
Padahal dari tadi aku merasa aman serta bahagia saat menikmati tempat-tempat di rumahku.
Tapi semenjak kejadian tadi yang aku asumsikan adalah ulah hantu, aku jadi tak tenang lagi saat berada di ruangan yang luas ini.
"Ada apa sebenarnya Xia, apa kamu mau mengatakan sesuatu kepadaku. Kebetulan saat ini aku sedang senggang!"
"Aku takut..."
"Hei, kenapa suaramu kecil begitu, tadi kamu bilang takut??"
"Iya, aku merinding karena kejadian tadi. Jujur bukan aku yang menelpon mu..."
"Iya, iya aku mengerti. Tolong jelaskan keadaan sebelum kamu menyadari ponsel itu terhubung?"
"Tapi pertama-tama kamu harus tenangkan diri terlebih dahulu, tidak ada yang namanya hantu. Singkirkan terlebih dahulu hal yang mengarah kesana, oke!"
"Mmmm."
Aku menuruti perkataan Devan, kini aku memejamkan mata dan membayangkan diriku lupa akan keberadaan hantu.
Mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.
"Haaa..."
Tapi tetap saja aku masih takut menatap sekitar, sugesti tersebut kalah dengan egoku.
"Um... nggak bisa... Aku masih merasa takut!!!"
"Kalau begitu bayangkan hal-hal yang membuatmu... um... terbuai karenanya, maaf. Sepertinya cara itu akan ampuh. Coba saja!"
Aku pikir pikir kembali sembari menutup mata yang membuatku terbuai adalah...
"Kamu!!"
"Apa? Aku kamu bilang?"
"Bukan, bukan begitu.. maksud aku lebih ke arah menghormati, aku tidak memiliki maksud tertentu kok sama kamu..."
"Hahaha kamu ini. Baiklah, lupakan saja tentang itu. Sekarang bagaimana keadaanmu Xia, apa kamu sudah mendingan?"
"Um... ah iya!!! Aku sudah mendingan tuan, cara itu ternyata berhasil membuatku tak takut lagi. Terimakasih banyak sarannya!!!"
"Sama-sama, tapi aku masih penasaran. Sebenarnya kamu sedang berada di mana? Kenapa bisa takut terhadap hal seperti itu, menurutku ada pemicunya pasti?"
"Ini, aku... sebenarnya sedang berada di rumahku sendiri hehe.. Kamu tahu kan, rumah aku ini sekarang berbeda. Besar dan luas banget. Aku jadi tersesat saat menjelajah, hingga aku berakhir di suatu ruangan!"
"Ya, terus?"
"Aku cuci muka pada kran di wastafel, terus sebelum cuci muka aku letakkan ponselku tak jauh dariku!"
"Ya, ya.. aku paham sekarang, dasar kamu ini. Bisa-bisanya tersesat di rumah sendiri. Sebenarnya yang membuat ponselmu sampai bisa menghubungiku sendiri karena cipratan air!"
__ADS_1
"Huh...?? Masa?"
"Biar ku tebak, saat kamu hendak meraih ponsel, entah ponsel itu sudah kamu pegang dan mendekatkannya di telinga. Pasti ponselmu dalam keadaan layar yang basah. Kamu pasti merasakannya bukan?"
"Iya, aku merasakannya di awal saat mendekatkan ponsel ini di telinga. Deduksi itu masuk akal. Malahan membuatku malu, lantaran ketidaktahuan ku sendiri, karena tidak jeli, maafkan aku Devan. Aku jadi menganggu waktu luang mu..."
"Tidak apa-apa, bukannya aku sudah bilang aku sedang senggang sekarang. Sebenarnya aku mendapati kabar bahwa ayah pingsan saat bekerja, jadi.. aku yang sangat khawatir langsung kesana untuk melihat kondisi ayahku. Aku juga minta maaf kepadamu karena pulang lebih awal!"
"Hmmm, aku maafin kok.. kamu juga maafin aku, karena kebodohanku tadi. Ingat jangan beritahu siapa-siapa, oke!"
"Hahaha benar-benar kamu ini, jika ada di sampingku kamu mungkin sudah aku..."
Perkataan Devan tertahan. Dia tidak melanjutkan sambungan dari perkataannya lagi selama beberapa detik kedepan. Hingga membuatku penasaran pada lanjutannya itu.
"... aku akan menyentil dahimu seperti biasa!"
