
Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu diatas motor. Namun si Om Al tidak nampak juga batang hidungnya. Hanya nyamuk yang menjadi satu-satunya teman, eh ternyata bagus juga ya panggilan dia om Al, ketimbang harus susah memanggil nama lengkapnya yang cukup panjang.
Ya Allah, dia benar-benar gak datang. Sepertinya aku harus segera pergi dari sini, sebelum ada orang yang ingin berniat jahat. Setidaknya jangan sampai mbak kunti beserta keluarga datang ke sini.
Ketika aku hendak menyalakan mesin motor, datang sebuah motor besar menghampiri. Dan akhirnya aku tahu Om Al lah yang datang menjemput, hore... Aku punya tempat untuk menginap malam ini. Seenggaknya bisalah ya numpang makan juga, biar duit lku juga utuh.
Om Al datang dengan piyamanya, tanpa helm atau jaket. Sepertinya aku memang mengganggu dia malam ini. Bisa saja istrinya akan marah besar nantinya. Demi menjemput gadis kecil yang cantik dan imut seperti aku. Arrgh... Pokoknya gak perduli, untuk saat ini yang aku pikirkan hanya tempat untuk menginap dan kabur dari rumah bukan untuk menjadi pelakor.
"Hai cewek gak tahu diri, kamu bilang ada penjahat yang mau menyerangmu. Kemana penjahat itu? Apa kamu menelannya bulat-bulat?" ketus Al dari atas motornya.
Ya kale, tuh manusia gue telen.
"Kalau Saya gak bohong, belum tentu Om mau menjemput," jawabku jujur dengan wajah bersalah dan sedikit tidak enak hati.
Sedikit loh ya, sisanya seneng bangat dijemput doi.
"Isshh... Berarti hari ini aku di tipu anak kecil?"
"Enggak Om, Saya bukan penipu. Tapi Saya butuh kerjaan dan tempat menginap." Aku tetap memasang wajah memelas agar dia merasa kasihan dan iba padaku.
Seenggaknya ekspresi menyedihkan itu aku belajar dari si Mio, kucing tetangga sebelah yang selalu pasang wajah ngarep setiap melihat orang sedang makan enak.
Sejenak dia diam menatapku, mungkin bingung jika ada gadis cantik seperti aku berani keluar malam dengan bawaan layaknya orang mau pindahan. Terserah dia mau berkata seperti apa, yang penting aku bisa ikut dengannya sekarang.
"Aku bukan penjahat kok Om, kan SIM dan KTPku ada sama Om semua,." Aku berusaha meyakinkan Al. Kupasang wajah imut imut *** kucing, yang sebenarnya aku juga jijik melihat wajah sendiri, agar terlihat menggemaskan yang bisa saja membuatnya muntah.
"Hem, baiklah kalau begitu. Aku bisa saja melaporkan mu ke polisi jika kamu berbuat macam-macam," Ancam Al dengan nada serius.
__ADS_1
"Ok, siaap!!" Dengan gembira aku menjawab ancamannya.
Alhamdulillah, gak perlu tidur di jalanan. Padahal udah siap juga sama tikar lipat yang kubawa dari rumah. Meski seandainya tidak dijemput, niatku untuk kabur sudah bulat.
Al menyuruhku untuk mengikuti dari belakang. Sesekali kehilangan jejaknya, maklum nih orang kan pakai motor yang cc nya tiga kali lipat motorku, ya wajar saja aku keteteran.
Agak jauh dari tempat pertemuan kami, akhirnya aku sampai di sebuah perumahan. Kata orang yang punya rumah di sini duitnya tuh kaga ada nomor serinya. Mungkin karena gak pernah habis kali ya.
Kami berhenti di rumah tanpa pagar dengan penjagaan ketat satpam satu kali dua puluh empat jam pada pintu gerbang utama. Sebuah rumah bertipe mediterania, dengan cat bewarna kuning gading tidak jauh beda dengan rumahku. Hanya saja ukurannya jauh lebih besar dari rumahku.
