
"... aku baik, ah iya aku harus kembali sekarang!"
Grep.
"Tunggu! Kita baru saja bertemu setelah sekian lama, apa kamu tidak rindu sama sekali padaku!?" ucap Eliet dengan percaya dirinya tidak ada yang berubah darinya sama sekali. Dia lupa dulu memperlakukan diriku begitu keterlaluan.
Seandainya dia tidak nakal mungkin dulu aku sudah menyukainya, karena dia ini salah satu laki-laki yang bisa dibilang teman masa kecilku. Dan tipikal orang yang menjadi rebutan.
Mengingat kharisma dan pengaruhnya dahulu sangat disegani.
Memiliki wajah cantik dari gen ibunya meskipun dia laki-laki, tapi perilakunya dulu jauh dari kata anggun.
"Maaf aku tidak bisa mengobrol sekarang, karena aku memiliki urusan yang harus segera diselesaikan!" jelasku sembari menarik tanganku dari genggaman Eliet.
Dia terlihat terkejut saat aku menarik tanganku sembari menjauhi dirinya.
Mengingatkan diriku dulu saat dia selalu mengajakku secara paksa kemanapun dia pergi. Pada saat itu Eliet mengengam tanganku cukup erat di setiap langkahnya, sampai aku pasrah pada keadaan. Mencoba untuk menolak pun rasanya tak bisa.
Karena ibu maupun ayah dulu pernah memperingati diriku untuk tidak membuat masalah dengan keluarga Lawliet.
Tapi kali ini aku harus bersikap tegas padanya bahwa aku bukan Alexia yang dulu.
"Hehe kamu terlihat berbeda sekarang Xia, jauh sekali perbedaannya. Tapi karena aku dulu selalu bermain denganmu... aku masih bisa mengenalimu hingga saat ini Xia!"
Tidak jelas sekali, padahal sebelumnya aku katakan bahwa aku sedang sibuk. Tapi dia malah berbicara seolah aku tidak berkata apa-apa.
Tap.. tap.. tap..
Aku pun langsung pergi tanpa berkata apapun lagi, dari matanya Eliet seakan terpesona memandangi diriku di jeda perkataannya.
Dia pasti memiliki motif tersembunyi.
Tap.. tap..
"Tunggu sebentar. Bagaimana kalau aku ikut denganmu hehe.."
"Huh? Kamu ini bercanda apa mau jaihilin aku lagi sama seperti dulu?!" ucapku menekan kata di akhir.
Karena Eliet berusaha untuk menghadang diriku dan lagaknya terlihat mencurigakan, terpaksa aku harus mengingatkan dirinya tentang masa lalunya.
"Baiklah, aku mengakui segala kesalahanku padamu di masa lalu, maafkan aku... Dan alasan diriku ingin ikut denganmu karena kamu memakai pakaian mewah. Terus terang saja, sekarang ini aku menjadi gelandangan karena tidak mempunyai tempat tinggal dan keluarga!" jelasnya membuatku shock. Padahal dulu keluarga Eliet adalah keluarga terpandang di sektor tempat tinggal ku berada.
Mungkin pada rentang waktu tertentu, di tahun tahun aku tidak mengetahui kabarnya setelah keluarganya pindah kelas dari masyarakat kelas bawah ke menengah, karena kesuksesan dan pencapaian keluarganya.
__ADS_1
Ada kejadian dimana mereka mengalami masa masa sulit, bisa itu kerugian besar pada ekonomi ataupun hal lain yang tidak aku ketahui.
Sehingga kekayaan keluarga Lawliet perlahan pudar seiring waktu. Atau bisa saja berubah dalam kurun waktu singkat.
Mengingat lagi perkataan Eliet barusan membuatku jadi tak tega.
"Hmmm, aku minta maaf juga sudah bikin kamu mengatakan masalah keluargamu... untuk permintaan maaf tadi, aku maafin kamu kok..."
Terlihat mata Eliet yang berkaca kaca ketika menatapku saat aku berbicara. Dia seakan menunggu permintaan maaf dariku sejak sekian lama.
Berhubung aku membawa beberapa uang saku untuk berjaga jaga, dan cukup untuk kelangsungan hidup Eliet di saat dirinya mencari pekerjaan.
Aku berniat akan memberinya uang saku tersebut tanpa kata meminjam.
"Ini, semoga dengan uang ini bisa membantumu selagi kamu mencari pekerjaan!" ujarku dengan tulus. Tak ada niatan untuk bertanya lagi kepada Eliet apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya dan keluarganya.
"Tidak, tidak aku tak pantas menerimanya Xia, setelah aku pikir-pikir lagi.. niat awalku saja sudah tidak baik. Jadi..."
