
"Kenapa ini Marin? Kenapa Xia menangis!?" cecar ayah yang begitu khawatir melihat keadaanku, dengan tongkatnya aku melihat ayah buru-buru mendekatiku.
"Ini tuan, katanya tuan muda tadi buru-buru pergi karena suatu urusan!" jelas Marin mewakilkan diriku.
Ayah kemudian duduk di sofa sembari menenangkan diriku, begitupun dengan ibu yang tak kalah mencurahkan kasih sayangnya agar aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Aku lalu menjelaskan kepada mereka berdua bahwa tuan Devan memiliki masalah berhubungan dengan keluarganya, dia menyampaikan hal itu pada secarik kertas karena terburu-buru.
Bahkan aku berdalih karena rasa khawatir kepada tuan Devan yang menjadi sebab diriku menangis. Aku tak mau ayah dan ibu terus memikirkan kejadian ini.
•••
Jam 09.10 aku masih belum mendapati kabar dari Devan disela aku menunggu kabar tersebut.
Karena ini juga aku belum keluar rumah sekedar untuk melepas rindu dan jalan-jalan ke suatu tempat yang memang ingin aku datangi.
"Xia, ayah mau mengobrol denganmu! Ikuti ayah ke ruang membaca!"
Suara ayah yang menyuruhku untuk mengobrol maupun mengikutinya membuat lamunanku buyar.
Aku pun menyudahi menatap luar jendela pada satu objek yaitu pohon lemon dan beranjak mengikuti ayah.
Selain keadaan didalam yang sudah berubah dari furnitur maupun desain tata letak di rumahku, rumah ini juga di rombak ulang.
Menjadi begitu besar dan layak di huni dari sebelumnya.
Tentu saja aku bersyukur, hanya saja aku merasa jika ibu dan ayah terlalu berlebihan.
Krieet...
Ayah lebih dulu membuka pintu ruangan membaca, yang sebelumnya ruangan ini tidak pernah ada di rumahku, berisi buku-buku dan beberapa pajangan kental akan nilai seni.
Sepertinya ruangan ini dikhususkan sebagai ruangan pribadi.
"Apa yang mau ayah bicarakan?" tanyaku langsung to the point sembari duduk di sofa.
"Pertama-tama ayah mau bilang terimakasih buat oleh-oleh yang kamu bawa, pakaian ini kelihatannya cocok sekali dengan kepribadian ayah, terimakasih Xia..."
__ADS_1
Yah, aku baru sadar jika pakaian yang ayah kenakan saat ini adalah pakaian pemberian dariku, mungkin karena aku kepikiran terus dengan masalah Devan aku jadi tidak memperhatikan.
"Sama-sama ayah, oh ya, bagaimana dengan ibu? Aku tidak melihatnya lagi setelah kejadian pagi ini hehe.."
"Ibu sedang... ya, berkumpul bersama teman-temannya.."
"Serius yah. Yang aku tahu ibu tidak terlalu dekat dengan teman-temannya, kenapa sekarang...?"
"Manusia itu bisa berubah nak, dari sifat, perilaku, dan cara memandang orang lain seiring waktu. Mungkin ibu menginginkan kehidupan yang berwarna!"
"Em... bisa saja yah, kalau begitu aku senang jika ibu bahagia. Terutama dirimu yah, harus bahagia juga yaa.."
"Ya, Ayah selalu bahagia nak, apalagi memiliki kamu dan ibumu..."
Senyuman ayah membuat dunia seakan berhenti, mungkin senyuman itu yang membuat ibu jatuh cinta dengannya.
Lalu obrolan kami berganti pada topik sosial yang mana dihadapi oleh semua orang, berhubungan dengan krisis yang terjadi akhir-akhir ini.
Yang menurut beberapa sumber masih diatasi maupun diantisipasi agar tidak terlalu parah.
Seperti air bersih yang harus dihemat, begitupun dengan stok air minum, lalu tanah pada wilayah produksi yang digunakan sebagai sumber makanan tempat tumbuhan seperti sayur-sayuran dan jenis lainnya tumbuh, juga terkena dampak.
Unsur hara yang terkandung dalam tanah semakin berkurang karena pemaksaan obat tertentu secara terus-menerus dan dalam dosis tinggi untuk mempercepat proses pertumbuhan jenis sayuran dan buah.
