mencatat semua yang aku omongin?" tanyaku dikala Devan sibuk dengan sesuatu pada notebook yang di pegangnya.


Aku baru sadar jika saat aku menjelaskan Devan menuliskan sesuatu pada buku catatan itu, perkataan ku bisa dibuktikan dengan pena yang dimiliki Devan sekarang.


"Jadi apa?" tanyaku lagi dikala merasa diabaikan untuk beberapa saat.


"Tidak ada apa-apa, aku cuma penasaran saja dan merasa harus menulis cerita cerita yang dialami oleh seseorang!"


Aku tahu Devan mungkin berbohong kepadaku.


"Iihh nggak jelas banget sih!"


Tiga puluh menit berlalu, aku menghabiskan waktu untuk mandi dan bersantai dengan berendam pada bathtub.


Ini seperti mimpi karena aku merasakan kehidupan orang orang kelas atas.


Pertemuan ku dengan Devan pastinya adalah takdir.


Selanjutnya aku memakai gaun yang direkomendasikan oleh Devan. Sebenarnya gaun ini pemberian darinya, jadi aku tidak bisa menolak sekarang.


__ADS_1


Tapi jujur saja, gaun berwarna merah ini kelihatannya cocok denganku.


"Eh.. mataku tidak salah lihat, kan!?"


"Aku seperti... Putri saja mawar berduri saja hihihi.."


"Oh, julukan itu sungguh cocok denganmu. Tapi tidak dengan kepribadianmu yang masih seperti anak-anak!"


"Kamu..."


Bugh.


Karena terkejut dengan kehadiran Devan yang begitu mendadak berada didalam kamarku, tanganku spontan melayang dan berakhir memukulnya.


Aku menyesal karena tidak menahannya. Alhasil muka tampan Devan sekarang terdapat bekas pukulan.


"Aku minta maaf... aku kira kamu orang mesum yang asal masuk kemari..."


"Ugh.. apa itu permintaan maaf.."


"Maaf ya, Devan..."


Dengan pelan dan hati hati aku sekarang mengobati bekas luka di wajah Devan.


Baru kali ini aku begitu dekat dengannya sampai aku melihat wajahnya begitu lama.


Meskipun sekedar mengobati luka, aku merasa seperti mengobati seorang pangeran yang memiliki otoritas tinggi. Jadi aku merasa terhormat melakukan hal ini.


Tapi entah mengapa aku merasa Devan seperti menikmati waktu diobati ini. Dia sesekali tersenyum simpul melihatku yang tengah menahan malu dan sikap.


"Udah selesai."


"Tunggu, aku merasa masih perlu diobati lagi dengan tisu dingin. Jika aku jujur, pipiku masih merasa ngilu.."


"Yang aku khawatirkan saat aku keluar bersamamu nanti aku akan terlihat seperti orang sakit gigi, karena menahan sakit pada pipiku ini..."


Melihat raut Devan yang begitu murung aku jadi tak tega, di satu sisi aku merasa bersalah karena telah membuat Devan jadi seperti ini.


Lagi, aku semprotkan pereda khusus yang terasa dingin pada pipi Devan yang terluka.


Lalu pelan pelan menggunakan tisu dingin untuk mengelap luka tersebut.


Kepikiran juga untuk mengompres luka tersebut agar tidak meninggalkan bekas.


Yang mana jika diketahui oleh tuan besar dan nyonya besar aku yang membuat Devan seperti ini, aku bakalan di hukum berat.


"Hehe.."


"Ada apa?"


"Bukan apa-apa, aku cuma melihat sekilas ekspresimu seperti takut akan suatu hal!"


"Tapi tunggu, kamu begitu cantik jika aku lihat dari dekat."


"Hnnnn."


Kurasa aku akan meledak sekarang!

__ADS_1


__ADS_2