Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Bayar hutangmu


__ADS_3

"Laila sayang.."


Aku mendengar sebuah suara yang sangat kurindukan.


Tak bisa menyahut namun terlihat olehku Papa berdiri sedang memperhatikan, dengan memakai gamis putih bersih bersinar. Layaknya sebuah film tentang malaikat dengan sinar di belakangnya, aku melihat Papa seperti itu. Dia masih terlihat tampan seperti dulu.


Apa aku sudah mati? Hore akhirnya aku mati, tetapi apa semudah itu!?!


"Laila, Papa yakin kamu anak kuat, sayang. Papa dan Mama bangga padamu, Nak. Kamu harus tetap menjalani hidupmu, sampai nanti kita akan bersama kembali," Ujar Papa makin lama bayangannya makin menghilang.


"Papa... Laila mau ikut Papa. Papa...Papa...!!" Seketika mataku terbuka, masih terdengar dengan jelas suara Papa itu ada di dekatku.


Ternyata hanya sebuah mimpi, kini aku terbaring dengan infusan di tangan dan sebuah alat bantu pernafasan menempel di sekitar mulut dan hidung. Aku berada di sebuah rumah sakit sepertinya, dengan ruangan cukup besar. Dan terlihat Al tertidur pulas di sebuah sofabed di sebrang tempat tidurku. Dia kah yang membawaku ke sini?


Oh iya tiba-tiba ingatan baru kembali, Al telah menyelamatkanku dari gudang waktu itu. Sekarang dia juga yang menemani di sini. Tunggu, apa dia yang benar-benar menemani dari awal? Baik sekali dia padaku.


Aku berusaha untuk bisa duduk, dan Aww... Kepala masih sakit terasa. Ku pegang bagian yang kemarin terluka kini telah ditutup dengan perban. Untung tidak gegar otak karenanya.


Ku lihat Al membuka mata, ketika dia mau membenarkan posisi tidurnya. Berarti ia semalaman terus terjaga jika setiap membenarkan posisinya selalu melihat kearahku terlebih dahulu.


"Kamu sudah bangun?" tanya Al sambil membersihkan kotoran matanya.


Suaranya terdengar begitu berat, dan kalian tau wajahnya begitu sexy saat baru bangun tidur. Oohh... Lutuna...


"Aku baru bangun, ini hari apa dan sudah berapa lama aku tertidur?" tanyaku beruntun.


Untuk saat ini tak ada hijab yang menutup kepala, dan akupun tidak lagi memakai pakaian yang kemarin. Semua menjadi pakaian baru. Apakah dia yang menggantinya? Aku memandang penuh curiga.


"Siapa yang menggantikan pakaianku?" ucapku sinis, jangan sampai Al berkata bahwa dialah yang telah menggantikannya.


"Kamu tenang saja, suster yang telah mengganti pakaianmu, dan sudah dua hari ini kamu tertidur," jawab Al sambil berjalan mendekat ke arahku.


Berarti hampir seminggu keadaanku tidak stabil, dan semoga saja hari ini telah menjadi benar-benar baik. Al menatapku dengan mata coklatnya yang begitu kukagumi. Mata nakal, tidak bisa menjatuhkan pandangan saat dia datang.

__ADS_1


Tiba-tiba perutku berbunyi, sudah lama sekali rasanya aku tidak makan. Pokoknya hari ini rasanya aku ingin makan sebanyak-banyaknya.


"Al, aku lapar. Bolehkah aku minta sesuatu untuk dimakan?"


"Aku ada makanan yang dibawakan Yasmin semalam, kamu mau?" Al mengambil sekotak makanan berisi martabak nutela kesukaanku.


Tapi hanya martabak, tidak akan cukup mengisi perutku yang kosong melompong seperti lapangan bola jika tidak ada yang datang. Ya, setidaknya aku makan ini dulu saja, sampai makanan yang lainnya datang. Itu pun kalau Al bersedia membelikannya untukku.


Dengan begitu rakus dan bahkan tanpa nafas, aku melahap martabak yang diberi Al. Tak perduli jika nanti dia hilang filling kepadaku. Yang penting hari ini aku bisa makan.


"Pelan-pelan nanti kamu tersedak," pesan Al yang masih menatap dengan perasaan yang entahlah aku tidak tahu bagaimana isi hatinya saat ini.


"Aku udah lama gak makan, jadi maaf ya kalau kamu mungkin akan jijik melihatku," jawabku dengan mulut penuh dengan makanan.


Pasti jelek bangat deh dilihat dia.


Rambut panjang dan tebal milikku terasa begitu mengganggu, melihat aku repot sendiri. Al datang mendekat dan membantu menyingkirkan rambut yang mengganggu ke belakang punggungku.


