Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Tamu Terhormat


__ADS_3

Langsung saja ayah beranjak dari tempat duduk untuk membukakan pintu, sedangkan ibu menyiapkan piring yang diisi dengan nasi dan lauk.


"Xia mau lauk apa?" tanya ibu lembut kepadaku.


"Xia..."


"Eh.. ya Bu, maaf. Aku mau lauk sayur sama ikan aja Bu.."


Beberapa saat kemudian.


Aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tak disangka dia akan mampir ke rumahku lagi.


Devan yang saat ini berdiri tak jauh dariku hanya memandangi diriku seperti biasa.


Lalu ayah datang bersamaan dengan ibu yang sebelumnya mengambil tisu.


Tentu ibu langsung menyapa kedatangan Devan yang mendadak ini, bahkan aku lihat ibu begitu terkejut sekali. Dan antusias ketika menyambutnya.


Devan kemudian duduk setelah ibu menyuruhnya dengan lembut dan sopan mengingat Devan adalah orang asli kelas atas yang akan menjadi pemimpin nantinya.


Jadi perlakuan kepadanya pun harus spesial, begitulah menurut pandanganku.


Ibu lalu bertanya kepada Devan tentang maksud Devan yang datang kemari tanpa mengabari terlebih dahulu, alhasil tidak ada sambutan tertentu sama sekali.


Dari ekspresi ibu aku tahu ibu masih shock atas kedatangan Devan, hanya saja ibu mengunakan argumen lain yang logis.


"Jadi saya memiliki sebuah janji kepada Xia, itulah sebabnya saya harus menempati janji itu sebagai seorang pria!"


"Janji?" ibu terlihat kebingungan saat mendengar hal barusan.


"Sebenarnya saya akan mengajak Xia ke suatu tempat di wilayah ini, benar begitu Xia?"


"Um... iya, aku ingat janji itu hehe.."


Pada akhirnya kami tidak melanjutkan pembicaraan lagi saat sarapan pagi berlangsung.


Mungkin ibu dan ayah sudah mengetahui kebiasaan Devan yang kala makan lebih memilih untuk diam dibandingkan berbicara.


Beberapa menit berlalu, sarapan pagi pun berlangsung khidmat.


Saat aku berada di dapur hendak mencuci piring, ibu berkata kepadaku bahwa inilah kesempatan yang tepat untuk meminta bantuan kepada Devan.


Dan perkataan ibu mengingatkan diriku akan pembicaraan empat mata ketika bersama ayah.


Yang katanya penggusuran akan dilakukan dua hari lagi di area sektor ini. Itupun aku ingat aku berbicara dengan ayah kemarin. Yang artinya hari ini adalah hari terakhir sebelum penggusuran dilakukan.


"Xia... bukannya ibu memaksa kamu untuk meminta bantuan kepada tuan Devan, hanya saja ibu tidak mau meninggalkan tempat penuh kenangan ini..." ujar ibu dengan nada sendu.


"Iya Bu... aku mengerti. Aku akan bicarakan hal itu kepada Devan, ibu tenang aja ya..."


"Sekali lagi ibu minta maaf."

__ADS_1


"Ga papa kok Bu, lagian aku juga ingin meminta bantuan kepada Devan sebelumnya."


Kali ini ekspresi ibu terlihat senang seperti mendapatkan kebahagiaan yang tak disangka sangka.


Jujur saja, barusan ibu bilang sayang sekali meninggalkan rumah ini, karena banyak sekali kenangan selama tinggal puluhan tahun disini. Dan berat rasanya untuk meninggalkannya begitu saja.


Akan tetapi ibu tidak mencegah renovasi rumah ini yang sudah meninggalkan bentuk aslinya saat itu. Menurutku tidak kontras dengan perkataannya.


Keluar dari dapur aku kembali menuju meja makan dimana saat ini ayah dan Devan sedang mengobrol dikala waktu selesai makan. Dengan spontan aku menyela pembicaraan mereka berdua.


Hingga Devan maupun ayah melihatku yang tengah berdiri tak jauh dari mereka dengan senyuman canggung.


Disaat tak terduga, ayah memutuskan untuk pergi. Katanya ada sesuatu yang harus dikerjakan. Yang mungkin cuma dalihnya saja.


Membiarkan aku berduaan dengan Devan.


Dia langsung saja pergi setelah pamit, meninggalkan diriku yang tengah mematung di tempat tanpa penjagaan.


"Kemarilah Xia, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan!" titah Devan sembari mengibaskan tangannya ke arahku.


