Berakhirnya Bahtera Kehidupan

Berakhirnya Bahtera Kehidupan
Apa Aku Berbuat Salah?


__ADS_3

"Apa kamu tidak takut dengan yang barusan kamu katakan nona?" tanya anak kecil ini dengan nada persis seperti orang dewasa. Tatapannya serius saat bertanya.


Ku pikir anak ini akan menyebutku "kakak" karena aku lebih tua darinya, tapi dia malah bersikap lain berbeda dari kebanyakan anak anak diusianya.


"Tidak. Lagian aku hanya menyebutkannya saja, tidak mencari tahu lebih dalam!" jawabku dengan menekan kata di akhir.


Hal itu membuat anak itu berubah ekspresi, aku pun tahu dia menyembunyikan sesuatu berkaitan dengan bumi.


Contohnya bisa penelitian maupun penemuan berkaitan dengan bumi.


"Oh ya, btw kenapa kamu tidak memanggilku kakak?" tanyaku guna melepas rasa penasaran yang mengganjal.


"Dasar, aku ini lebih tua darimu..."


"Huff.. sungguh!? Aku tidak melihat dari dirimu yang lebih tua dariku hihi.."


"Gadis sepertimu mana mungkin mengerti arti dari kedewasaan. Lalu, aku ingin bertanya, apa tujuan dirimu mempelajari tentang bumi? Bukannya hal itu dilarang oleh keputusan petinggi kita?"


Diam sejenak, lalu aku pun menjawab.


"Sebenarnya hal mengenai bumi aku sangat menyukainya, aku juga memiliki harapan untuk tinggal di sana suatu hari nanti. Tentang bumi aku mengetahui sedikit dari sebuah buku lama yang telah rusak. Dikatakan bahwa tempat itu berisi kehidupan dan peradaban yang luar biasa!" jelasku dengan perasaan senang saat membicarakan tentang bumi.


Anak itu terlihat menghela nafas panjang kemudian menyuruhku untuk menutup pintu ruangan ini. Bila perlu menguncinya.


Langsung ke intinya, anak itu mengatakan bahwa diiringi menyukai segala pengetahuan di bumi.


Dia juga berkata bahwa dirinya memiliki ketertarikan yang sama denganku.


Dan yang membuatku terkejut adalah...


Bumi yang selama ini aku gambarkan seperti sebuah tempat berjuta kesejahteraan dan keindahan nyatanya telah rusak saat ini.


Anak itu juga mengatakan bahwa kehidupan manusia sekarang ini adalah akibat dari ulahnya sendiri.


Bagian dari perkataannya itu sempat tidak aku pahami.


Namun akhirnya aku mengerti bahwa diriku memang tinggal di bumi, hanya saja menempati sebagian ruang.


Dan ruang yang aku tempati ini adalah ruang buatan dimana sebuah kehidupan berlangsung.


"Kamu mungkin shock nona, tapi mau bagaimana lagi, itulah kenyataannya," ucap anak kecil itu.


Saat ini aku terdiam. Di depanku terdapat meja berisi buku buku sejarah sebagai bukti dari perkataan anak itu sebelumnya.


Semua buku tersebut memang buku kuno dan ditulis oleh seseorang dari peradaban manusia sebelum kehancuran bumi berlangsung.

__ADS_1


Alasan itu diperkuat oleh pernyataan dalam buku yang tengah aku baca, disini dikatakan.


Bumi sudah tak bisa menjaga keseimbangannya lagi.


Manusia adalah penyebab dari bencana besar yang merenggut jutaan nyawa.


Mengubah geografis dan muka bumi dalam waktu singkat, namun berlangsung secara turun temurun.


Perkembangan jaman mengakibatkan perubahan perilaku sifat alami manusia menjadi lebih buas.


Bebas dalam menentukan pilihan dan langkah yang diambil.


. . . .


"Jadi selama ini..." ucapku yang tidak ku lanjutkan.


"Bumi sudah dalam fase dimana manusia tidak dapat menempati ruang yang layak untuk dihuni, ruang tersebut berada di permukaan! Karena sebagian dari bumi adalah daratan yang menjadi tempat tinggal manusia!"


"Sedangkan perairan kini menempati ruang yang sangat banyak saat ini, diakibatkan oleh volume air di lautan yang naik. Hal itu menyebabkan daratan tengelam dan seluruh peradaban manusia berada dalam dasar lautan dalam lebih dalam, kamu mengerti kan maksudku nona?"


