
Tak terasa kami sudah berkeliling beberapa saat di tempat yang menyegarkan dan memanjakan mata ini. Sungguh, tempat ini adalah destinasi impian bagi mereka sejak lama.
Bahkan aku pernah bermimpi berlarian bebas di suatu tempat yang luas bak hamparan hijau nan indah.
Bersama dengan seseorang yang tak dapat ku lihat wajahnya dengan jelas. Menurutku mimpi tersebut mungkin saja personifikasi dari kejadian di masa depan.
Flashback dari tempat sebelumnya, tempat pertama yang kami lewati tadi adalah area berisi tumbuhan hijau beranekaragam jenisnya. Serta terdapat danau dengan mata air yang cukup jernih.
Jujur saja, baru kali ini aku mendengar kata danau. Dan esensi dibaliknya dari kata itu sendiri.
Sebelumnya Devan sempat mengajakku untuk melihat dari dekat keindahan luar biasa itu.
Sampai kami berdua memutuskan untuk berfoto atas ajakan Devan yang mampu menghipnotis diriku.
Padahal aku sendiri sedang tidak mood berfoto mulanya.
Beberapa jepretan pun didapat dengan hasil memuaskan.
Kamera handphone milik Devan benar benar memiliki kualitas yang cukup bagus dalam menangkap gambar, bisa dibuktikan dari hasil jepretan tadi yang memiliki kualitas jernih dan mendetail.
Tempat kedua, atau tempat yang saat ini aku lihat adalah spot berisi jejeran tumbuhan bambu dengan ketinggian delapan kaki.
Suara angin bergemuruh membuat bambu yang satu dengan yang lain saling bersentuhan dan menimbulkan alunan khas.
Sisi kanan dan kiri kini sudah rimbun oleh tumbuhan bambu, diriku terus melangkah bahkan tak kenal waktu.
Dalam hati aku sangat menikmati waktu senggang ini sekaligus bersyukur. Dapat melihat hal yang belum pernah aku rasakan seumur hidupku.
Dress...
Hujan deras di suatu daerah hijau itu terdengar cukup menenangkan. Aku meminta Devan untuk berhenti terlebih dahulu untuk melihat momen menakjubkan itu, sekaligus merasakan efek hujan tersebut.
Devan menurut dengan hanya berdehem kepadaku.
Hanya beberapa wilayah di depan sana yang sedang dalam kondisi hujan.
Tentang hujan itu sendiri, menurutku adalah air yang turun dari atas yang berasal dari sumber tertentu.
Kembali melanjutkan perjalanan. Aku menemukan kolam es berisi ikan ikan mas didalamnya. Saking asyiknya aku lupa dengan Devan. Malah mendahului langkah Devan dan meninggalkannya tanpa di sengaja.
Kurasa aku terlalu bersemangat untuk mengeksplor spot spot di tempat wisata ini, mumpung sekarang ini hanya ada aku dan Devan saja sebagai pengunjung.
Sebenarnya aku memiliki niatan untuk menghabiskan waktu lebih lama di tempat ini.
Dari dekat memang kolam ini dalam kondisi beku, tapi anehnya di dalam air kehidupan tetap berlangsung normal.
"Kenapa biasa begitu, bagaimana penjelasan ilmiahnya?" gumamku penasaran sampai garuk garuk kepala.
__ADS_1
"Es yang kamu lihat ini sebenarnya sudah di atur sedemikian agar membeku pada bagian permukaannya saja. Caranya lumayan rumit untuk aku jelaskan!"
"Hmm, jadi masih bisa untuk dijelaskan ya..."
"Ya.. masih bisa."
Hening, aku melirik ke arah Devan dikala diriku sedang berjongkok. Dia rupanya sedang berkutat pada ponselnya tanpa tahu aku sedang memperhatikannya cukup lama.
Aku pun beranjak dan kembali melihat lihat area kolam, sambil sesekali mengambil gambar yang menurutku estetik.
Tring.
Sebuah pesan berisi video kini aku dapati secara tiba tiba.
Saat aku lihat, video tersebut memperlihatkan proses pengerjaan kolam besar. Yang kemudian menjadi es pada area permukaannya saja.
Berlangsung beberapa menit tanpa ku skip sama sekali.
Hingga akhir video ku tonton dengan serius.
"Bagaimana?" tanya Devan spontan, kurasa merujuk pada video yang ku tonton barusan.