Alhasil sekarang ini pemerintah sedang mencari tanah di dekat pemukiman untuk dijadikan lahan baru sebagai sumber penanaman tumbuhan.
Ayah lalu mengatakan bahwa hewan-hewan sedang dalam keadaan rentan, akibat penyakit yang menyebabkan hewan tersebut mati dengan keadaan tubuh yang membusuk.
Parahnya lagi akan terjadi inflasi secara global dalam waktu dekat, itulah penuturan akhir ayah kepadaku.
"Itu keadaan yang mengkhawatirkan yah.. jadi apa aku boleh bertanya?"
"Silahkan. Ayah bilang begini kepadamu karena kamu mungkin merasakan dampaknya saat di wilayah masyarakat kelas atas!"
"Benar, sebenarnya aku mau bertanya. Apa tempat tinggal di wilayah ini bakal kena gusur?" tanyaku menyimpulkan ekspresi keresahan ayah diakhir pembicaraannya, yang menurutku ada hubungannya dengan pemerintah yang mencari lahan baru.
Dan benar saja, wajah ayah menjadi kaku dan kaget mendengar perkataan yang aku lontarkan barusan.
__ADS_1
Beberapa saat, ayah aku lihat menundukkan kepalanya. Ayah belum mau mengatakan sepatah kata lagi, dan aku masih menunggunya.
"Kamu memang jeli ya Xia, mengetahui akan hal itu sebelum ayah memberitahukannya kepadamu!" ucap ayah lirih, rambutnya terlihat menutupi wajahnya.
"Ayah barusan seakan memberi kode melalui raut wajah ayah, itulah sebabnya aku bisa menyimpulkan kesimpulan ini..."
"Baiklah, langsung to the point saja. Sebenarnya pengusuran itu akan dilakukan dua hari lagi. Dan ayah tidak bisa mencegahnya, sebab, pemerintah memberikan kompensasi berupa uang dalam jumlah besar. Bukan karena uang itu ayah enggan mempertahankan rumah ini, tapi masyarakat setempat di wilayah ini termakan uang itu!" jelas ayah serius saat berbicara dan menatapku, bahkan ada raut wajah marah saat bilang masyarakat di wilayah ini memilih uang daripada tempat tinggalnya.
Miris, harusnya mereka mempertahankan tempat tinggalnya terlebih dahulu, meskipun pencarian lahan itu nantinya dipergunakan untuk kepentingan bersama.
"Ayah bahkan mendengar beberapa informasi dari pamanmu, jika semua orang di wilayah ini sepakat tempat tinggalnya akan di gusur. Cuma beberapa dari keluarga saja yang menolak, dan itu cuma hitungan jari..."
Melihat raut sedih setelah senyuman itu membuat hatiku sakit, aku tidak tahu seberapa besar perjuangan ayah demi mempertahankan tempat tinggalnya.
Sekarang aku tahu dari raut wajah ayah, kesedihan apa yang dirasakannya.
Aku pun memeluk ayah erat guna mengurangi beban dalam dirinya.
"Terimakasih Xia, ayah terbantu."
"Mmm sama-sama yah, jangan sedih lagi... aku jadi ikutan sedih. Ayo ayah, tersenyum!" ucapku sembari membuat ayah tersenyum dengan menarik kedua sudut bibirnya dengan jari.
"Hahahaha kamu memang gadis yang menarik, ku harap kamu mendapatkan jodoh yang sesuai. Mau menerima keadaan dirimu seperti apapun dan mengerti akan kepribadian dirimu!"
"Emh ayah. Jangan bahas itu..."
Ibu lalu datang bersama dengan Marin memasuki ruangan ini, kedatangannya begitu mendadak. Setelah membantu mendorong kursi roda Marin lalu berucap untuk pergi. Ada pekerjaan lain yang menanti katanya.
"Kalian berdua selalu akrab ya.. ibu jadi senang. Um... Xia, ibu mau meminta bantuan kepadamu!"
"Bantuan seperti apa Bu, aku siap kok!" ucapku antusias, dibalas senyuman manis dari ibu yang nampak senang dengan sikapku.
"Tolong kamu katakan pada tuan Devan jika ibu meminta bantuannya agar wilayah di sektor ini tidak digusur. Ibu yakin jika kamu yang memintanya dia akan bersedia membantu!"
"Dan setahu ibu pengaruh keluarganya bisa memutar balikkan keadaan."
"Ibu..."
__ADS_1