
Beberapa menit berlalu, perasaan tak menentu mulai hadir dikala keadaan langka pertama kali aku alami.
Aku berharap lampu segera menyala agar keadaan temaram ini cepat berakhir.
Brakk!!
Darr!!
Brakkk!!!
Terdengar suara memekakkan telinga dari arah jalan raya. Tentu saja hal itu membuatku terkejut hingga sekujur tubuhku mati rasa.
Membeku di tempat memikirkan sesuatu berhubungan dengan krisis yang melanda. Mungkin ini adalah permulaan.
Suara barusan terdengar keras seperti sebuah benturan dari mobil yang bertabrakan, hal itu masih aku asumsikan.
Hingga diriku memutuskan untuk pergi ke tempat sumber suara tadi.
"Argh!!!"
"Menyingkir!!"
"Aaaa..."
Sorak-sorai tak biasa aku dengar membuatku terdiam dan membenarkan spekulasi kejadian yang terjadi di jalanan. Bahwa suara itu timbul dari kecelakaan dalam temaram ini.
Dan benar saja, saat aku melihatnya, jalanan dipenuhi oleh api di lajur kanan. Terlihat mobil terbakar dengan hebatnya sampai api menjalar pada badan mobil lain di dekatnya.
Dari gumaman seseorang aku mendapati kronologi kejadian sebelumnya, bahwa terjadi kecelakaan beruntun dikala lampu padam secara mendadak.
Rintihan dan tangisan serta teriakan di ktp terdengar begitu menggelegar. Aku merasa kasian dan di satu sisi merasa gamang.
Bahkan dalam temaram ini aku melihat api dari ledakan mobil menjilat-jilat tak karuan. Api tersebut baru ku lihat untuk pertama kalinya.
"Xia, ayo ikut denganku!" Devan tiba-tiba saja mengagetkan diriku, dia menarik tanganku spontan dan mengajakku untuk pergi.
Dia mungkin berinisiatif menjauhkan diriku dari area ini. Dimana aku bisa melihat dengan jelas penampakan seseorang dari dalam mobil yang terbakar.
Serta suara teriakan memilukan terdengar dari para korban yang menunggu akan kematiannya. Pasalnya api menjalar begitu cepat hingga membuat korban terjebak di dalam mobil.
Aku sempat menoleh saat Devan tetap menarik lenganku menjauhi tempat diriku mematung untuk beberapa saat tadi.
Langkah kakiku mulai terasa lemas serta pikiran negatif perlahan mulai berputar dalam kepalaku.
Salah satunya menyebut jika mobil para korban dalam kecelakaan beruntun itu adalah tempat peristirahatan terakhir.
Grep.
"Eh.."
Devan membopong diriku dikala kondisi temaram ini.
Dari posisiku aku bisa melihat dengan jelas raut khawatir di wajahnya. Devan benar-benar membuatku tersentuh. Mungkin saja dia memikirkan keselamatan ku.
Cahaya dari robot yang melayang di udara kini menjadi penerangan kami berdua selagi menuju mobil.
__ADS_1
"Kenapa kamu keluar dari mobil, huh?!" tanya Devan yang sepertinya marah kepadaku.
"...aku penasaran.. sama suara keras tadi..." jawabku terbata merasa bersalah sembari menundukkan wajah, tak berani menatap Devan saat ini.
Sebelumnya aku keluar dari mobil demi melihat situasi yang menurutku berhubungan dengan suara keras memekakkan telinga.
"Tatap aku Xia. Kamu harusnya tidak keluar dari mobil tadi! Di luar situasinya tak dapat diprediksi, kamu lihat bukan, kecelakaan tadi setidaknya menewaskan banyak orang sekaligus!" tegas Devan menasehati diriku. Dia sebenarnya khawatir padaku, aku bisa melihat kekhawatirannya itu lewat sorot matanya.
Usai jeda pembicaraan, aku pun meminta maaf kepadanya hingga berulang kali, sampai-sampai membuatnya tak enak dan pada akhirnya kami berdua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang.
•••
Sampai di rumah aku pun langsung di sambut hangat oleh ibu yang terlihat mengkhawatirkan diriku.
Air mata ibu jatuh membasahi pipiku, dia memelukku erat seakan hendak perpisahan saja.
"Dimana ayah, Bu..." tanyaku disela-sela momen ini.
"Ayah katanya sedang sibuk dengan pekerjaan barunya sekarang!" ucap ibu lirih.
"Hem..." jawabku dengan deheman.
Ibu sempat menyuruh Devan untuk mampir, tapi dia berujar hendak pergi ke rumah temannya.
Devan lalu menjelaskan bahwa dirinya telah membuatku bersenang-senang saat kami berdua masih berada di tempat wisata menyejukkan itu.
Tapi yang membuatku kesal hingga spontan menatap tajam kearahnya adalah dia mengadukan tentang diriku saat keluar dari mobil, hanya untuk melihat situasi setelah kecelakaan tragis di jalan raya.
