
Di sebuah kamar bernuansa elegan serta memiliki interior mewah diriku terbangun sekarang. Menatap lesu ke arah luar jendela sembari memandangi seekor burung sedang memberi makan anaknya.
Menatap sendu ke arah sana agak lama, lalu diriku kembali mengingat flashback kejadian tragis yang dialami oleh ibu.
"Sigh, dia ternyata membawaku kemari hanya untuk membuatku lupa dengan perbuatan yang telah dilakukanya, jika itu mau mu aku akan berpura-pura lupa. Sampai aku bisa membunuhmu!" Ucap ku sembari mengigit bibir bagian bawah, ku kepalkan tanganku untuk membulatkan tekad. Semua itu tertuju kepada Devan si pembunuh.
Ku sebut begitu karena dia telah merenggut nyawa seseorang yang paling berharga dalam hidupku.
Untuk saat ini aku hanya bisa pasrah menerima keadaan, tetap tenang sembari mencari cara efektif agar dapat keluar dari tempat ini.
Ku lakukan pelarian itu setelah berasil membunuhnya.
Pertama-tama aku harus berpura-pura lupa ingatan, itulah strategi ku. Lalu mencari tahu lokasi ku saat ini.
Ceklek.
Suara pintu terbuka membuatku bersiap untuk memulai rencana. Aku pun menarik nafas dalam-dalam. Bersiap untuk segala kondisi yang akan ku hadapi.
"Xia... apa kamu baik-baik saja?" ucapnya lirih memperhatikan diriku begitu lekat.
Dia bertanya seolah kejadian yang ku alami tidaklah terlalu berpengaruh bagiku, padahal memengaruhi diriku secara psikologis begitu berat.
"A-aku, aku baik-baik saja. Kalau boleh tahu dimana aku sekarang ini?" jawabku sembari melempar pertanyaan dengan nada agak gugup saat berbicara dengan Devan. Orang yang ku benci dan ingin mengakhiri hidupnya dengan tanganku sendiri.
"Sebenarnya saat ini kamu berada di...."
"Dimana...?" Respon cepat ku mempertegas agar Devan segera memberitahu, namun perkataannya menggantung.
"Nanti akan aku jelaskan kepadamu, lebih baik kita makan malam. Bagaimana?"
Dari senyumannya kurasa memang benar jika dia menyembunyikan sesuatu dariku.
Misalnya tentang tempat ini yang entah dimana, meksipun terkesan tempat ini futuristik serta membuatku nyaman. Tapi kemungkinannya saat dia mengatakannya sekarang kepadaku, dia seratus persen akan berbohong.
"Baiklah, aku turuti saja kemauannya."
Devan kemudian berjalan mendahului seraya membimbing setiap langkahku agar mengikutinya.
Hingga kami sampai di sebuah meja makan, Devan lalu menyuruhku untuk duduk bebas di kursi manapun sesuai kemauanku.
__ADS_1
Di meja makan lumayan panjang ini aku melihat berbagai menu tersedia, yang keliatannya mampu mengalahkan pasukan cacing diperut ku ini.
Hanya saja perasaan benci kepadanya membuatku enggan untuk makan, seolah nafsu makan ku hilang dalam sekejap. Tak lama Devan mengambilkan nasi serta lauk pilihannya kepadaku.
"Kenapa kamu yang ambilkan, bukannya aku yang makan ya...?" tanyaku guna memulai rencana. Menatapnya dengan tatapan bingung.
Hal seperti ini memang sering aku dapati, dan biasa dia lakukan di kediamannya kepadaku. Entah karena maksud dan tujuan apa, tapi saat itu aku senang dia melakukannya.
Dan tentu saja lauk di piring ku ini adalah lauk kesukaanku. Dia mengambilkannya bukan sekedar asal saja.
"Apa kamu merasa terganggu Xia, menurutmu bagaimana?" tanyanya, tatapannya menyelidik.
Dari tadi aku perhatikan, Devan seperti halnya mengetes diriku saja.
Sebenarnya apa yang dia mau dari berbagai pertanyaan yang dia lontarkan kepadaku?
"Ya, aku merasa terganggu. Pertama aku tidak tahu dimana aku sekarang, kedua tentang dirimu.. aku tidak mengenalmu!" jawabku berterus terang dengan tatapan ku buat datar.
"Tunggu, apa kamu serius, tidak mengenalku?" Devan melihatku dengan tatapan terkejut.
"Tidak, tidak sama sekali."
