
Kini aku berada suatu ruangan makan dengan interior minimalis serta bergaya klasik, sembari menikmati hidangan yang tersaji begitu rapi dan beragam di atas meja.
Ayah kemudian menjelaskan padaku mengenai kesalahan informasi tentang lama manusia hidup di dalam bahtera ini, sebuah bahtera berwujud kapal selam raksasa.
Dan benar seperti apa yang dikatakan oleh Devan sebelumnya, perkataannya sama persis dengan penjelasan ayah barusan.
Itu artinya Devan memang memiliki maksud tersendiri mengapa tidak langsung menyelesaikan misinya untuk segera menangkap diriku.
Yang seharusnya dicari-cari oleh pihak tertentu lantaran memiliki hubungan dengan pencuri produk makanan maupun minuman manusia di masa lalu, sebelum bencana besar menginvasi bumi. Itulah kesimpulannya.
Lanjut melahap menu dari masakan daging bakar terdapat mayones dan lalapan, ayah menceritakan kejadian mengapa ibu sampai memilih untuk bunuh diri.
Meskipun topik ini terdengar tak pantas untuk di bicarakan saat makan siang berlangsung, tapi jujur aku sangat menantikannya.
Ayah bilang ibu memilih untuk bunuh karena penyakit yang dideritanya, semacam penyakit yang katanya bisa menular jika di stadium akhir. Dan ibu penyakit ibu saat ini sudah mendekati stadium akhir.
Jadi ada maksud tertentu mengapa ibu sampai menggunakan nyawanya untuk membuat diriku benci. Benci kepada Devan, kata ayah.
Aku sempat menyela pembicaraan ayah, bahwa penyakit yang ibu derita bisa saja diobati.
Namun ekspresi ayah berubah menjadi murung dengan helaan nafas berat, ia menjelaskan mengenai penyakit yang ibu derita bahwasanya penyakit itu tak bisa disembuhkan. Oleh berbagai macam pengobatan di tempat ini.
Meskipun teknologi sudah sangat canggih dan modern menurutnya.
__ADS_1
Penyebabnya, karena kekurangan jenis tumbuhan obat yang minim di dalam bahtera ini. Padahal penyakit yang ibu derita bisa saja disembuhkan jika bahan utamanya tidak sukar untuk didapat.
"Jadi seperti ini, ayah dulu memang mengambil produk makanan dan minuman manusia yang hidup di bumi. Milik badan pengurus temuan masa lalu, sebab ayah membutuhkan produk itu!"
"Tapi kan yah, buat apa produk-produk itu masih ayah simpan jika pada akhirnya akan kadaluwarsa?" tanyaku mengemukakan pendapat logis.
"Memang benar dari tanggalnya produk itu sekarang ini dalam kondisi kadaluwarsa, bahkan sudah sejak lama. Tapi hal itu berlaku bagi produk biasa, sedangkan produk tersebut tahan hingga puluhan tahun."
Benar-benar penjelasan ayah membuatku terperangah apalagi mendengar bahwa produk di ruangan waktu itu ternyata mampu bertahan sampai puluhan tahun.
Bukannya hal itu sangat luar biasa sekali, bahkan manusia yang hidup di bumi dahulu memiliki keterampilan serta teknologi termutakhir dan inovatif.
Setahuku di dalam bahtera ini entah di masyarakat kelas bawah maupun atas, atau menengah. Sama sekali tak ada edaran produk tahan lama.
Tapi bisa saja produk seperti itu memang ada dan dibuat oleh orang-orang di dalam bahtera, hanya saja kalau iya mungkin dirahasiakan.
"Benar, ayah akan mengunakan produk tersebut untuk bekal orang-orang yang bersedia pergi dari bahtera ini untuk kembali ke daratan, menggunakan kapal selam rancangan ayah!"
"Ya ampun yah... apakah ibu tahu tentang hal ini, ibu pasti bangga mengetahui ayah adalah seorang penemu," ucapku usai menyimak perkataan ayah barusan.
Jadi sekarang aku mengerti mengapa banyak kapal selam yang menggantung di atas tadi, ternyata sengaja diciptakan dalam skala jumlah besar-besaran untuk dijadikan tumpangan mereka nanti.
"Oh ya, kan di bumi, um... lebih tepatnya di daratan sudah hancur karena bencana dahsyat yah?"
__ADS_1
"Apa masih bisa untuk kita tempati?" tanyaku ingin tahu sekali bagaimana jawaban ayah.
"Hem... kamu ini, tentu saja masih bisa. Karena bumi memperbaiki dirinya sendiri dikala kehidupan manusia dengan segala aktivitasnya tidak lagi sesering saat bencana itu belum terjadi, coba kamu bayangkan?"
Setelah aku pikir-pikir memang masuk akal, setahuku dalam buku pengetahuan tentang bumi kehidupan manusia sangatlah sibuk.
Bahkan dalam milidetik pun aktivitas di seluruh belahan dunia terus menerus berlangsung tanpa henti, seakan abadi.
Tentu saja jika aku bayangkan bumi adalah seorang pekerja kantoran yang terus lembur tanpa jeda, maka akan berakibat buruk secara perlahan.
Sama halnya dengan muka bumi yang berubah seiring berjalannya waktu dari tahun, hingga masa yang berlalu.
Terlihat perbedaan sangat signifikan yang mengubah banyak hal di masa depan.
"Cristan!? Maaf aku, aku jadi sibuk mengobrol dengan ayah sampai lupa denganmu, maaf...."
"Tidak apa-apa, lagian aku butuh waktu untuk menikmati hidangan lezat ini. Aku memang sedang lapar!" terang Cristan.
"Hahaha kalau begitu aku minta maaf juga sebagai tuan rumah, karena membuatmu menjadi angin lalu," timpal ayah, ucapannya merujuk kepada Cristan.
"Ya. Anda memang selalu ramah. Seharusnya saya yang berterimakasih atas segala sajian hidangan ini. Benar-benar sangat lezat dan menggugah selera bagi mereka yang lapar," kelakar Cristan yang ku tahu apa maksudnya.
Ayah kemudian terkekeh usai mendengarnya.
__ADS_1
Memang makanan apapun akan sangat lezat jika perut kita sedang lapar, berlaku bagi makanan yang terasa biasa-biasa juga.
"Btw kamu kenal ayahku sejak kapan Cristan?" tanyaku, namun entah mengapa mereka berdua terdiam saat ini. Ada apa, Apa aku salah berbicara barusan?