Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Wildan kembali


__ADS_3

Kini aku bisa tidur tanpa harus ribet menumpuk bantal, bahkan Al terus saja menempel. Menyebalkan sekali ketika kulihat lapaknya sebelah sana lebih luas tetapi dia memilih untuk berdesakkan di tempatku. kenapa harus mepet ke sini terus sih, bikin susah tidur saja.


"Al kamu bisa geser sedikit gak sih. Aku sempit nih," keluh ku sambil mendorong badannya menjauh.


Tubuh besarnya membuatku sulit bernafas jika terlalu dekat.


"Aku maunya dekat kamu terus," jawab Al manja dan tak mau bergerak sedikit pun dari posisinya, loh kok kenapa jadi melehoy begini suamiku?


Aku membenarkan posisi bantal, terlintas ku ingat Vina yang makin tidak jelas hidupnya. Harus ada tindakan yang tegas sepertinya. Agar masa depan Vina tidak hancur karena ulah sendiri.


"Al, aku ingat Vina," ucapku mencolek tangan beratnya yang ada diatas perutku.


Al ikut membenarkan bantal, sepertinya dia juga khawatir dengan nasib adiknya itu. Aku bilang Al terlalu cuek dengan keadaan Vina. Sedang seumuran dia itu butuh perhatian. Tidak banyak orang yang kuat sepertiku, bisa tumbuh dengan baik meski hanya dikasih makan saja. Tanpa kasih sayang dan perhatian.


"Menurut kamu bagaimana?" Al menggengam tanganku lalu menciumanya.


Nih orang yang diomongin apa, tapi masih aja nyuri kesempatan untuk melakukan sesuatu. Tapi aku juga suka si digituin, yang penting sudah halal yaa.


"Sekali-kali kamu tanyakan dia maunya apa, terus bagaimana kedepannya? Aku mungkin bisa menaklukan Yasmin tapi sulit untuk Vina," jelasku memberi saran kepada Al, karena Vina tidak akan mau mendengar ku. Boro-boro mendengar, melihat saja dia sudah muak sepertinya.


"Oh iya, kamu hebat loh bisa mendekati Yasmin. Dia juga lumayan keras kepala sebelumnya. Hebat ya istriku ini." Aksi Al sekarang pindah mencium pipiku.


Al modus bangat sih, aku lagi ngomong serius malah dimodusin terus. Dia dengar aku gak sih? Kok jadi merasa kesal ya?


"Al aku serius, kamu dengerin aku gak sih?" protesku pada Al yang dari tadi aku ngomong cuma di cium sana sini.


"Aku gak bisa mikir kalau dekat kamu seperti ini, kalau besok kita bicarakan lagi bagaimana? Kalau di kamar kita fokus untuk bisa dapet anak saja seperti saran dari Om Haris waktu itu." Al mulai beraksi lagi menjadi genit padaku.


Ya ampun Al yang aku kira seorang pendiam, ternyata agresif sekali. Untung dia dulu sering membuang muka padaku ketika belum menikah, kalau tidak bisa hancur reputasiku karena dimakannya dengan status belum menikah. Aku menarik selimut dan tidur membelakangi Al, dia tidak berhenti menggoda terus.


"Al aku mau tidur besok harus bangun subuh, tidur aja." Aku buru - buru menutup mataku.


Akhirnya dia menyerah dan ikut tertidur pula, dengan posisi yang tak jauh dari ku. Haruskah aku pindah tempat tidur, kemarin dia bisa tidur sendiri kenapa sekarang tidak sih?


*****

__ADS_1


Kalau kemarin aku tidak berani membangun kan Al untuk shalat subuh, sekarang memiliki keberanian itu. Hahaha.... Sudah sah luar dalam, makanya berani. Aku cium pipi suami tampanku, sambil berbisik.


"Shalat Subuh, bangun yuk."


Bukannya langsung bangun, dia malah menarik dan memelukku.


"Oh, seperti ini ya rasanya punya istri, sebentar lagi ya sayang," jawab Al menahanku dalam pelukannya.


"Al bangun, salat subuh sana. Aku mau bantu Mbok Sum, kasihan dia," tegas ku mendorong tangan Al terus hingga dia akhirnya tersenyum dan mau melepaskan nya.


Setelah membangunkan suami tercinta sekarang mah sebutannya (jadi malu). Aku pergi ke dapur, membantu Mbok Sum. Seperti biasa merapikan makanan untuk yang lainnya.


Sedang Vina tidak pernah mau sarapan dengan yang lain, jika aku duduk untuk makan dia segera bangun dan langsung pergi begitu saja.


"Kak aku izin untuk pergi ke rumah teman hari ini, ada tugas kelompok," ucap Yasmin pada aku dan Al.


"Boleh, tapi kamu jangan lupa makan siang, ya," pesanku pada Yasmin, karena dia sering sekali lupa untuk makan siang.


