
Al kembali dengan membawa makanan, yang bisa kubilang banyak sekali. Tetapi tenang perut ku ini masih muat untuk menampung semua yang dibawanya.
Seperti orang yang kesurupan, aku masukan satu demi satu makanan yang dibawa Al. Lega rasanya bisa makan enak lagi, tapi ish... Rambut ini mengganggu sekali. Tidak ada karet pengikat atau apa gitu.
Kulihat Al mengambil sebuah karet bekas mengikat bungkus martabak. Dengan tangannya dia membantu menguncir rambut ku yang berantakan. Ya Ampun, kan gak boleh yaa? Dia melihat aurat rambut ku saja sudah dosa, kok sekarang dia malah berani menguncir rambutku. Harus bersikap seperti apa? Kalau aku larang nanti dia tersinggung, jika diam saja terasa risih.
Al menyadari ketidak nyamananku atas sentuhannya pada rambutku. Maka selesai menguncir rambut, dia terlihat seperti merasa bersalah dan salah tingkah.
"Maaf lagi, aku hanya mau membantu mu," Ucapnya tanpa mau menatap ku lagi.
Ish... Gemes aku jadinya. Ada cara yang bisa kamu lakukan untuk membantuku Al. Nikahi saja aku, jadikan aku istrimu ya setidaknya sampai harta Papa kembali. Setelah itu terserah saja maunya seperti apa, aku juga bingung kamu suka atau tidak. Yang pasti kalau aku sih suka matamu.
"Gak masalah, aku malah mau berterima kasih padamu. Kalau bisa aku mau pulang hari ini," pinta ku.
"Tunggu kata Dokter." Al menjawab datar.
"Gak, ah. Aku sudah ada dua hari di sini, sudah berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk ini semua."
"Bukan uang mu, tapi uang ku," jawab Al tidak terima dengan ucapanku.
"Iya, tapi kan nanti aku harus ganti. Aku mau pulang, boleh ya?"
"Aku bukan Dokter," ketus Al pergi meninggalkanku keluar, mungkin dia kesal mendengar rengekanku.
Ternyata Al mulai menyebalkan, rasanya dia gak mau hutangku cepat lunas hanya karena demi menjaga adik-adiknya yang memiliki sifat tak jauh dari Momy dan Sila. Kalau seperti ini, aku bisa apa!? Lolos dari mulut macan masuk ke mulut buaya kalau begini mah.
Al kembali masuk ke dalam, namun kini dia tidak sendiri, tetapi dia bersama Yasmin yang datang dengan membawa beberapa bungkusan. Makanan lagi kah? Kali ini aku menolak, karena sudah merasa kenyang sekali rasanya. Sampai perut ini begitu kencang.
"Hai Kak, senang rasanya melihat dirimu sudah sadar," ucap Yasmin begitu terdengar ceria.
Nih anak kenapa ya kok bisa baik begitu saja denganku? Oh iya, waktu itu dia sempat memelukku. Mungkin dia sudah mau menerima aku sebagai pengawasnya. Alhamdulillah, tetapi dia sudah kelar haid belum ya? Sudah mandi wajib belum ya? Apa dia mengerti itu semua?
"Aku jauh lebih baik ketika melihat kamu datang menjengukku. Yasmin mendekatlah, aku ingin bicara," pintaku pada Yasmin.
Al bingung mendengar aku memanggil Yasmin mendekat, ku sadari dia sedang memperhatikan kami. Biar saja, ini demi kepentingan adiknya sendiri. Bahkan aku memberi kode agar dia tidak mencuri dengar pembicaraan kami.
Aku berbisik kepada Yasmin, sudahkah dia berhenti haid dan mentuntaskan kewajibannya dengan melakukan mandi wajib?
Yasmin menjawab dia sudah berhenti haid namun belum melakukan mandi wajib yang ku sebutkan. Aku menyuruh dia untuk mencari di internet, dan berjanji akan mengajarkan dia tentang bagaimana menjadi seorang wanita muslimah yang sudah baligh. Mata Yasmin kulihat berbinar, dia senang sekali ketika aku bilang mau mengajarinya.
"Aku bawakan Kakak jilbab, Kak Al yang memintanya kepadaku." Suara Yasmin terdengar begitu hangat di telingaku.
Uh, manisnya...
Aku melihat Al yang mulai salah tingkah dengan tatapanku. Ternyata dia baik juga berbuat seperti itu, terimakasih Al.