Dialah dalang dibalik pesan berisi video tersebut. Dan alasan dirinya mengirimkannya kepadaku mungkin saja karena sebelumnya aku sempat bertanya mengenai penjelasan ilmiah kolam ini.
Sisi baiknya aku mendapatkan ilmu serta obat dari rasa penasaranku di awal, tentang fakta ilmiah di balik kolam aneh ini.
"Semua dijawab tuntas di video tadi. Btw kamu minta video itu langsung dari staff tempat ini ya... Kalau boleh tahu kenapa kamu sampai berinisiatif untuk meminta video itu?" tanyaku sambil berniat menggodanya.
"Haah... ya sudah, aku kira itu demi aku..." ucapku dengan bergumam di akhir kalimat. Ada perasaan sebal terhadap Devan.
Karena dirinya yang tak mau mengakui perbuatan baiknya kepadaku.
Lalu kami berdua beristirahat sejenak di sebuah pondok penuh akan tumbuhan berbuah.
Semua tumbuhan tersebut nyatanya bisa langsung dikonsumsi, kata seorang wanita yang dengan ramah menyambut kami berdua.
•••
Puas menikmati keindahan tempat wisata ini berserta semua spot spot unik, aku berniat untuk mandi di sebuah pusat pemandian khusus.
Kata Devan disana juga menyediakan penginapan bagi pengunjung yang lelah setelah menikmati suguhan indah.
Saat aku amati tempat tersebut tampak segar dan hidup, karena tumbuhan hijau seakan mengelilingi setiap lapisan tempat tersebut.
Kesannya menenangkan dari filosofi warna hijau terhadap tumbuhan itu sendiri.
"Haah.. nyamannya... Ini yang namanya hidup. Atau sebuah keberuntungan yang kudapat dari kehidupan keras yang dahulu aku jalani."
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat yang tanpa aku sadari jam di ponselku menunjukkan pukul 15.00.
__ADS_1
Saat ini aku sedang berada di dalam pemandian air panas sendirian. Berendam sembari merilekskan diri dan pikiran sejenak.
Sementara Devan berada di sebelah, area pemandian pria yang terhalang oleh dinding.
Beberapa menit berlalu, aku pun memutuskan untuk keluar dari kolam.
Sebuah kabar mengenai penggusuran aku ketahui dari pesan yang ibu kirimkan sekarang.
Mataku membulat sempurna. Pada saat membaca bagian pesan yang mengatakan bahwa Devan mengalihkan penggusuran ke sektor lain.
Mengartikan bahwa tempat tinggal ku tidak akan digusur besok.
"Yeeeah!!!"
Senang dengan kabar baik barusan aku pun mempercepat proses memakai pakaian hangat. Yang cocok dengan suhu tempat ini.
Usai mengenakan aku langsung saja berlarian menuju tempat Devan berendam.
Pintu masuk ku dapati tidak terkunci. Dan setelah aku masuk kedalam sembari mencari keberadaan Devan dengan mengendap endap.
Keberadaannya tidak dapat kutemukan sama sekali.
Pencarian masih berlanjut, namun sayangnya Devan masih belum ku temukan.
Keadaan lalu menjadi hening, persis seperti kondisi air di depan sana. Yang memancarkan lingkungan di sekitarnya.
"Kenapa sih dia susah banget dicari. Terus tempat pemandian pria kelihatannya ekstrim banget, soalnya menyatu dengan alam. Kalau aku sih agak takut, takut ada yang memperhatikan secara sembunyi-sembunyi..."
Di area gelap di luar area pemandian pria, aku melihat Devan sedang berbicara lewat sambungan telepon.
Tanpa sadar aku mendengarkan percakapan mereka yang mengatakan penyelidikan lebih lanjut. Terhadap seseorang yang menjadi buron.
Ketika aku dengarkan baik-baik Devan berkata dirinya menemukan sebuah petunjuk yang mengarah pada pelaku pencurian harta Karun berupa produk produk peradaban dahulu.
Harusnya aku tidak menguping pembicaraan Devan saat ini, namun satu hal yang membuatku penasaran adalah...
Penyelidikan tersebut dilakukan di kediaman ku.
Jelas sekali Devan mengatakan alamat rumahku kepada orang yang di utus olehnya.
Aku jadi memiliki firasat bahwa orang yang telah membius ku di tempat aneh itu berhubungan dengan buronan yang sedang dicari cari.
"Tunggu.. jika benar begitu, maka tersangka yang sekiranya cocok menurutku..."
Tap.
__ADS_1
"Kyaaa!?"