Eh, ini untuk pertama kali rambutku disentuh orang lain. Sebenarnya sih gak boleh ya, tapi mau bagaimana lagi??


"Maaf, aku gak bermaksud lancang," Al berkata lalu membuang mukanya.


Gak usah minta maaf juga gak apa-apa. Kok cepat sekali sadarnya? Aku rindu pada matamu yang coklat itu Al. Eh, baru siuman kok malah jadi mendadak eror begini ya?


"Kamu punya hubungan apa dengan klan Harsono?" tanya Al kembali.


Klan Harsono, aku kira hanya ada di film Naruto aja yang ada sebutan klan. Ternyata di dunia ini juga ada Klan ya? Loh kok dia bisa mengenal nama Papa?


"Klan? Maksudnya?" Aku pura-pura bodoh di depannya, tidak mau membawa Al kedalam masalah keluargaku.


"Iya kamu ada hubungan apa dengan keluarga Harsono? Mereka itu salah satu pemegang saham di perusahaanku," jelas Al padaku.


Oh, jadi perusahaan keluargaku itu bekerja sama dengan perusahaan Al toh. Pantas dia tahu nama Papa. Hai, Al perkenalkan aku adalah anak semata wayangnya Papa Harsono. Pewaris tunggal terbesar di perusahaan Papa.

__ADS_1


"Aku pembantu mereka, makanya waktu menghadapi adikmu aku bilang terbiasa dengan sifat adikmu, ya itulah mereka lebih parah kan?" jawabku asal, entahlah mengapa itu yang keluar dari mulutku.


"Lalu mengapa mereka sampai berbuat seperti itu padamu?" Al mulai curiga, dia bertanya dengan menatap mataku agar aku tidak dapat berbohong.


"Kan aku kabur, ke rumah mu. Mungkin mereka marah karenanya," jawabku jujur.


Terdiam sebentar, kemudian dia memilih duduk menjauh. Rasanya dia tidak percaya dengan ucapanku. Kulihat dia sedang berfikir, memangku dagunya diatas tangan. Sambil memandang kosong ke depan, entah apa yang sedang difikirkan.


"Aku sudah mengambil keputusan akan melaporkan mereka ke polisi," Al berkata spontanitas membuat aku tersedak martabak yang sedang ku makan.


"Uhuk.. Uhuk... Uhuk...!" Martabak mengganjal tenggorokanku, Al bangun dari tempat duduk dan segera mengambilkan segelas air minum yang berada di meja samping untukku.


"Makanya, kalau makan pelan-pelan," ujar Al sambil memberikanku helas minuman itu.


Langsung aku minum, air pemberian darinya. Akhirnya martabak itu mengalir dengan lancar ke tempat penyimpanan tubuhku.


"Jangan, jangan laporkan mereka ke polisi." Aku meminta Al membatalkan niatnya.


"Loh kenapa? Jelas-jelas mereka menganiaya dirimu sampai seperti ini." Al merasa heran dengan sikapku


Tidak Al, melaporkan mereka ke polisi akan membuat citra keluarga kami menjadi buruk, bagaimana dengan partner bisnis Papa yang lainnya? Pasti akan kecewa karena tercoreng oleh perbuatan mereka.


"Jangan, kasihan Almarhum Pak Harsono, nama baiknya akan hancur karena mereka. Dia itu orang baik."


"Baiklah kalau begitu, mereka tidak akan kulaporkan dengan syarat. Kamu harus membayar hutang mu dan tinggal di rumah ku. Hutang mu akan aku tambah dengan biaya rumah sakit ini," ucapan Al membuat aku berasa mau pingsan lagi.


Bukannya berkurang, mengapa malah jadi nambah? Kok dia bisa setega itu padaku, padahal saat ini dia tau jika aku sedang terluka parah.


"Apa? Kalau tau aku bayar sendiri, kenapa tidak di tempatkan di kelas 3 saja?" protesku kesal.


"Kalau kamu di kelas 3, siapa yang mau menemanimu di sana?! Sudah lah aku mau cari makan, kamu mau?" Al berkata dingin.


"Gak, nanti disuruh bayar lagi," keluhku kesal karena dia begitu perhitungan.

__ADS_1


"Kali ini aku traktir, nanti aku belikan yang banyak untuk mu. Beristirahat lah." Al mengambil jaketnya dan pergi meninggalkanku sendiri.


Waduh, ini kan kelas VIP. Jika aku keluar dari sini lama, berapa puluh juta yang harus kubayar setelahnya. Ampun... Belum dapat warisan, bisa habis uangku untuk bayar hutang. Tetapi setidaknya aku bersyukur karena bisa selamat sampai hari ini. Al kamu sungguh manusia kejam. Hiks....


__ADS_2