"Um... bisakah kita pindah tempat. Aku juga perlu berbicara sesuatu denganmu..."


"Tentu saja."


Senyuman miring Devan entah mengapa membuatku terkejut barusan.


Akan lebih baik jika aku mengajak Devan untuk pergi ke kamarku, bukan untuk melakukan hal yang tidak tidak. Ataupun aku memiliki rencana jahat padanya.


"Bukannya ini kamarmu Xia, kamu berani sekali ya membawa pria asing kemari!" ujar Devan saat aku menyuruhnya untuk masuk kedalam.


"...bukan seperti yang kamu pikirkan, aku cuma ingin membahas hal itu. Lagian kamu bukan pria asing bagiku!"


"Lalu aku ini siapa bagimu?"


Tubuh bagian belakang ku menabrak dinding lantaran Devan mendekatkan dirinya begitu dekat denganku. Dikala aku mundur kebelakang secara perlahan.


Tentu saja momen ini membuatku seolah tersudutkan sekaligus malu.


"Ka..mu... adalah... majikan aku, iya majikan!"


"Huh?"


"Baiklah, kalau begitu tatap mukaku saat sedang berbicara. Jangan melihat kesamping. Bukannya kamu harus menurut padaku!"


Sebenarnya aku grogi jika harus menatap wajah Devan dari dekat sangat dekat hingga terjadi pandang pandangan seperti saat ini.


"Tunggu, wajahmu memerah?"


"Itu... itu... karena aku sakit sebelumnya!!" jawabku spontan setelah Devan berbicara.


Secara mengejutkan, aku langsung dibopong olehnya masuk kedalam kamar secara tiba-tiba.

__ADS_1


Dia lalu membuatku beristirahat dengan membaringkan diriku di tempat tidur. Yang kemudian Devan berbalik badan dan melangkah menuju pintu.


Aku mendengar Devan bergumam mengenai kabar yang dia dengar dari seseorang, yang ternyata kabar tersebut adalah sebuah kebenaran. Bahkan aku bisa membaca ekspresinya yang mengekspresikan rasa penyesalan.


Tak lama Devan meraih ponselnya pada saku celananya untuk menghubungi seseorang.


Sementara diriku bingung dan hanya memperhatikan Devan menunggu panggilan itu diangkat.


Nyatanya dia memanggil dokter pribadi untuk datang kemari.


"Tunggu Devan, aku tadi asal bicara!"


"Tidak. Kamu beneran sakit. Maaf aku tidak menanyakan keadaanmu dari awal."


"Kamu lebih baik beristirahat sejenak terlebih dahulu!"


"Tapi.. aku sudah sembuh..."


"Xia.. menurut lah, aku tidak ingin dirimu sakit terlalu parah."


Lebih baik aku diam dan tidak mengusiknya lagi untuk saat ini.


Devan begitu kekeh ingin aku beristirahat, yang padahal dia tahu saat aku makan aku masih baik baik saja.


Devan kemudian keluar meninggalkan diriku di kamar.


"Hum kurasa tidur lagi akan membuat kepalaku pusing. Sudah cukup tidur panjang kemarin."


•••


Tak lama Devan kembali sembari membawa keranjang buah dan plastik putih berisi tablet obat.


Beberapa menit setelahnya seorang dokter datang dan langsung memeriksa diriku, setelah ijin terlebih dahulu kepada Devan.


Hasil dari pemeriksaan mengungkap bahwa diriku sebelumnya pernah dibius.


"Apa benar begitu?"


"Benar tuan muda, sakit kepala yang dirasakan Xia sebelumnya diakibatkan oleh efek obat bius yang dipergunakan dalam dosis berlebih. Mungkin seseorang telah..."


"Ya aku mengerti. Aku akan selidiki hal itu."


"Ngomong-ngomong tuan muda, besok tempat ini akan digusur. Hari ini terakhir masyarakat di sektor ini mengemasi barang-barang mereka!"


"....."


Devan terdiam ketika dokter itu mengatakan tentang penggusuran.


Dan ku harap aku dapat mengatakan hal itu kepada Devan dengan jelas mengenai penolakan keluargaku pada penggusuran di sektor ini.


"Oh ya, apa ayah kamu udah mendingan Devan?" tanyaku mendadak lantaran baru menyadarinya.

__ADS_1


Sementara dokter itu terlihat panik saat aku menyebut nama Devan dengan nama depannya. Aku keceplosan barusan.


__ADS_2