Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Aku Menikah


__ADS_3

Ketika makan malam, Al mengumumkan kepada kedua adiknya bahwa dia akan menikah denganku secara sederhana. Dan berharap agar keduanya mau menerima aku sebagai kakak ipar.


Reaksi Yasmin begitu membuat terharu, dia mengatakan Alhamdulillah dan bersyukur karena aku akan menjadi kakaknya. Sedang Vina, tau sendiri kan bagaimana reaksi anak itu, ya dia ngamuk sama Al.


Vina bilang Kakaknya sudah gila karena mau menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Ok, Vina aku tahu kok Al tidak cinta, tetapi setidaknya izinkan aku meminjam kakakmu demi harta. Bukan harta kalian loh ya, tapi harta ku sendiri.


Vina pergi keluar meninggalkan kami, aku merasa bersalah karenanya. Ingin rasanya mengejar, tetapi Al melarang dan malah melakukan pembiaran. Al bilang watak Vina agak keras, maklum dia sempat menjadi bungsu yang gagal karena kehadiran Yasmin.


"Aku mau ke kamar dulu untuk mengerjakan tugas," ucap Yasmin izin pamit untuk masuk ke kamarnya.


Kini tinggal hanya ada aku berdua dengan Al, dia lebih banyak diam setelah bilang akan menikah denganku. Apakah aku menjadi bebannya Al? Kok dia sampai menjadi diam seperti itu? Maafkan aku yang egois ya Al, hingga kamu terpaksa menikah denganku. Hei tetapi kan itu bukan permintaan ku.


"Al lebih baik kita batalkan saja, aku merasa tidak enak hati padamu. Aku egois memaksakan kehendakku," Jawabku jujur dari hati yang paling dalam.


"Aku sudah menyiapkan semua, KTP pemberian dari mu sudah aku daftarkan ke KUA. Semua orangku sudah bergerak cepat untukmu, kamu mau menggalkan itu semua?" tegas Al dengan sedikit tersinggung dengan ucapanku.


"Bukan begitu Al, aku takut nanti kamu akan merasa terikat karenanya. Kamu jadi tidak bebas dalam menjalani hidupmu," jelasku sambil menatapnya dalam dan berharap dia membalas.


Rupanya aku salah, dia tidak membalas tatapanku, Al memilih melahap makanannya sambil menoleh ke arah lain. Ayo Al tunjukan bola mata itu.


"Jangan fikirkan aku, anggap saja tidak terjadi apa-apa, kamu jalani hidup seperti biasa. Kita tidak saling mengganggu."


Ok baiklah jika itu maumu untuk tidak saling mengganggu, berarti kamu memang tidak memiliki rasa sedikitpun padaku. Kok aku sedih ya dia berkata seperti itu?


****

__ADS_1


Pukul 8 pagi aku sudah bersiap dengan kebaya yang Al berikan semalam. Kok semua pakaian yang Al kasih ke aku bisa pas ya ukurannya, dia tau ukuran bajuku dari mana?


Seorang penata rias pun sudah datang untuk mengubah ku menjadi seorang ratu sehari. Ini mungkin bukan pernikahan impian siapapun juga, tetapi setidaknya aku tetap bahagia karena akan menikah dan segera mengambil warisanku.


Aku telah bersiap, dan kini tampil beda dari yang biasanya. Penata riasku begitu pandai mengubah ku menjadi seorang yang benar-benar cantik. Seperti Cinderella di tanah Jawa.


"Kakak cantik," puji Yasmin dari pintu kamarku.


Yasmin tidak sekolah hari ini, dia meminta izin untuk mengantar aku dan Al menikah. Tidak seperti Vina, yang tidak perduli sama sekali dengan semua hal tentang ku. Vina tetap berangkat sekolah, tanpa memberi ucapan selamat atau apa pun.


Aku keluar dari kamar, terlihat Al juga begitu berbeda, meski dengan stelan jas yang dipakainya, namun dia terlihat lain hari ini. Al menatap dengan tatapan yang tidak pernah ku lihat sebelumnya, aku membalas tatapannya. Lagi-lagi dia membuang muka setelahnya. Awas saja setelah menikah mata indah itu akan menjadi milikku.


Di KUA, tidak banyak yang datang. Mungkin karena aku sendiri tidak punya saudara kandung siapa pun. Hanya ada beberapa saksi, penghulu, dan seorang wali hakim yang akan menikahkan ku.


