Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Merasa Asing


__ADS_3

Perkataan ibu barusan membuatku agak terkejut karena nyatanya dia meminta bantuan Devan melalui diriku.


"Ibu tahu keluarga tuan Devan sedang dalam masalah, tapi ini menyangkut tempat kita Xia. Jika kita pergi dari sini dengan uang kompensasi mungkin akan banyak masalah dikemudian harinya!"


Aku masih belum mengerti tentang banyak masalah yang dikatakan oleh ibu, sepertinya aku perlu penjelasan dari ayah.


"Gini Xia, kemungkinan uang tidak lagi memegang puncak kekuasaan, dan akan tergantikan oleh sesuatu yang dapat membuat kelangsungan hidup seseorang semakin terjamin!"


"Tapi kan yah, uang kan bisa membeli kelangsungan hidup itu?" tanyaku ingin tahu lebih jelas lagi maksud perkataan ayah barusan.


"Sebenernya ayah memiliki spekulasi bahwa pemerintah sengaja memberikan kompensasi besar itu karena tahu hal buruk yang akan terjadi, akibat dari inflasi!"


Jika aku teliti lebih lanjut ada ketidakcocokan spekulasi ayah dan alasan pemerintah dalam memberikan kompensasi dari lahan yang akan mereka gunakan. Tapi aku masih belum mengerti.


"Tapi Bu, ibu tahu sendiri kan, keluarga tuan Devan mungkin sedang fokus menyelesaikan masalahnya. Apalagi aku dengar menyangkut ayah tuan Devan sendiri. Jujur saja aku merasa tidak enak!" jelas ku kepada ibu beserta ayah, bukannya aku tidak mau membantu ibu dengan cara itu. Hanya saja akan terlalu berisiko meminta bantuan kepada Devan tanpa mengetahui keadaan keluarganya.


Pada akhirnya ibu mengerti, ia lalu pergi setelah mengucapkan terimakasih kepadaku atas oleh oleh yang aku berikan.


Seperti halnya ibu mengabaikan hal tadi dan pergi begitu saja.


Dilanjutkan oleh ayah yang menyuruhku untuk beristirahat karena kesempatan liburan yang diberikan oleh keluarga Li kepadaku.


"Iya yah, aku akan beristirahat dulu."


Sepertinya saran ayah ada benarnya juga, diriku perlu beristirahat dari rutinitas harian saat bekerja di kediaman keluarga Li.


•••


Tak terasa hari sudah berlalu begitu cepat, jam demi jam berlalu. Kini menunjukkan pukul 14.00, tak ku sangka aku sudah tertidur selama enam jam.


Rasanya nyenyak sekali aku tertidur, tidak ada mimpi sama sekali. Diriku berasa segar bugar dan siap untuk beraktivitas kembali.


Di meja makan aku duduk sembari menyiapkan makan siang dengan menaruh nasi dan lauk pauk pada piring.


Habis tidur entah mengapa aku sangat lapar, hingga ada dorongan ingin makan dalam porsi besar.


"Sepertinya di rumah sedang tidak ada siapa-siapa, Marin mungkin sedang berbelanja atau sekedar keluar," gumam ku disela-sela mengunyah makanan.


Sehabis makan sebenarnya aku memiliki niatan untuk menjelajah rumah yang begitu besar ini, yang tak ku sangka adalah istanaku.


Ada beberapa ruangan dan tempat baru yang belum aku jelajahi maupun melihatnya secara langsung. Ayah bilang banyak tempat baru di rumahku, namun harus menunggu ayah yang memanduku.


Itulah sebabnya aku berpikir kedua kali sekedar untuk menjelajah rumah sendiri.

__ADS_1


Habis minum air putih setelah usai makan siang sampai lima kali nambah perutku sudah sangat kenyang untuk bergerak.


"Sekali-kali aja aku makan banyak, lain kali aku harus mengatur pola makan guna menjaga berat badan."


Tidak ada salahnya bukan, aku menjelajah rumahku ini yang seakan baru. Sampai tidak aku kenali perbedaannya dengan yang dulu. Untungnya saat aku pulang aku melihat penanda dari rumah tetangga dan mencoba bertanya.


