Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Satu Kesamaan


__ADS_3

"Apa yang sedang kamu lakukan, kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti ini?" tanya Devan kepadaku.


Aku tidak menyangka bahwa dia bisa begitu dengan cepat sudah berada di belakangku. Alhasil, membuatku berteriak seperti orang yang sedang dalam bahaya.


"...aku tadi mencari mu! Terus disini aku melihat seseorang dalam kegelapan, aku penasaran, jadi..."


"Hmm, aku mengerti. Lalu, apa ada yang ingin kamu bicarakan kepadaku?"


"Ah.. iya. Untuk itu... barusan aku mengetahui kabar dari ibu, jika kamu sudah selesai dengan tugasmu!"


"Tugas!?"


Perkataan ku barusan terlalu cepat, lantaran Devan mendekatkan wajahnya kepadaku begitu dekat dengan tatapan menyelidik.


Sehingga aku menjawab perkataannya yang sekennya di kepala.


"Maksudku... kamu sudah benar-benar membantuku dengan mencegah penggusuran itu. Maka aku kesini untuk mengucapkan terimakasih kepadamu..." ucapku sembari membungkukkan badan sebagai rasa terimakasih.


"Oh, itu bukanlah hal yang sulit. Lagian keputusan pemerintah itu tidak ku sukai dari awal!"


"Begitu ya... aku senang karena seseorang memiliki pemikiran yang sama denganku."


Menurutku pemerintah terlalu cepat untuk memutuskan suatu keputusan yang mempengaruhi kehidupan rakyatnya.


"Kamu ini, jangan seolah-olah kamu sudah mendekati umur remaja kamu jadi berpikiran seperti itu. Dan sepertinya kamu harus datang malam ini ke kamarku, ada hal yang ingin aku bicarakan!"


"Ada apa?"


"Apa aku tidak salah mendengar ucapanmu barusan... ka-mu menyuruhku untuk datang ke kamarmu malam ini? Bukannya itu artinya kita..."


"Menginap. Kamu tenang saja karena aku sudah memberitahukan akan hal ini kepada orang tuamu, dan mereka menyetujuinya!"


"Huh... kamu memang tidak bisa diajak romantis ya."


Sebagai guru terkadang Devan bersikap serius, walaupun hanya ada kami berdua sekarang.


Mengingat lagi perkataannya barusan ada kemungkinan Devan membutuhkan kehadiranku malam ini. Ya, semoga saja begitu.


Hanya saja yang menggangguku adalah perkataannya tadi yang terdengar ingin membicarakan sesuatu denganku.


Hal itu membuatku penasaran apa tujuannya.


...


Karena melihat Devan yang terus-terusan membalas pesan pada ponselnya aku jadi merasa keberadaan ku disini tidaklah diperlukan, malah seperti menganggunya.


Perasaan canggung ini membuatku ingin cepat cepat pergi.


"Tunggu. Sebelumnya... sejak kapan kamu berada di ruangan ini?" tanya Devan mendadak sembari menahan diriku saat hendak pergi, saat aku sudah berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkannya.


Dari nadanya Devan ingin sekali aku jujur.


"Aku baru saja kemari!"

__ADS_1


Namun mulutku tidak selaras dengan hati yang berniat untuk jujur dengan keadaan.


Seolah sebuah peringatan agar aku menyembunyikan fakta yang sesungguhnya.


"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat terlebih dahulu sebelum makan malam disiapkan!"


"Iya!!"


Senyuman manis aku perlihatkan untuk menutupi kegugupan yang tengah aku rasakan, akibat dari kebohongan tadi.


Baru setelah itu aku pergi meninggalkan Devan, yang memang sedang membutuhkan waktu sendiri guna menyelesaikan kesibukannya.


Kembali melalui lorong sepi, dikarenakan penginapan ini khusus untuk tamu VIP, dan aku baru mengetahui beberapa saat yang lalu. Dikala pencarian Devan berlangsung.


Namun siapa sangka, aku melihat seseorang yang sedang menuju kemari dari ujung lorong depan sana.


Ketika sudah dekat dan kami berdua sempat berpapasan, dia sama sekali tidak menyapa diriku.


Hanya lewat dengan raut wajah tanpa ekspresi dengan kedua tangan yang ku lihat membawa beberapa buku.


Penasaran dengan anak laki-laki yang ku lihat barusan aku pun menghentikan langkah. Lalu berbalik badan untuk melihat dia akan pergi ke arah mana.


Dan saat aku berbalik, aku sudah tidak menemukan anak itu lagi. Dia seolah hilang dalam kesunyian. Membuatku merasa tidak enak untuk sesaat. Perasaan campur aduk memenuhi diriku saat ini.