"Siap boss, uang jajan untuk tugasnya mana?" Tagih Yasmin pada Al.


Al mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan satu lembar uang 50 ribuan untuk Yasmin. Sekepergian Yasmin, aku juga mau dong dikasih uang jajan. Masa selama ini gak dikasih uang sama sekali.


"Kamu mau uang jajan juga?" Al mengerti maksudku.


"Suamiku, suami yang peka ternyata, uang tabunganku mulai menipis. Aku duit dari mana lagi kalau bukan dari kamu."


"Kamu kan masih punya hutang padaku, biaya rumah sakit habis Dua puluh lima juta dan hutang service mobil Dua puluh juta," Jawab Al dia masih mengingat hutangku? Lucu sekali dia.


Aku diam, ocehannya tak ku dengarkan. Sampai begitunya dia perhitungan. Menyebalkan sekali kamu Al.


Dia tahu aku lagi kesal, akhirnya menyerah dan mengeluarkan seluruh uang di dompetnya, juga beberapa kartu kredit dan debit dari dalam dompetnya. Dia serahkan begitu saja ke hadapanku.


"Simpan lah, aku ingin istriku yang mengatur keuanganku," Tiba-tiba Al menenangkan hatiku.


Gimana gak tenang kalau dikasih semua isi dompetnya? Eh, ini serius kan??

__ADS_1


"Kamu percaya padaku? Bagaimana jika aku menipu mu?"


"Setega itu kah kamu pada ku?" Al berbalik tanya padaku.


Aku tersenyum dan menggeleng ke arahnya, dia bangkit dari tempat dudukn dan mencium keningku, lalu memeluk erat.


"Jadi gak mau kerja, ke kamar lagi yuk." Lagi-lagi dia menggodaku.


"Ya ampun Al, apaan sih?" Aku tersipu malu mendengarnya.


Sebuah pukulan yang cukup keras mendarat di lengannya. Ya ampun refleks Al, maaf. Bukan kesal dia malah tertawa karena telah berhasil memprovokasiku pagi ini.


Seperti merasa sangat bahagia sekarang ada Al yang selalu menjagaku. Istana yang begitu megah dan kendaraan yang bisa aku pakai kapan saja. Tapi tetap saja seperti tidak menerima kenyataan kalau rumah Papa akan menjadi milik orang seperti Momy dan Sila.


*****


Siang itu tidak ada rencana untuk pergi kemana-mana hanya diam di rumah demi menyelesaikan semua tugas akhir kampusku. Mbok Sum pun aku suruh untuk beristirahat, karena sebagian tugasnya kini aku yang gantikan.


Sudah cukup siang, harusnya Yasmin sudah pulang hari ini, namun karena harus kerja kelompok jadi sampai saat ini dia belum bisa pulang juga.


Tett.. Tett... Tett... Bunyi bel begitu panjang, tumben di rumah ini punya tamu. Siapa ya kira kira? Aku mengambil hijabku dan mengikat rambut tebalku lalu Menutup nya rapi. Gak mungkin Al pulang sesiang ini.


Aku pergi menuju pintu depan, sebenarnya berasa ngantuk sekali hari ini. Karena sekarang tugas kuliah sudah mulai banyak jadi belum sempat untuk tidur siang. Semoga saja tamunya tidak mau berlama-lama, hingga aku bisa langsung tidur setelah dia pergi.


"Ya siapa, ya?" Teriakku dari dalam, sampai pintu terbuka aku merasa begitu kaget karenanya.


"Assalamualaikum," ucap Kak Wildan yang datang ke rumah ku, namun dia seperti tidak mengenali diriku.


Bagaimana bisa dia datang ke rumah ini, sudah lama sekali rasanya. Aah... Tanda apa lagi sekarang.


"Wa.. Wa'alaikum salam. Kak Wildan?" tanyaku refleks.


Kenapa malah nanya sih? Harusnya pura-pura gak kenal aja. Kak Wildan itu Pria bertubuh tinggi, berkemeja biru, berkumis tipis dengan potongan rambutnya yang tidak berubah dari sekolah dulu. Namun sekarang terlihat lebih dewasa, meski hanya terpaut 2 tahun dari ku. Intinya ya agak tua lah ya...


Sejenak dia tidak begitu ingat siapa aku, sampai akhirnya dia memperhatikan dari atas kebawah lalu kembali lagi ke atas.

__ADS_1


"Laila? Kamu Laila? Masya Allah, bagaimana kabarnya?" Tanya kak Wildan setelah dia mengingatku.


Jawab apa ya, mau jawab aku adalah nyonya rumah di sini kok kayaknya hati ini masih belum rela ya?? Laila kurang ajar, meski dia memang cinta pertama bukan berarti kamu harus berkhianat pada Al. Pertarungan batinku begitu hebat, membuat sedikit bingung,


__ADS_2