Mungkin maksud anak itu adalah perairan di bumi semakin dalam karena penaikan volume air.


"Jangan panggil aku nona, aku punya nama!" ucapku agak meninggikan suara.


"Ya terserah, sebutkan saja nama panggilanmu. Kita akan membicarakan hal ini lagi untuk beberapa waktu kedepan."


"Baiklah."


Menit demi menit berlalu tak terasa aku sudah lama menempati ruangan pribadi ini, milik si penjaga perpustakaan.


Namun sampai sekarang aku belum bertemu dengannya.


Sudah puas aku mengetahui tentang bumi bersama pria yang sebelumnya aku panggil anak, karena dari wajahnya terlihat baby face serta tingginya hampir sama denganku.


Siapa sangka dia begitu antusias saat mengobrol dan menerangkan pengetahuannya tentang bumi kepadaku.


Meskipun hal yang kami bicarakan itu ilegal. Tapi mendengar spekulasi tentang larangan itu membuatku jadi penasaran.


Bahwa pemimpin tempat ini sengaja menghapus beberapa pengetahuan maupun informasi tentang bumi kepada generasi sekarang.


Dan mengenai alasannya masih aku pikirkan untuk saat ini.


Aku pun keluar dari ruangan ini dan meninggalkan perpustakaan.


Hingga dikejutkan oleh mereka yang sedang mencari cari diriku dari tadi. Hendak menyampaikan padaku bahwa makan malam telah disiapkan.

__ADS_1


Di meja makan.


Devan bertanya saat makan malam berlangsung padaku, seperti kemana diriku tadi? Dan apa yang aku lakukan disana?


Aku menjawab dengan jujur yaitu pergi ke sebuah perpustakaan. Tentu saja hal itu mudah dimengerti oleh Devan.


"Apa kamu bertemu dengan seseorang disana?" tanya Devan lagi, hal ini terdengar seperti dia peduli dengan diriku.


Di satu sisi ingin mengetahui aktivitasku saat waktu luang tadi, dia bertingkah laku layaknya seorang kakak.


"Ya, aku bertemu dengan seseorang yang menarik tadi!"


"Siapa dia?"


"Um... aku lupa bertanya namanya siapa, dia itu suka dengan buku sejarah. Kami sempat berbincang bersama mengenai buku yang bagus di perpustakaan."


"Jadi dia orang yang baru kamu kenal."


"Begitulah, dia itu orangnya..."


"Cukup. Lagian kalian hanya kebetulan bertemu, dan belum berkenalan. Aku sarankan kamu harus berhati-hati kepada seseorang yang terasa cocok saat pertama kali bertemu!" ujar Devan memperingati.


Setelahnya kami berdua melanjutkan makan malam dalam keadaan canggung. Entah mengapa Devan sedang dalam mood yang tidak bagus sekarang.


Begitu mendadak padahal sebelumnya dia menyambut diriku dengan hangat ketika diriku sampai di meja makan.


Usai makan malam dia langsung saja pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.


Hal itu membuatku bertanya-tanya dalam hati. Apa mungkin diriku melakukan kesalahan tanpa aku sadari.


•••


Malam hari pun tiba, lampu lampu yang sebelumnya menerangi kini dimatikan di area tertentu.


Tidak ada kabar lagi mengenai Devan yang ingin membicarakan sesuatu kepadaku.


Dia seakan lost contact tanpa ada kabar lagi sampai sekarang, hingga diriku memutuskan untuk terus menunggu di depan kamar tidurnya.


Rasa kantuk kini mulai terasa, kakiku juga merasakan kesemutan karena terlalu lama berjongkok. Setelah sebelumnya berdiri sambil menunggu Devan.


Masih belum ada tanda tanda dia akan datang kemari melalui ponsel pintar.


"Hu... dia sebenarnya kemana sih, padahal sudah janji mau bicarakan sesuatu. Kayaknya aku beneran pernah buat salah deh.. sama Devan."


Suara langkah terdengar dari arah tangga aku pun berharap bahwa itu adalah Devan. Namun siapa sangka dia adalah orang yang aku benci.

__ADS_1


Laki laki yang dulunya sering menganggu diriku sampai aku menangis.


"Apa kabar Xia...?"


__ADS_2