Kembali melanjutkan langkah yang terasa berat untuk menapaki lantai dari kayu ini.


"Ehem!"


"Huaaa!!"


"Ma..af, aku tadi melamun."


Perempuan itu hanya tersenyum simpul saat aku menjelaskan hal barusan kepadanya. Dia lalu menunjukkan secarik kertas yang terdapat tulisan.


"Maafkan saya nona cantik, saya tidak bisa berbicara. Jadi saya tidak bisa mengobrol kan hal menarik selagi mengantarkan nona cantik ke kamar suite. Ataupun menyapa dengan baik barusan!"


"Tidak apa-apa kok..." ucapku tak kalah menyunggingkan senyuman kepadanya.


Sebuah kata dari secarik kertas dia perlihatkan lagi kepadaku.


"Senang rasanya... hanya saja untuk hal barusan saya merasa tidak enak, jadi sekali lagi saya minta maaf."


Dari ekspresi wanita ini aku menebak jika dia memiliki pribadi yang lembut dan penuh kasih sayang.


Namun siapa sangka dia membantuku secara tak sengaja barusan.


Dikala langkahku terasa berat dia datang menemui ku begitu tepat.


Menghilangkan bayang-bayang sosok laki-laki tadi yang sempat membuatku ngeri.


Di kamar suite ini aku pun beristirahat sembari menunggu waktu makan malam disiapkan.


Sayangnya aku tidak tahan hanya menunggu dengan bersantai-santai saja. Apalagi dikala penantian yang baru hitungan menit, aku merasa ingin keluar dari kamar dan menjelajahi seluruh bagian dari penginapan ini.

__ADS_1


Instingku bahkan mengatakan rugi apabila diriku berdiam diri sambil menunggu.


Keluar dari kamar, aku pun bergegas menuju tempat yang sekiranya ingin aku datangi. Melalui denah pemberian perempuan itu, aku bisa mengetahui tempat-tempat di dalam penginapan tanpa tersesat.


Sebuah perpustakaan dengan nuansa hijau yang dapat memberikan ketenangan bagi pengunjung yang kemari.


Aku juga merasakan hal positif dalam diriku, yang mana membuatku bersemangat untuk mencari buku sejarah.


Mencari dan mencari, namun buku sejarah yang aku cari sungguh sulit untuk ditemukan.


Tentu saja aku tahu kenapa buku seperti itu sangat sulit untuk ditemukan, karena sejarah yang ingin aku ketahui adalah sejarah yang berhubungan langsung dengan bumi.


Peradaban dahulu kala yang mampu menembus awan dalam puisi yang pernah aku baca.


Jujur ada makna dibalik bait puisi itu.


"Kamu...!?"


Secara kebetulan aku bertemu dengannya lagi.


Anak laki-laki tanpa ekspresi yang sebelumnya aku lihat.


Dia berada di ruangan pribadi yang aku paksakan untuk masuki, lantaran seseorang mengatakan bahwa penjaga perpustakaan menyukai sesuatu berhubungan dengan sejarah.


Dikatakan juga di ruang pribadinya memiliki banyak koleksi buku-buku sejarah. Yang kemungkinan ada buku sejarah yang aku cari.


Dan benar saja, ruangan pribadi ini cukup luas bagi seorang penjaga perpustakaan mengistirahatkan diri.


Tapi kali ini aku merasa ditusuk saat melihat tatapan tajam anak itu.


"Apa yang kamu lakukan disini? Ruangan ini tidak seharusnya kamu masuki."


"... aku sebenarnya mau meminjam buku penjaga perpus hehe.."


"Tsk, orang luar sepertimu mengerti apa tentang buku-buku ini?!"


"Reaksinya terhadapku begitu..."


"Dengar, aku tidak akan mengijinkan mu untuk menyentuh buku-buku ini, jadi pergilah!" ujar anak itu dengan nada peringatan.


Ya. Mau bagaimana lagi, lagian sifat anak ini perfeksionis. Tapi...


"Padahal aku ingin mempelajari tentang bumi!" gumam ku sambil berjalan menuju pintu.


"Tunggu!"


"Apa kamu bilang 'bumi' apa aku tidak salah dengar?" tanya anak itu dengan ekspresi sedikit terperangah.


Sebenarnya aku mengetahui anak ini memiliki ketertarikan tentang bumi, aku mengetahuinya dari buku-buku yang dibawanya.


Semua buku itu ku yakini berisi pengetahuan tentang bumi.


Dengan ini aku memiliki cara untuk membuatnya tak mengusirku.

__ADS_1


__ADS_2