Huuuaaa.... Dia kaya bangat.
"Masuk," ucap Al mempersilakan aku untuk masuk.
Masuk ke rumah mewah bukanlah hal yang baru untukku, jadi reaksiknya ya biasa saja. Karena aku pun sering bertemu dengan relasi Papa yang rumahnya hampir sama seperti ini. Meski belum jadi pemilik perusahaan resmi, setidaknya tanda tanganku masih dibutuhkan.
Jangankan di kamar pembantu, di gudang tanpa alas pun aku pernah. Itu sering bangat terjadi jika aku berbuat kesalahan, diantaranya saat aku membuat kisut pakaian pesta Momy saat menyetrika, mana kutahu jika pakaian itu terbuat dari sutra dan seharga lima jutaan. Dia memarahiku dengan membabi buta, padahal uang untuk membelinya menggunakan uang keluarga ku.
"Aku gak masalah, asal aku bisa istirahat sekarang," Jawabku jujur, karena aku sudah lelah dan besok harus bangun sepagi mungkin.
Tunggu, sudah hampir subuh bagaimana aku bisa lanjut tidur????
"Ya sudah tidur sana," Al menyuruhku untuk pergi ke kamar yang akan aku tempati.
Dia pergi dengan wajah gantengnya, sadar Laila dia itu om-om.
Aku masuk ke sebuah kamar yang terlihat seadanya, tidak ada barang mewah di sana, hanya sebuah kasur dan lemari. Untuk hiburan ada sebuah TV di luar kamar, di sebuah ruangan yang disediakan khusus untuk para pembantu mencari hiburan.
__ADS_1
Aku letakkan semua bawaanku, tanpa disuruh mataku langsung terlelap diatas kasur yang entah sudah berapa lama tidak ditiduri orang lain. Berdebu dan berbau apek, sudahlah aku lelah. Besok aja rapi-rapinya.
****
Pukul 04.30, alarm di ponselku berbunyi itu tandanya aku harus bangun dan menunaikan kewajibanku sebagai makhluk. Salat subuh selalu ku usahakan untuk tidak ditinggalkan. Meski tidak punya siapa pun di dunia ini, setidaknya aku punya Allah yang selalu menemani.
Tapi rasa-rasanya mata ini tidak mau terkoneksi dengan otakk, ayolah Laila jangan kecewakan si om Al karena ini adalah hari pertama.
Aku keluar dari kamar, dan pergi mencari kamar mandi untuk bersuci. Ketika baru menutup pintu, aku mendengar suara wanita beriistighfar dari belakang ku.
Aku menoleh kearahnya, mungkin dia kaget ada makhluk cantik mengisi kamar kosong itu. Hehehe... Narsisku kumat.
"Kamu siapa?" Tanya wanita yang berusia 50 tahunan tersebut.
"Aku Laila, ini Mbok Sum ya?" Tanyaku sambil membetulkan jilbab segi empat yang kupakai asal menutupi rambutku.
"Oh iya, kok kamu tahu?" Mbok Sum jadi tambah bingung.
"Aku pembantu baru di sini, Pak Al yang baru jemput aku semalam," sahutku lagi.
Lebih tepatnya 1 jam lalu.
"Kok Mas Al tidak bicara apa-apa ya soal pembantu baru?!"
Ya emang kaga ngomong, orang aku juga dateng jam 3 pagi, ibarat kuntilanak baru pulang gentayangan biar besok gak kesiangan tidurnya. Jadi panjang urusan kalau nimpalin Mbok Sum yang ternyata kepoers juga. Bisa gak jadi salat subuh kalau begini mah.
"Aku mau ambil wudu untuk salat, permisi," Aku pamit dan pergi mencari kamar mandi kembali.
__ADS_1
Mataku berat, bisa gak kalau habis shalat langsung bobo aja gitu?? Kalau kerja baru sehari apa boleh cuti????