
Pada akhirnya Devan beralasan tanpa jeda guna membuatku percaya dengan berbagai perkataannya. Dan itu membuatku simpati.
Bahkan ketika aku masih belum mempercayainya seratus persen dia sampai menunjukkan bukti dari rekaman CCTV yang terpasang di rumahku secara sembunyi-sembunyi.
Dia mengatakan alasan yang cukup membingungkan hanya sekedar untuk melakukan pembelaan, bahkan membuatku bertanya-tanya.
Kenapa bisa dia sampai memasang CCTV di dalam rumahku tanpa sepengetahuanku sebelumnya?
Katanya agar dia bisa menyelesaikan misinya. Hal itu malah membuatnya terkesan seperti orang yang menghalalkan segala cara. Demi tujuan yang dimilikinya.
Di perkataannya itu sebenarnya aku masih belum mengerti, apa hubungannya Devan dengan misi mengharuskan dirinya berbuat nekat.
Padahal yang ku ketahui dia hanyalah seorang guru dan calon pemimpin Perusahaan ayahnya kelak.
Sementara selama diriku bekerja sebagai pembantu di rumahnya, tak ada sama sekali gerak gerik mencurigakan dirinya yang mengarah pada perbuatan tercela.
"Hmm, semakin membingungkan saja. Namun... dia mempunyai teka-teki dalam kehidupannya yang tersembunyi..."
Semakin aku pikirkan tentang Devan semakin membuat gairah penasaran diriku membuncah, bahkan aku mulai paham.
Bahwa diriku ternyata tidak mengetahui apa-apa tentangnya selama ini. Dia seperti halnya dalang dari penggerak boneka puppet misterius.
"Ya.. tapi, di satu sisi instingku mengatakan untuk tidak mencari tahunya."
"Kamu sepertinya sedang sibuk dengan dirimu sendiri Xia, terkadang pikiran adalah musuh terberat setiap orang," seru Devan di sela jeda pembicaraan, dia tersenyum simpul sembari menatapku serius. Dan dibalik kata-katanya tadi ada satu makna.
Fokusnya seperti halnya selalu tertuju kepadaku. Jujur saja, jika menyangkut momen berhubungan dengan perasaan, aku pasti terbawa suasana.
Dan saat ini aku terbuai oleh senyumannya yang manis itu.
"Argh... Aku harusnya tak memikirkan maupun merasakan hal seperti itu, karena aku masih belum mengetahui tentang semuanya," ucapku dalam hati.
Dari perkataan tadi saat pembicaraannya merujuk pada ayahku, dia kelihatannya serius. Bisa saja ayah ada hubungannya dengan Devan.
Kurasa aku harus mengabaikan rasa sakit akibat dari dukacita yang mendalam selepas kematian ibu.
Meskipun aku masih tak terima ibu meninggalkan diriku seperti itu.
"Huh... perasaan sesak ini muncul kembali saat aku memikirkan flashback masa lalu," ucapku dalam hati bermonolog.
Mau bagaimanapun takdir adalah probabilitas mustahil untuk di tebak.
__ADS_1
Dan untuk kedepannya aku akan berusaha mendapatkan kebenaran dari rahasia tersembunyi keluargaku.
Seperti ... apa yang ayah lakukan di masa lalu?
Apakah latar belakang ayah hingga sampai mencuri berbagai produk-produk itu hingga jumlahnya fantastis, sangat banyak.
Serta hal yang disembunyikan oleh ayah kepadaku.
Lalu sebab ibu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri saat Devan dan beberapa orang berseragam khusus berkunjung ke rumahku pada saat itu?
Kurasa potongan demi potongan teka-teki itu bisa kudapatkan bila aku berada di sisinya, siapa lagi kalau bukan Devan.
•••
Dengan bukti tersebut aku percaya kepada Devan bahwa dia bukanlah pembunuh seperti yang aku kira.
Hanya saja aku masih tak mengerti kenapa ibu memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sungguh, tekanan psikologis dalam diriku terasa berat untuk ku normal kan.
Bayang-bayang kematian ibu saat sekarat sebenernya masih berputar liar di kepalaku. Serta adanya kesalahpahaman sebelumnya membuatku makin pening.
Bahkan informasi demi informasi mengejutkan aku dengar, seolah bos yang memerintahkan karyawannya untuk segara menyelesaikan tugasnya dalam waktu cepat.