"Enggak apa-apa kok, aku tulus mau membantumu..." selorohku sembari menyodorkan uang tersebut pada telapak tangan Eliet agar dia mau menggenggamnya.
Dengan sedikit paksaan dan ucapan menegaskan jika dirinya sekarang sedang membutuhkan uang, akhirnya Eliet dapat bernafas lega. Dia pun menerima uang pemberian dariku itu.
"Bisa-bisanya orang yang menjadi gelandangan memiliki style pakaian yang bagus, hebat ya sekarang para gelandangan!" suara menekan seperti halnya dituju kepada Eliet spontan mengagetkan diriku dari arah belakang.
Saat aku menoleh kebelakang rupanya yang berbicara mengenai hal tadi itu adalah Devan.
Saat ini Eliet terlihat gugup menanggapi perkataan tak mengenakan tertuju pada dirinya.
"El..?" ucapku.
"Aku tidak menyangka bahwa diriku bakal ketahuan.." gumamnya.
Tap.. wush...
Eliet mendadak melarikan diri dariku dengan berlari.
Tap.. tap.. tap..
Di susul oleh Devan yang berusaha untuk mengejarnya, sementara diriku hanya memandangi kepergiannya sambil mematung di tempat, memikirkan hal yang ku alami barusan.
Tak ku sangka Eliet membohongi diriku dengan kata kata terdengar menyakinkan, membuatku percaya dan tertipu olehnya.
Merasa hampa dan sesak membuatku memutuskan untuk duduk guna beristirahat sejenak.
__ADS_1
"Sepertinya kamu mengalami hari yang buruk...?" ucap seseorang dengan suaranya yang tak asing bagiku.
Dia rupanya pria yang aku temui beberapa saat yang lalu.
"Huh... begitulah, aku merasa hampa sekarang!"
"Masalah pribadi, mungkin sebaiknya kamu harus belajar dari pengalaman tersebut. Dan jangan terlalu memikirkannya."
"Hmmm, iyaa aku mengerti.."
"Baguslah, kalau begitu aku pergi sekarang!"
"Tunggu, siapa namamu?" spontan diriku langsung bertanya.
"Nama, panggil saja aku Cristan. Dan satu lagi, keluargamu harus membeli banyak bahan makanan maupun produk-produk yang dapat disimpan dalam jangka panjang! Karena masyarakat di kelas ini, khususnya di sektor delapan sedang terjadi inflasi terhadap barang yang aku sebutkan tadi!"
Aku hanya mengangguk tak membalas perkataan Cristan barusan. Karena dirasa cukup mengejutkan dan memang hal tersebut bisa saja terjadi di sektor tempat tinggalku.
Sebelumnya, aku sempat bertanya mengenai tempat yang memproduksi sayur sayuran kepada Cristan saat di perpustakaan.
Sebenarnya aku iseng bertanya hal tersebut, tapi Cristan rupanya tahu kabar dari sana.
Bahwa tempat produksi itu yang memiliki lahan cukup luas tutup karena tanah di lahan produksi itu rusak disebabkan oleh faktor pestisida yang berlebihan.
Itulah sebabnya sayuran yang diimpor ke lantai masyarakat kelas atas tidak sebanyak di hari hari sebelumnya.
"Apa yang kamu katakan tadi benar-benar terbukti?" belum jauh Cristan melangkah diriku langsung saja mengkonfirmasi.
"Itu hanyalah prediksi.."
Kata itu yang ia ucapkan untuk terakhir kalinya sebelum melanjutkan pergi.
•••
Malam sudah semakin larut, tetap saja aku masih saja belum bisa tidur lantaran kepikiran banyak hal hari ini, terutama kejadian terkait dengan Eliet yang menipuku.
Dia berhasil melarikan diri, tapi untungnya uang yang dia bawa terjatuh sehingga Devan memilih menghentikan pengejaran.
Serta pikiran yang membuatku merasa tak nyaman saat ini adalah krisis ekonomi yang semakin parah dari hari ke hari.
Berita tentang hal itu tersiar di televisi dan menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Bahkan diperdebatkan oleh sebagian besar orang.
Salah satunya berita dari tempat produksi bahan makanan hewani, lebih tepatnya peternakan besar yang berada sektor lima masyarakat kelas bawah.
__ADS_1
Kini tak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari masyarakat kelas atas secara keseluruhan. Dikarenakan hewan-hewan ternak terjangkit penyakit mematikan sehingga Impor pun tak sebanyak hari hari sebelumnya.
Itulah sebabnya perdebatan terjadi antara wakil bicara kelas atas dan menengah mengenai prioritas impor bahan baku hewani tersebut.