__ADS_1
Yasmin membantuku memakaikannya, aku memang lebih menyukai jilbab langsung, karena kalau Momy dan Sila ngamuk hobinya tuh tarik-tarik jilbab. Kebayang dong kalau itu pasminah atau jilbab segi empat lainnya. Bisa habis waktuku hanya untuk merapikannya. Kalau pakai ini tidak, bisa langsung rapi sendiri hanya dalam sekali tarik.
"Yasmin kemarin sempat mengkhawatirkan mu, dialah penyebab aku menjemput mu waktu itu. Dia terus merengek minta mencarimu, kalau aku sih malas. Aku fikir kamu kabur dari tanggung jawab mu," ucap Al tiba-tiba.
Yayaya.... Aku gak nanya juga Al.
Aku menatap Yasmin, melihat ekspresi nya kurasa omongan Al benar. Yasmin lah penolong yang sebenarnya. Mengapa dia bisa berbuat seperti itu kepadaku, bukan kah Yasmin awalnya membenciku?
"Kakak benar, aku butuh teman bicara. Aku juga ingin Kak Laila jadi temanku. Makanya aku memaksa Kak Al mencari Kakak, dan senang sekali rasanya melihat Kakak Kembali," jelas Yasmin membenarkan ucapan Al.
Aku meraih tangan Yasmin yang berdiri di samping tempat tidurku. Dengan penuh ketulusan ucapan terimakasih yang begitu tulus kuucapkan padanya.
Mereka tidak nakal, mereka hanya butuh kasih sayang dan perhatian. Jika mereka sudah dapatkan itu ternyata sebenarnya mereka pun bisa menjadi anak yang baik.
****
Empat hari sudah aku di rumah sakit, dan sekarang setelah kondisi membaik, sudah boleh kembali ke rumah. Tetapi aku bingung harus kembali ke rumah siapa?
"Kamu harus pulang ke rumahku dan jangan kabur lag." Al mengingatkan ku.
Ya Setidaknya aku punya tempat untuk bisa ditinggali sementara ini. Tapi kan baju, handphone, dompet dan beberapa peralatan kuliahku ada di sana, bagaimana mungkin bisa tinggal di rumah Al dalam waktu yang lama.
"Aku mau kembali ke rumah Pak Harsono sebentar, untuk mengambil peralatanku," kataku meminta izin kepada Al dan beraharap dia mengizinkan, ketika kami berada di mobil untuk pulang.
Al memutar kembali laju mobilnya untuk pergi ke rumahku. Mungkin benar apa kata Al, aku harus menjauh dari rumah sendiri, sampai nanti lulus kuliah atau sampai menikah nantinya.
Selama aku di rumah sakit, Al selalu menunggu. Meski dia lebih sering menunggu di luar, tapi setidaknya dia tidak meninggalkanku sendiri. Dia pria yang benar-benar baik. Alhamdulillah, Allah telah mengirimkan Al untukku. Ish apa sih, untuk menolong ku maksudnya. Padahal berharapnya sih lebih ya.
Tak perlu menunggu lama, aku sampai di depan rumah sendiri. Kini perlahan salam itu ku ucapkan untuk diri sendiri. Aku masuk dengan pengawalan Al di belakang, di dalam terlihat begitu sepi, ternyata Momy dan Sila tengah makan di ruang makan.
Mereka tidak menyadari kehadiran ku, sampai saat Momy menoleh tepat ke arahku dengan wajah yang melotot dan kaget seperti melihat hantu di siang hari. Melihat ekspresi Momy seperti itu Sila ikut menoleh kearahku juga.
"Ka... Kamu!" ucap Sila terlihat kaget campur kesal.
Aku tidak menjawab, hanya tersenyum sinis kepada keduanya dan berlalu begitu saja. Momy bangun dari tempat duduknya, sepertinya dia ingin menyusulku. Namun Al keburu menahannya.
"Ehm, kalian duduk saja, biarkan Laila mengambil baju dan buku kuliahnya," ucap Al dengan suara yang berat, rupanya membuat mereka takut.
Baju, buku, baju dalam ku masukkan semua ke dalan tas besar, yang memang waktu itu sengaja ku beli jika ingin melarikan diri tanpa sepengetahuan mereka.
