
Di kala mobil ini melaju dengan kecepatan melambat aku bisa melihat sekitaran begitu jelas, tanpa adanya gangguan.
Sepertinya Cristan sengaja memperlambat laju kendaraannya agar aku tenang dalam melihat-lihat.
"Tempat ini..." Aku begitu takjub saat melihatnya dengan seksama, sampai-sampai mulutku menganga.
"Sudah cukup takjubnya, tempat ini lagian dibuat khusus untuk suatu tujuan. Kamu akan mengetahuinya nanti, " ucap Cristan membuatku termenung maksud dari perkataan itu.
Tempat ini memang sepi tapi seluruh isinya ramai akan mesin mesin penciptaan kendaraan itu.
Ku amati luas tempat ini seperti tidak ada ujungnya, meskipun dari tempatku berdiri ini aku bisa melihat ujungnya bak fatamorgana disana.
Mobil ini pun berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis, namun kesan dari tampilannya begitu futuristik. Enak dipandang.
Seseorang lalu keluar dari rumah ini dengan penampilannya ala-ala ilmuwan. Terdapat kacamata hanya satu di mata sebelah kanan, orang itu lalu tersenyum hangat menyambut kedatangan kami.
__ADS_1
Entah mengapa saat aku perhatikan dengan seksama, dia seperti orang yang ku kenal sebelumnya, namun dalam fashion yang berbeda.
Aku pun mengabaikan perasaan tadi dan keluar dari mobil, Cristan entah mengapa dia bersikap seolah-olah menghormati diriku. Dia telah membukakan pintu untukku dengan caranya sendiri. Begitu elegan.
"Apa kamu baik-baik saja Xia, bagaimana perjalanannya? Kurasa kalian berdua mendapati masalah saat di tengah jalan, terutama dengan kejadian itu..." diakhir ucapannya pria paruh baya ini terkesan sedih, wajahnya menunduk perlahan.
Sebelum aku menyahut perkataannya aku menelisik kembali pria di depanku ini tanpa ada celah sekalipun, dan kesimpulannya...
"Ayah!?"
Sekarang hal yang mengejutkan datang lagi, kali ini ayah berpenampilan baru beda dari tahun-tahun sebelumnya. Tak ku sangka dapat melihatnya begini.
Itu membuatku sempat terkejut untuk beberapa saat, masih tak percaya. Setelah sadar bahwa pria paruh baya berpenampilan elegan serta persis seperti perangai seorang penemu, sungguh membuatku terbelalak.
Bahkan mataku dibuat membola dan sempat takjub untuk sesaat.
__ADS_1
"Ayah kenapa berpenampilan seperti ini, apa ada rahasia besar yang ayah sembunyikan selama ini?" tanyaku bernada pelan tapi menghanyutkan. Perwujudan dari segala pertanyaan yang ingin aku tanyakan selama ini kepada ayah. Di saat-saat seperti inilah kesempatan untukku menyikap hal itu.
Ayah terdiam sejenak seperti sedang berpikir untuk menjawab lontaran pertanyaan ku. Dia lalu membuka mulut.
"Maaf, ayah memang menyembunyikan banyak hal darimu, bahkan merahasiakan tujuan yang begitu besar selama ini."
"Tujuan..?"
"Tujuannya untuk keluar dari bahtera ini dan memulai kembali peradaban manusia di bumi."
"Sungguh? Ayah berkata begitu. Bukannya itu adalah tujuan yang membutuhkan usaha dan kerja keras serta pencapaian begitu besar, lebih objektif lagi butuh waktu lama agar dapat tercapai. Tapi apa yang mempelopori ayah berambisi se-menantang itu, aku penasaran?" ucapku dalam hati bermonolog, menerka-nerka.
Dan setelah aku ingat-ingat kembali pembicaraan waktu itu dengan Devan mengarah pada pembahasan kehidupan manusia di dalam bahtera ini, aku jadi ingin memastikan. Apakah manusia sudah sangat lama hingga ratusan tahun terkurung dalam luasnya dunia di dalam bahtera ini?
"Hmm, kamu pasti bingung mengenai tujuan yang ayah katakan tadi. Untuk itu kita makan siang terlebih dahulu, baru ayah ceritakan semua yang ingin kamu tanyakan, sekiranya jawaban ayah nanti dapat memuaskan mu!" seru ayah membuatku ceria dan tersenyum kepadanya.
__ADS_1