Apa kejadian itu benar-benar takdir yang ibu dapati?
Lebih baik sedikit demi sedikit aku mencari tahu fakta dari berbagai pertanyaan yang terlukis dalam kepalaku.
Untuk saat ini aku akan menenangkan diri terlebih dahulu.
"Ya. Aku memiliki cerita seru untukmu."
•••
Pagi harinya diriku terbangun dalam keadaan fit, sebab, aku tidur nyenyak semalam. Mimpi-mimpi buruk terusir dengan sendirinya.
Dan yang tak ku sangka-sangka saat dalam pembicaraan waktu itu, ketika sarapan bersama dengan Devan kemarin. Mengenai diriku yang sudah tertidur di tempat ini tanpa kesadaran selama seminggu.
Flashback kemarin.
"Lalu bagaimana dengan kekacauan yang kamu bilang kemarin?" tanyaku tak ingin memikirkan diriku sebelumnya, yang telah tertidur selama seminggu. Serta tak ingin mencari tahu lagi tentang hal itu.
Aku percaya jika dalam waktu seminggu itu Devan tidak berbuat hal yang tidak-tidak kepadaku, aku sangat mempercayainya.
__ADS_1
Malahan aku lebih khawatir dengan kondisi di luar sekarang.
"Sebenarnya... kondisi beberapa lantai saat ini sedang tidak baik-baik saja. Beberapa masalah menganggu berbagai aktivitas," jawab Devan setelah menghela napas panjang.
"Apa penyebabnya krisis yang terjadi saat ini, lalu pemimpin. Apa dia sudah...."
"Belum ... beliau belum ditemukan, bahkan hingga saat ini. Meskipun banyak tim khusus yang bergerak cepat untuk mencarinya, berjuang tak kenal lelah dari pagi sampai malam. Tapi semua usaha itu belum ada hasilnya, tch..."
Dari jarak ini aku bisa melihat raut kesal bercampur kekhawatiran saat Devan berkata barusan.
Aku tidak pandai menghibur seseorang, apalagi saat mood ku naik turun. Ku harap Devan dapat menenangkan dirinya sendiri.
Dan dengan ini aku asumsikan dia memiliki keterlibatan dengan pencarian pemimpin.
"Eh.. di luar kok bisa begini!?" ucapku terkesiap melihat kamera pengawas jarak jauh secara live, terpasang pada lantai masyarakat kelas bawah.
Sementara diriku masih berada di dalam kediaman rahasia milik Devan. Bisa di sebut villa miliknya sendiri, bertempat di zona hijau.
Saat ini di sebuah toko, lebih tepatnya mall besar yang beroperasi di sana sedang diserbu banyak sekali orang-orang.
Meskipun mall itu masih tutup di jam 05.30 tapi kepadatan konsumen bagaikan lautan manusia.
Mereka berkumpul di halaman depan mall yang biasanya dijadikan tempat parkir kendaraan hingga rela berdesak-desakan demi berbelanja.
"Jadi ini yang namanya krisis yang katanya berpengaruh besar bagi kehidupan kedepannya, ku dengar dampak negatif terus bermunculan."
Dari setiap sudut aku bisa melihat situasi disana sekarang, melalui monitor.
Beberapa menit berikutnya, aku melihat situasi hampir sama terjadi di lantai masyarakat kelas menengah.
Bahkan pabrik-pabrik menjadi incaran para penduduk.
"Jika situasi di luar sudah kacau begini aku khawatir, bahwa sebentar lagi kehidupan dalam Bahtera ini akan berakhir!" cetus ku melihat dua situasi benar-benar langka dan buruk di luar sana.
Ches...
"Eh!?"
"Apa kabar, senang melihatmu kembali."
"Huh, kamu ... kenapa bisa ada disini?" tanyaku yang dibuat terkejut, bahkan menganga melihat pintu ruangan khusus milik Devan ini terbuka oleh seseorang.
__ADS_1
Padahal sudah ku kunci dari dalam dengan kartu khusus. Devan sebelumnya pergi lantaran ada keperluan mendadak, dia hanya berpesan agar diriku selalu berada di salah satu ruangan.
Dan ruangan agak gelap ini yang ku pilih, tapi aku tak menyangka akan bertemu dengan Cristan kembali. Sedang apa dia disini?