"Suara Devan terdengar gugup, apa dia sedang malu-malu hihi.."
Pembicaraan lewat sambungan telepon pun berakhir, setelah obralan lanjutan mengenai saran diriku yang tersesat dibantu oleh Devan.
Ya, aku sempat memberitahukan kepadanya bahwa aku melakukan selfie di ruangan-ruangan yang aku masuki.
Lalu sebuah saran terucap setelah aku berkata demikian.
Kata Devan foto foto selfie yang aku jepret bisa menjadi petunjuk jalan.
Aku pun memahaminya dan langsung melakukan persis seperti gambaran dari perkataan Devan, atau saran darinya itu. Setelah panggilan tadi berakhir.
Yang akhirnya membuatku perlahan-lahan ingat dengan tempat tempat sebelumnya. Luas biasa, saran dari Devan itu sangat membantu.
Karena penasaran dan siapa tahu saja kucing tersebut tersesat sama sepertiku sampai dalam kondisi kelaparan, karena melihat gerak geriknya. Aku pun menyempatkan waktu untuk mengejar kucing itu.
Bruk.
Bruk.
"Puss sini puss jangan pergi, aku nggak nakal kok..."
Beberapa barang terjatuh dari tempatnya pada lantai akibat ulah kucing itu, tapi untungnya bukan barang barang yang gampang pecah.
Pada akhirnya aku kesulitan sekedar untuk menangkap kucing kecil yang imut itu.
"Huft... aku menyerah, susah sekali nangkap kucing doang.."
Dan gara gara kucing itu aku jadi makin tersesat, memang sedang sial aku hari ini.
Kress.. kress.. kress..
Beristirahat sejenak sembari mengunyah cemilan yang aku bawa dari ruangan sebelumnya.
__ADS_1
Aku melihat kucing itu mencakar sudut tembok di tempat santai seperti bioskop, yang anehnya TV berukuran besar. Menyalah dan memperlihatkan iklan atau mungkin saja film.
Dan karena tayangan itu, kucing kecil tersebut menjadi takut. Semakin mencakar lebih dalam lagi sudut tembok didekatnya.
Tidak ingin kelakuan kucing itu semakin keterusan hingga menyebabkan banyak kerusakan, aku pun langsung dengan sigap berlari ke arahnya.
"Hap. Kena!!! Hihihi.."
Tapi siapa sangka ruangan aneh terbuka tepat di depanku, sepertinya kucing ini membuka ruangan rahasia tanpa disadari.
Ruangan ini aku amati tidaklah persis seperti ruangan yang menyimpan sesuatu didalamnya, karena lorongnya saja gelap dan menakutkan.
Apalagi lorong tersebut nampak gelap dan lampu penerangan didalamnya sana ada yang berkedip kedip.
"Ah!?"
Kucing itu tiba-tiba saja loncat dari gendonganku hingga masuk kedalam ruangan tersebut.
Merasa kasihan aku pun langsung mengejarnya kembali. Tak peduli dengan rasa takut terhadap lorong seukuran pintu dengan nuasa gelap dan menyeramkan didepan ku
Bruk.
"Aduh! Uh.. sakit..."
Mengejutkan, karena aku menabrak tembok yang terlihat di depanku ini adalah lorong yang masih panjang.
Klep.
"Tidak!?"
Sialnya lagi pintu masuk ke ruangan ini tertutup dengan sendirinya, membuatku terkurung dalam ruangan sempit.
Dalam hati aku menggerutu, apakah hari ini benar-benar hari sialku?
....
Terasa membingungkan sekali hari ini, bahkan aku terperangkap sekarang.
Hingga secara tak sadar aku terduduk sembari meringkuk.
Yang untungnya masih ada kucing kecil ini yang berada di sampingku. Dia lalu mendekatkan kepalanya pada kakiku dengan elusan, seperti bentuk permintaan maaf atas kesalahannya. Yang dilakukanya secara berulang-ulang.
"Iya, aku maafin pus.."
Tiba-tiba saja cahaya terang menyorot padaku.
Di depanku memperlihatkan ruangan besar berisi produk produk yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Ya, walaupun ada beberapa yang aku kenali. Namun sebagiannya lagi nampak asing bagiku.
__ADS_1
Bahkan aku tak menyangka jika aku bisa menemukan tempat tersembunyi ini di rumahku sendiri. Ini sangat aneh.
Sebenarnya apa tujuan dibangunnya ruangan berisi produk produk ini?