Lagian ayah ada-ada aja menyuruhku untuk tidak mengeksplor rumah ini.


Ruangan yang pertama aku telusuri adalah ruangan kamar pada lorong panjang, disini ada banyak kamar yang sepertinya dibiarkan kosong.



"Eh.. ruangan ini sepertinya tempat Marin beristirahat. Um... aku bisa menebaknya dari pakaian yang tergeletak di tempat pakaian kotor!"



Ruangan lain yang menyambung pada dapur terkesan astetik dan rapi. Sampai aku memotret diriku sendiri yang kata Devan disebut dengan selfie, aku mencobanya dan akan menunjukkan kepadanya nanti.


"Tapi kok merekam ya, duh... aku masih bingung dengan ponsel!"


Selang beberapa menit akhirnya aku berhasil memotret diriku sendiri, tiga pengambilan aku lihat hasilnya lumayan memuaskan.


Enam lebih tempat tempat baru berkesan mewah serta astetik aku jumpai, nyatanya aku memahami perubahan ayah dan ibu. Seakan bukan mereka yang dulu.


Aku juga tidak rela sih jika rumah yang seperti mimpi ini harus di gusur.


"Tunggu. Apa mereka menggunakan uang tabungan yang aku pisahkan saat waktu gajian?"


"Enggak mungkin sih, ayah dan ibu sampai segitunya. Nanti aku tanya deh.."


Puas menjelajah aku lupa waktu jika jam sudah menunjukkan pukul 16.00, pastinya mereka maupun Marin sedang mencariku sekarang.


Tap.. tap.. tap..


Tap.. tap.. tap..


"Huft... aku tersesat!"


Tak ku sangka aku bisa tersesat di rumahku sendiri saking luasnya, dan masih asing bagiku. Gara-gara menikmati keindahan di dalam setiap ruangan sembari memotret, aku jadi lupa dengan rute jalan yang aku lalui.


"Astaga... ada-ada aja, aku malah tersesat."


"Ya udah deh.. aku keliling-keliling dulu. Siapa tahu aku melewati jalan yang pernah aku lalui."

__ADS_1


Parahnya lagi aku sampai lupa tempat yang sebelumnya aku lihat.


Tidak ada cara lain, aku pun membuka ponsel dan membuka galeri foto. Melihat wajah tampan Devan sepertinya akan membuatku tenang.


Dan benar saja, rasa khawatir aku berkurang drastis saat melihat fotonya selagi aku memikirkan suatu cara.


Serta aku harus mencuci muka terlebih dahulu agar fresh kembali pada kran air di wastafel.


Saat aku mencuci muka dengan air yang terasa menyegarkan ini, aku juga mendengar lagu vibes slow yang menenangkan.


Membuatku menikmati waktu mencuci muka ini yang sengaja aku lama-lamain.


"Nanananaa..."


Bahkan aku sampai bersenandung mengikuti irama lagu.


"Halo Xia.."


"Udah selesai aja musiknya, padahal aku sedang menikmati!"


"Halo Xia? Kamu yang menelpon ku kan?"


"Suara Devan??"


Mendengar suara Devan pada ponsel yang aku letakan tak jauh dari wastafel, aku pun dibuat berjingkrak.


"Iya, iya tuan.. maksud aku Devan."


Langsung aku raih ponsel tersebut yang ku letakkan di telinga terasa basah.


"Kenapa kamu nelpon aku, apa kamu mau aku pulang? Aku bersedia kok!"


"Huh, bukannya kamu yang lebih dulu nelpon aku ya? Terus aku tidak mengijinkan kamu pulang dulu.."


"Kamu mau isengin aku ya, aku tahu kamu yang nelpon bweee..."


"Hei... aku serius, aku benar-benar nggak tertarik untuk menelpon anak kecil yang kegeeran sepertimu..."


Mendengar ucapannya aku langsung malu tak berani bicara lagi, karena aku faham betul dengan nada Devan. Barusan dia serius mengatakannya.


"Terus, siapa yang menelpon Devan? Aku kan sedang cuci muka barusan??"


Jujur karena aku tahu dia tidak menelpon ku aku jadi merinding saat mengamati sekitaran.

__ADS_1


"Jangan-jangan rumah ini ada hantunya!?"


__ADS_2