Berbagai pertanyaan berputar dalam kepalaku, seperti.
Apa yang selama ini dia sembunyikan kepadaku, dan apa maksud dari dirinya yang akan menceritakan kisah tentang ayah?
Rasanya ceritanya akan panjang dan mengejutkan menurutku. Tapi aku bersikap acuh.
Ayahmu saat itu diketahui mengalami penyakit karena efek dari zat tertentu saat bekerja di lab sehingga mengalami kelumpuhan.
Mengakibatkan dirinya harus menerima konsekuensi dari surat perjanjian kerja, bahwa jika beliau mengalami kecacatan. Ia harus keluar dari tempat kerjanya.
Namun setelah beberapa hari ayahmu keluar diketahui pula banyak orang-orang yang terkena penyakit serupa membuat mereka lumpuh.
Masalahnya, ada seseorang yang mengetahui jika ayahmu menipu pihak lab. Dirinya sebenarnya tidak lumpuh.
Berpura-pura dalam keadaan itu agar dirinya keluar dengan cara tersebut. Sayangnya bukti-bukti itu lenyap.
Pihak-pihak yang berkontribusi untuk menyelidiki informasi tersebut pun kekurangan bahan.
__ADS_1
"Apa maksudnya, aku sama sekali tidak mengerti apa yang tengah kamu bicarakan," sahutku yang memang tak mengerti arah dari pembicaraan Devan melalui cerita berhubungan dengan ayahku.
"Huh... sebenarnya ayahmu pelaku pencurian beberapa data lab, dan juga penyelendupan produk dari masa lalu!" terangnya langsung to the point.
"Jadi kamu selama ini memata-matai keluarga aku ya, dasar, padahal aku sangat...."
"Kamu tidak lupa ingatan bukan? Dari perkataan mu sudah jelas kamu hanya berpura-pura saja sebelumnya," sela Devan, ucapanku terputus karenanya.
"Dengarkan penjelasan dariku Xia, aku tidak membunuh ibumu. Beliau sebenarnya...."
Kali ini gantian aku menukas perkataannya.
"Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun darimu, sudah jelas pada saat itu kamu tengah memegang pistol. Itu artinya kamulah pelakunya!" tegas ku dengan sorot mata tajam. Sebenarnya ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan aksi itu kepadanya.
Mengetahui keadaan di tempat ini sepertinya tidak dihuni oleh banyak orang, sepertinya halnya tempat kediaman tersembunyi.
Bahkan pisau dan garpu serta lainnya bisa ku gunakan untuk menyerang.
Sayangnya sisi baik dalam diriku seolah menolak pemikiran dari tindakan balas dendam ku itu.
Lebih ke arah menasehati ku untuk memastikan terlebih dahulu kebenaran terhadap kematian ibu.
"Bukan aku, ibumu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri," ucap Devan yang mana membuatku tersentak. Masih tak percaya.
"Tidak mungkin! Jelas saat ibu sekarat dia terlihat ketakutan," kilahku tak bisa mempercayai perkataan Devan begitu saja.
"Kalau begitu... buktikan jika dirimu tidak bersalah, dan jelaskan padaku dimana tempat ini, huh!" pada akhirnya aku menenangkan diri agar tak hanyut dalam emosi, sebenarnya aku memiliki niatan untuk melakukan hal buruk kepada Devan setelah mendengar pengakuannya itu.
Entah sebuah kebenaran atau kebohongan guna memanipulasi diriku.
Menyimpulkan rumah besar ini sangat sepi tak ada orang lain selain diriku dan Devan, aku akan.
"Baiklah, pertama-tama aku katakan bahwa dirimu sekarang ini berada di lantai masyarakat kelas atas. Saat ini sedang terjadi kerusuhan diberbagai tempat, lantaran bahtera ini sedang dalam masalah cukup serius!" Ucapannya barusan membuatku mengurungkan niat untuk mengambil tindakan.
Devan mengatakan lagi bahwa penyebab kerusuhan itu karena dua kubu pembelot yang ingin mengambil alih kepemimpinan.
Sebut saja kubu itu adalah kubu hitam, mereka bertindak melanggar hukum serta membuat berbagai kekacauan.
"Lalu mengenai ibuku, kamu pasti tidak membuat alasan seakan-akan itu adalah kebenarannya bukan?"
__ADS_1
"Tidak, aku serius. Ada kamera tersembunyi di setiap sudut rumahmu, terkecuali tempat pribadi. Sengaja aku pasang untuk berjaga-jaga," ungkapnya.