Saat ini lampu memang sudah menyala, tapi belum tentu kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
Yang kata Devan level tersebut dapat mencakup semua listrik di setiap lantai masyarakat.
Jika aku bayangkan seperti halnya pemadaman secara keseluruhan.
Ibu menatap tajam padaku, tapi detik berikutnya berganti dengan tatapan belas kasih.
Tak lupa mengelus kepalaku sembari mendekatkannya ke dada.
Aku pun masuk kedalam setelah ibu menyuruhku dengan lembut.
Sebelumnya Devan pergi tanpa pamit, bahkan sekedar mengatakan sesuatu padaku dia seakan malas, memilih bungkam fokus pada urusannya.
Padahal sebelumnya dia sangat mengkhawatirkan diriku.
•••
Setelah aku ingat-ingat kembali perilaku ibu di awal tadi, ibu langsung saja menangis saat menyambut ku, aku sedikit bingung sebenarnya.
Apa mungkin karena ibu tahu tentang berita kecelakaan beruntun itu lebih dulu, sebelum Devan memberitahukannya?
"Nak, ibu mau kamu segera mengemasi barang-barang. Karena ayah tertangkap!" ujar ibu yang membuatku terkejut. Perkataannya barusan sungguh membuatku bingung.
"Tapi kenapa Bu? Apa yang terjadi dengan ayah!?" jawabku dengan nada pelan menatap lekat wajah ibu meminta kejelasan.
"Ayah ditangkap karena ketahuan menyeludupkan barang-barang dari kehidupan masyarakat di masa lalu! Jadi kamu mending berkemas sekarang," ibu akhirnya mau menjelaskan setelah aku desak dengan berbagai cara.
__ADS_1
Tapi ada respon darinya yang mengharuskan diriku untuk tak menolak perintahnya.
Serta ada perkataan ibu yang membuatku mengerutkan dahi. Bahwasannya ibu juga tahu kehidupan manusia saat ini hanyalah pelarian dari bencana yang secara terus-menerus terjadi di masa lalu.
Sementara mendengar ayah di tangkap karena menyeludupkan barang-barang dari masa lalu mengingatkan diriku pada suatu kejadian, yang menimpa diriku saat itu.
Ketika diriku berada di ruangan luas berisi banyak produk.
Kini aku bisa mengingatnya dengan jelas dan bukan sekedar perasaan Dejavu saja.
Di rumah besar inilah, ayah menyembunyikan semua barang penyelundupannya. Aku sudah pernah melihat barang-barang itu yang menurutku sebagiannya lagi adalah produk-produk tertentu.
Tapi kenapa selama ini ayah dan ibu menyembunyikan hal itu dariku?
"Jadi kita..." ucapku setelah jeda beberapa saat. Dengan perkataan yang tak ku lanjutkan, karena takut salah menebak.
"Hmm, kamu mungkin akan ditangkap. Dan tidak bisa lagi menjalani kehidupan seperti biasa!" jelas ibu menatapku serius sembari menyentuh kedua bagian punggungku.
Apa yang dikatakan ibu barusan terdengar ada benarnya dan cukup meyakinkan diriku.
Tapi jika aku pergi meninggalkan rumah ini, pasti ibu memintaku untuk tidak mengatakan hal ini kepada siapapun.
Bisa disimpulkan bahwa aku tidak bisa bertemu dengan Devan lagi.
"Hiks...."
Aku menangis dalam diam sembari membereskan pakaian dan buku-buku yang akan aku bawa.
Brak!
Suara mengejutkan seperti pintu tengah didobrak membuatku terperanjat hingga menghentikan aktivitas mengemas ini.
Dengan cepat aku berlari menuju arah pintu utama dengan terburu-buru. Dan yang ku lihat adalah sesuatu yang membuatku berpikir ini hanyalah mimpi.
"Ibu!!!"
Tak jauh dariku ibu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah pada bagian kepala.
Aku pun mendekati ibu yang tengah sekarat dilihat dari erangan darinya.
Kemudian memeluknya meskipun banyak darah yang menempel pada bajuku hingga merembes.
Aku memangku kepala ibu di pahaku sembari menitipkan air mata.
Tak ku sangka ibu mengalami hal buruk seperti ini. Tak habis pikir juga pelakunya adalah orang yang aku kagumi, bahkan aku cintai selama ini, dia adalah Devan.
"Grtt...." aku menggigit bibir bawahku hingga rasa amis aku rasakan.
Ku hentikan tangisan dikala Devan mulai mengeluarkan kata-kata dari mulutnya guna memenangkan diriku.
Sudah jelas bahwa dialah pelaku yang membuat ibuku terbunuh dengan sangat sadis. Dari senjata api yang ada ditangannya sebagai bukti otentik.
Sementara beberapa orang berpakaian hitam hanya diam menyaksikan, salah satunya ada yang menatap kecut kejadian ini.
Kini aku membulatkan tekad untuk menganggap Devan adalah musuh bebuyutan ku. Dan aku berjanji kepada ibu akan membalaskan dendamnya.
__ADS_1