
Padahal dialah orang yang telah membuatku sakit hati. Namun dia masih saja belum menyadari akan perbuatannya, hingga salah sangka terhadap diriku yang terlihat sehabis menangis.
"Jawab aku Xia, siapa yang membuatmu menangis?!" ucapnya dengan raut kesal kali ini.
Aku pun menghela nafas panjang disaat Devan menyelesaikan kalimatnya.
"Sebenarnya dia itu kamu... Devan!"
"Apa? Aku orangnya?"
"Iya..."
Mendengar pengakuan dariku Devan dibuat terdiam seperti halnya mengingat-ingat kesalahannya.
"Hemm kalau gitu aku minta maaf, sekarang aku baru menyadari kesalahan diriku padamu.. maaf, aku ini orangnya tidak peka. Itulah kesalahanku..."
Devan terlihat serius saat meminta maaf padaku disertai wajah tulusnya yang sedikit memerah, dan kemudian menjelaskan secara terperinci apa apa saja yang membuatnya bersalah padaku.
Entah kenapa dia mau menjelaskan hal tersebut dan bilang kepadaku untuk mendengarkannya.
Kurasa Devan berniat agar diriku lupa dengan janji bertemu seseorang.
__ADS_1
Dan benar saja, aku melupakan soal janji dan pertemuan itu.
Akibat kata katanya yang menghipnotis tanpa aku sadari.
Namun tetap saja, pada akhirnya aku berhasil membuatnya mau mengakui bahwa diriku bukan anak kecil lagi.
Puncaknya aku diijinkan bertemu dengan seseorang itu, hanya saja aku merasa tidak enak tak menempati janji.
Bahkan jam pertemuan telat tiga puluh menit.
•••
"Kamu masih menunggu ku...?" ucapku terperangah setelah mengedarkan pandangan guna mencari seseorang, dan tak ku sangka aku menemukan Cristan yang masih setia menungguku sambil membaca buku.
Ada sebuah tempat nyaman yang dapat digunakan untuk membaca buku lantaran sekitaran tempatku saat ini dipenuhi pepohonan.
"Yah, aku hanya menunggu janjimu saja."
"Begitu ya.. kamu gak nunggu orangnya gitu?" balasku menggodanya sedikit.
"Hmm, gadis sepertimu masih belum dewasa sepenuhnya. Bahkan tak menempati waktu pertemuan di jam yang sesuai. Tapi aku menghargai dirimu yang menyempatkan waktu untuk datang kesini!"
__ADS_1
"Makasih..."
Cristan lalu mengajak diriku untuk melihat-lihat terlebih dahulu tempat sepi ini. Tempat yang cara masuknya harus dengan ijin khusus.
Dia membicarakan tentang kejadian di masa lalu sambil berjalan beriringan denganku, sembari melihat indahnya tumbuhan disini.
Dia mengatakan bahwa dulu pernah terjadi bencana besar yang sangat merusak wajah bumi, salah satunya disebabkan faktor ulah manusia itu sendiri.
Perang dunia ketiga. Perang dengan persenjataan super canggih hingga dapat menghancurkan satu kota jika memungkinkan.
Lalu Cristan mengatakan kepadaku bahwa saat itu populasi manusia semakin berkurang setiap menitnya dalam jumlah besar sekaligus.
Hingga para ilmuwan mencari cara guna meningkatkan laju perkembangan manusia yang hampir punah jika dibiarkan begitu saja tanpa penanganan tepat.
Selain perang dunia banyak lagi bencana yang terjadi di muka bumi hingga manusia kekurangan tempat untuk berpijak.
Hewan hewan dan tumbuhan pun semakin berkurang sampai-sampai sumber makanan yang biasa mudah didapat saat itu begitu langka.
"Tunggu. Kamu kenapa membahas tentang bumi, bukannya hal itu..." tukas ku ketika kepikiran soal larangan membicarakan tentang bumi.
"Tidak apa-apa, disini kita aman dari larangan itu. Sebab, tempat ini adalah lab yang dirahasiakan dari publik. Ku buat agar persis seperti pabrik yang selalu memproduksi bahan baku setiap hari agar tidak dicurigai!" jelas Cristan nampak serius, namun masih ada kata darinya yang belum aku pahami.
__ADS_1
Tap.. tap.. tap..