
Laila namaku, aku begitu suka dengan kisah Cinderella. Karena rasanya hidupku seperti dia, dengan penderitaan yang sama, namun di waktu dan cara menikmati hidup yang berbeda.
Cinderella itu seorang anak bangsawan, tak jauh beda denganku. Aku juga anak seorang pengusaha kaya. Hanya saja, wasiat dari mendiang Papa berisi bahwa akula pemegang 80% dari harta Papa ketika sudah lulus kuliah nanti atau setidaknya aku harus sudah menikah jika memang tidak bisa lulus kuliah.
Selama aku belum melaksanakan itu semua, hidupku selalu diatur oleh Ibu tiriku dan anaknya yang hanya bisa berdandan tanpa bisa berfikir. Lihat saja dengan gaya yang sok modis dan elit, dia bisa menjadi mahasiswa abadi yang begitu dicintai para dosen hingga tidak meluluskannya sampai tahun ke 6 saat ini.
Siapa bilang aku harus tunduk pada keduanya, seperti cerita Cinderella yang asli. Aku memang diatur oleh mereka, tetapi tidak untuk tunduk dengan semua perintah mereka. Tidak ada yang bisa mengekangku di rumah ku sendiri. Ini rumahku, mereka hanya menumpang sampai aku lulus kuliah atau menikah nanti.
Ada saja caraku untuk bisa lepas dari kemauan mereka yang kufikir adalah sebuah kebodohan. Seperti saat ini, mereka tidak mengizinkan aku untuk kuliah dengan alasan Mbok Inah pembantu yang bekerja di rumah sedang pulang kampung, dan aku harus menggantikan semua pekerjaannya. Enak saja, semua tugas dilimpahkan padaku. Mereka pikir begitu mudah memerintah semaunya. Aku ada ide yang bisa saja tidak mereka tolak.
"Mom, tau gak sih kalau saat ini ada temanku yang produser, sedang cari bakat terpendam," Jawabku asal untuk menghindari mengerjakan semua tugas rumah.
Hai, ini adalah tahun terakhirku di kampus. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatanku untuk bisa lulus dan menyingkirkan kalian dari sini. Sudah cukup lama aku menuruti mau kalian, sekarang sudah saatnya kalian menyingkir dan tidak bisa mengaturku lagi.
"Produser film maksudmu?" Tanya Ibu tiri ku penuh dengan wajah antusias, maklum saja dia memang sempat bercita-cita untuk menjadi aktris.
Meski tidak begitu pandai berakting, namun setidaknya dia berhasil mengelabui Almarhum Papa sampai mau menikahinya. Setidaknya sebuah piala citra dia dapatkan saat itu. Momy adalah sebutanku padanya.
"Dia lagi nyari talent untuk jadi pembantu rumah tangga. Rumah kita kan penuh CCTV ya, Mom. Nanti Momy akting dengan penuh totalitas membersihkan rumah ini, tapi sebelumnya Momy dandan yang cantik ya. Biar produser yang melihat gimana gitu," Aku berusaha meyakinkan.
Sempat aku lihat dia berfikir, dan melirik curiga. Mungkinkah dia sadar kalau sedang ditipu? Rasa-rasanya hari ini aku bakal gagal ngampus.
"Ok kalau begitu, nanti kamu kirim rekamannya ke produser teman kamu itu, ya. Boleh ajak Sila?" Momy masuk jebakan, dan kini dia mau mengajak anaknya masuk kedalam jebakanku juga.
Bagus sekali, kalau perlu ajaklah anakmu yang pemalas itu. Agar dia merasakan juga bagaimana lelahnya mengurus rumah.
__ADS_1
"Boleh, Mom. Ajak saja Kak Sila buat nemenin Momy kan, ya? Kalau bisa wajah nya di melas-melasin ya, Mom," pesanku kembali seolah mengingatkannya, padahal hampir saja tawaku meledak dihadapannya.
"Siip... Nanti Momy bilang Sila. Kamu pergi sana, nanti akting Momy sama Sila gagal gara-gara kamu," Usir Momy, dan itu adalah sebuah hal yang kutunggu.
Tanpa berlama lagi, aku keluar rumah sambil mengambil tas dan kunci motor. Aku memang anak seorang pengusaha, tetapi mereka tidak memberiku fasilitas kendaraan beroda empat. Hanya sebuah motor matic yang kupunya sebagai kendaraanku. Itu pun terpaksa diberikan ketimbang memberikan uang jajan berlebih untuk ongkos angkutan, mereka memang pelit.
Diakhir cerita, Cinderella akan bertemu dengan seorang pangeran. Untuk yang satu ini aku tidak percaya dengan adanya pangeran, karena sejak umur 13 tahun hingga genap diusia yang ke 22 tahun ini tak ada seorang pangeran yang hadir di dalam kisahku. Jomblo masih tetap menjadi gelar yang bisa kubanggakan.