Aduh, aku kenapa ya? Sepertinya sudah mulai mencintai suamiku sendiri. Apa kah dosa jika itu benar terjadi padaku? Al seandainya kamu juga mencintai aku, mungkin saat ini aku akan menjadi pengantin wanita paling bahagia di dunia. Akhirnya tak perlu menunggu lama kami resmi menjadi suami istri.


***


Pulang dari KUA aku bergegas pergi ke kamar. kalian tahu rasanya menahan buang air kecil sambil menggunakan kain kebaya yang ukurannya sangat ketat di badanmu? Rasanya tersiksa sekali karena saking ketatnya sampai terlalu menekan kantung kemih. Tetapi sebelumnya aku harus membuka kain ini terlebih dahulu.


"Kamu mau kemana Laila?" tanya Al melihat aku berlari ke dalam.


"Kamarmu sekarang di kamarku. Ingat kamu sekarang adalah istriku. Jangan buat yang lain berfikir jika kita ada maksud tertentu," jelas Al mengingatkan ku.


Al benar, jangan sampai yang lain curiga. Lalu aku harus bagaimana? Aku gak tahan lagi, akhirnya aku berbalik dan menubruk Al begitu saja karena dia sedang berdiri di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


"Kamu mau apa sih? Cepat sekali gerakannya," tanya Al yang terdorong ke belakang karena ku tabrak tadi.


Tak ku jawab pertanyaan nya, ku buka kain yang membelitku, dan korset. Hai kalian jangan berfikir buruk aku masih memakai legging sebagai dalamannya. Langsung berlari menuju kamar mandi di sana.


Lega rasanya ketika sudah di keluarkan, kamar Al itu ternyata enak ya bersih dan besar. Keluar dari kamar mandi, Aku melihat Al yang sudah rebah di kasurnya menatapku dari atas ke bawah. Tatapannya terus tertuju padaku. Ada apa ya? Kok dia sampai seperti itu melihatku?


Ya ampun, aku lupa jika aku hanya memakai celana lagging ketat. Wajar saja dia melihatku seperti itu, dengan cepat aku meraih kain yang tadi kupakai. Dan berlari keluar untuk mengambil pakaianku di kamar yang kemarin.


Kalau sudah menikah seperti ini, boleh gak sih suami sendiri melihat aurat kita? Meski masih berbalut kain yang begitu ketat. Aku jadi malu sendiri karenanya.


Ku hapus, make up satu persatu. Dari bulu mata, sampai puluhan jarum pentul di hijabku. Apa aku akan menjadi istri nya Al terus menerus atau akan berpisah ketika tujuanku sudah tercapai. Ya ampun, Al saja tidak mencintaiku, bagaimana bisa berharap lebih dari ini?


Selesai melap semua make up ku, kini aku buka semua kancing kebaya. Ketika kancing terakhir terbuka, tiba-tiba Al masuk ke kamarku. Dengan segera aku menutup nya kembali. Al kok jadi gak sopan gitu ya? Sebelumnya dia tidak pernah berbuat seperti ini.


"Kamu mau apa? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu??!!" protesku keras membelakanginya sambil mengancingkan kebayaku satu persatu.


"Aku kira kamu sudah mengganti baju dari tadi, sudah cukup lama kamu keluar dari kamar. Aku kesini mau membantu memindahkan semua pakaian dan perlengkapan mu yang lain."


Al benar juga, tadi aku tidak langsung mengganti baju, karena membuka semua printilan hiasannya terlebih dahulu. Jadi dia tidak salah jika melihatku dalam keadaan tersebut. Tapi bukan modus dia kan untuk bisa melihatmu kan?


Ah sudah lah, aku capai berdebat. Aku hanya ingin bisa istirahat, setelah merapikan bajuku yang di ambil Al secara acak-acakan layaknya pakaian yang belum di gosok.


Iya Al memang membantu melemparkannya begitu saja ke atas tempat tidur. Kalau seperti ini lebih baik tidak usah di bantu Al. Dan sekarang dia malah tertidur pulas disaat aku merapikan pakaianku sendiri. Katanya mau dibantu?


Inikah yang disebut dengan suami gak peka dengan istri? Ngomongnya mau bantu, kalau begini sih lebih bisa disebut di kerjain yaa.

__ADS_1


__ADS_2