Dengan penuh susah payah, ku bawa tas yang telah terisi penuh. Sekarang aku harus meminta dompet dan handphone ku kepada mereka.
"Kembalikan dompet dan handphone ku," pintaku dengan wajah yang tidak ramah.
"Kalian dengar apa kata dia? Kembalikan yang Laila pinta, atau saya laporkan perbuatan kalian pada polisi," ancam Al pada Momy dan Sila.
__ADS_1
"Mom, kasih aja. Daripada polisi, Sila takut," ucap Sila memberi saran kepada Momy dan kulihat dari wajahnya dia benar takut.
Momy, pergi menuju kamarnya, kemudian kembali dengan membawa dompet dan handphone milikku. Dia menyerahkan semua dengan penuh kekesalan. Setelah aku terima, akhirnya kami bergegas pergi tanpa mengucapkan terimakasih.
Enak saja aku harus mengucapkan terimakasih kepada orang yang hampir saja membunuhku. Masih untung aku tidak menjebloskan kalian ke kantor polisi. Hadeuh untung lagi kan, meski udah banyak sialnya.
***
Kembali ke rumah Al, sebenarnya juga bukan rumah impian untukku. Kalian tahukan adiknya Vina? Dia tetap tidak bisa menerima kehadiranku. Entahlah mengapa dia begitu bencinya. Setidaknya saat ini ada Yasmin yang membuat aku merasa dibutuhkan.
Masuk ke dalam rumah ini kembali, setidaknya aku bisa bernafas lega dari penyiksaan yang Sila dan Momy lakukan padaku. Meski sebenarnya, jika boleh jujur lebih suka tinggal di rumahku sendiri.
Yasmin baru pulang sekolah, dan kini sedang makan di ruang makan rumah mereka yang besar, masih berseragam lengkap. Mungkin dia terlalu lapar sehingga lupa untuk mengganti baju seragamnya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Yasmin cantik!" Sapaku memanggilnya.
Mendengar suaraku Yasmin bangun dari tempat duduknya, dan berlari untuk memelukku. Beegitu senang diri ini di peluk Yasmin, karena sama seperti dia aku pun ingin dipeluk.
"Akhirnya Kakak pulang, Yasmin mau cerita banyak ke Kakak," ucap Yasmin yang membuat Kakaknya terlihat heran melihat keakraban kami berdua.
"Biarkan dia istirahat dulu, dek. Antar dia ke kamarnya," pinta Al pada Yasmin.
"Aku sudah tahu kamarku di belakang kan? Ingat, aku tidak hilang ingatan meski kepalaku terluka."
"Tidak, kamarmu di sebelah Yasmin berterima kasihlah kepadanya. Dia begitu suka padamu," jelas Al kepadaku.
Yasmin suka padaku? Kenapa hanya Yasmin, kenapa bukan kamu juga yang suka padaku Al? Loh aku kenapa sih?
Kuberi Yasmin sebuah ciuman hangat di pipinya. Terimakasih, akhirnya aku merasa dibutuhkan oleh orang lain, tidak merasa sendiri, dan merasa punya keluarga.
Kamar baruku lebih bagus dan lebih besar ketimbang kamar di rumah Papa. Semua sudah rapi dan bersih. Aku merasa nyaman sekali di sini. Ya iyalah, pastinya seperti itu.
"Hari ini aku ada perlu sampai larut malam, jadi tolong jaga adik-adikku ya," Pesan Al kepadaku ketika kami makan bersama.
Hanya Vina yang tidak ada di sana, entahlah kemana dia sampai saat ini belum pulang juga. Lagian percuma juga dia ada di rumah, jika tetap tidak menghiraukan aku.
"Baik, aku akan menjaga mereka," janjiku pada Al, seandainya Vina tak kembali kemana aku harus mencarinya?
"Dua hari lagi aku mau rapat direksi dengan beberapa relasiku. Dan aku ingin kamu ikut," pinta Al.
"Aku? Untuk apa?" tanyaku heran.
"Kamu kan semester akhir tahun ini, setidaknya aku ingin memberikan pekerjaan magang untukmu," kata Al, memberiku jawaban yang sedikit masuk akal.
Dia benar, aku sudah mau lulus. Akan ku usir Momy dan Sila dari rumah. Akhirnya sebentar lagi masa itu tiba, meski sampai saat ini kisah Cinderella ku belum bisa berakhir dengan seorang pangeran pun.
__ADS_1