Tidak ada satu pangeran tampan dan kaya layaknya cerita khayalan yang datang untuk mendekati dan melindungiku. Bagiku makhluk yang diberi nama pangeran itu hanya ada dalam dongeng, tidak di dalam kehidupan nyata.
Sepanjang perjalanan tawaku tak juga berhenti, membayangkan bagaimana rupanya Ibu dan Kakak tiriku yang tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Kini harus bersusah payah hanya demi sebuah peran menjadi pembantu fiktif yang ada di dalam khayalanku.
Sampai akhirnya "Brak!", terdengar begitu kencang hingga membuatku sedikit shock.
Ternyata aku menabrak bagian belakang sebuah mobil mewah. Sebuah mobil sport dengan merek BMW i8 dengan harga yang ku tahu mencapai 3 milyaran. Untung aku tidak sedang berjalan cepat saat itu, hadeuh maklum penduduk +62 celakapun masih bilang untung. Terlihat mobil itu hanya lecet sedikit, tidak seperti spakboar depan motorku yang terlihat sekali penyoknya. Mungkin karena barang mahal, jadi kualitas bahannya juga kuat.
"Hai mbak, kamu punya mata gak?!! Bukan jalan yang benar, kenapa main tabrak?!" Hardik si om tersebut padaku.
Ketimbang dengan suara galaknya, aku lebih tertarik dengan wajah tampan yang terlihat begitu sadis tapi menggiurkan. Eh, fokus Laila dia lagi ngomel.
"Maaf Om, aku gak sengaja." Aku memelas agar bisa dikasih sedikit rasa simpati, ya seenggaknya dia mau ganti kerusakan motorku.
"Gak bisa, kamu harus ganti rugi. Kamu tahu berapa untuk biaya agar mobil ini terlihat mulus kembali?"
"Motorku rusak lebih parah, harusnya on ganti juga dong." Aku berusaha membalikan fakta, meski sebenarnya semua salahku.
__ADS_1
"Kamu!! Anak kecil, udah nabrak. Malah minta ganti lagi!!" ucapnya, semakin ganteng eh semakin galak.
"2 juta paling mahal kali ya, om?" tanyaku polos, karena saat ini di kartu debitku hanya ada uang segitu. Momy terlalu pelit untuk memberiku uang jajan yang banyak, itu pun di dapat dari sisa-sisa uang jajan selama 5 tahun ini.
"Enak saja, Kamu fikir mobilku ini mobil murah? Setidaknya butuh uang 10 kali lipat dari harga yang kamu sebut," ucap si Om yang ketampanannya gak luntur-luntur. Awet gantengnya.
"Tapi aku gak punya uang segitu," jawabku memelas dengan wajah penuh kesedihan, dan air mata yang kubuat-buat.
Dia melirikku sebentar, kemudian kembali membuang mukanya ke arah yang lain. Gak mempan sepertinya.
"Mana SIM dan KTP mu? Aku tahan sampai kamu bisa mengganti biaya perbaikan mobilku," ketus pria itu sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Yah jangan Om, aku juga masih kuliah gak bisa cari uang. Kasihanilah aku, Om." Layaknya pengemis aku kembali memohon.
"Tidak bisa, kalau mau bayar hutang mu dengan jadi pembantu di rumahku. Tanpa bayaran," ucap pria itu sambil mengambil kunci motor ku.
Hah?? Jadi pembentong lagi??!! Ya ampun, lepas dari kandang buaya masuk ke kandang macan ini mah. Macan ganteng sih.
Aku berlari mengejar nya, lebih baik aku serahkan SIM dan KTP ku sebagai jaminannya. Daripada harus kehilangan kunci motor, bagaimana aku bisa pulang tanpa itu.
"Baiklah Om, aku setuju. Ini SIM dan KTP ku, kembalikan kunci motorku," Aku menyerahkan dua dokumen penting.
Pria itu pun menyerahkan kartu namanya, dia benar menahan SIM dan KTP ku, dan pergi begitu saja, tanpa tersenyum sedikit pun ke arahku. Lihat kan, bagaimana aku percaya dengan adanya pangeran dalam hidupku? Sekalinya dateng yang ganteng, malah nyuruh jadi pembantu juga.
Baru lepas jadi pembantu di rumah sendiri, sekarang aku malah harus menjadi pembantu di rumah orang. Apes rasanya diri ini. Sepertinya aku harus berhenti saja untuk menjadi Cinderella, karena itu hanya sebuah dongeng yang tidak akan bisa menjadi nyata.
__ADS_1
Tidak akan pernah ada cerita dongeng menjadi sebuah Kenyataan, sekarang aku hanya harus fokus agar bisa lulus kuliah dan membayar hutangku kepada si om tadi. Jadi berhentilah berharap menjadi Cinderella.