Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Dua monster


__ADS_3

Akhirnya pulang kuliah, ketika Yasmin sudah ada di rumah. Dia baru saja pulang sekolah dengan menggunakan ojek antar jemputnya. Aku lihat kini dia sedang menonton Tv di ruang keluarga di rumah tersebut dengan masih berpakaian sekolah lengkap.


"Assalamualaikum," sapaku lembut, berharap mendapat jawaban.


Ternyata sama saja seperti Momy dan Sila yang tidak pernah menjawab salamku. Maka dicoba sekali lagi menyapanya, mungkin dia tidak mendengar karena terlalu fokus melihat Tv.


"Assalamualaikum!"


"Apaan si, berisik bangat??! Ganggu orang nonton aja," hardik Yasmin kepadaku.


Astagfirullah, ingin rasanya aku ambil cabai utuh bulat-bulat digoreng dadakan buat dicemilin bareng tahu bulat segar. Saking emosi dibuatnya.


Ni bocah enak bangat jawabnya, bikin orang jadi kesel aja. Aku ambil remot TV di samping tempat dia duduk dan kumatikan segera. Yasmin terlihat kesal karenanya.


"Kakak jangan usil ya, kembalikan gak remot TV nya?!!" Yasmin berteriak di hadapanku.


Dia memang manja, ada yang salah dalam hidupnya, entah lah apa itu. Kalau soal tidak mendapatkan perhatian, seharusnya dia bersyukur masih punya dua kakak yang sayang padanya. Bagaimana dengan ku yang tidak ada satu orang pun sayang padaku? Harusnya aku yang pantas bersikap seperti kamu.


"Yasmin, Kakak mau kamu ganti baju dulu setelah itu makan, baru deh nonton TV," ucapku dengan penuh kesabaran, meski ingin ikut meledak rasanya.


Yasmin bongsor dengan tinggi yang hampir sama denganku bangkit dari posisinya, dan dengan gaya yang cukup sombong dia menabrakan sedikit punggungnya ke badanku dan pergi sambil bergerutu.


"Kamu fikir di kamarku tidak ada TV."


"Yasmin dengerin Kakak, makan dulu sayang. Yasmin...," teriakku berusaha mengejar ke kamarnya.


"Brak!!!" Dia menutup pintu kamar dengan kasarnya.


Astagfirullah, di sini ada sasak tinju gak sih? Rasanya ingin ku tumpahkan semua rasa amarahku, tapi sekali lagi harus diingat dia masih anak-anak. Jadi aku harus banyak mengalah.

__ADS_1


Kembali ke kamarku, mengganti semua pakaian. Ternyata hidupku sama saja, tidak di sana tidak di sini, tidak ada yang mau menerimaku dengan baik. Meski sudah berusaha mencoba baik.


Aku ambil wudu untuk melaksanakan salat zuhur, aku menangis ketika itu. Ya memang hanya Allah swt tempat ku mengadu. Tak ada lagi tempat terbaik untuk mengadu.


Tak beberapa lama, Vina pulang dari sekolahnya. Kulihat dia diantar oleh seorang pria menggunakan motor yang hampir mirip dipakai Al kala itu. Aku hanya mengintip dari balik jendela, dari gayanya sepertinya mereka itu sepasang kekasih. Karena kulihat pria itu mencium Vina di pipinya. Vina kan masih sekolah, masa boleh begitu?


Vina masuk ke dalam rumah tanpa memberi salam atau berkata sesuatu padaku yang sedang membersihkan ruang tamunya. Dia hanya menengok sebentar lalu membuang mukanya.


Aku berusaha mengacuhkan kehadirannya, tak perduli dengan apa yang akan dia lakukan nantinya. Sampai beberapa saat kemudian, kembali lagi dengan pakaian yang telah diganti. Pakaian yang ku bilang terlalu seksi untuk di pakai seorang anak kelas 11 atau 2 SMA.


"Vina mau kemana kamu? Kamu tidak makan siang dulu atau istirahat dulu. Kenapa langsung pergi gitu aja?" tanyaku penasaran, karena dia kini adalah tanggung jawabku.


"Ih... Berisik bangat si Lo, terserah Gue mau kemana kek, kepo bangat!!" ketus Vina dengan wajah sombongnya.


Rasanya ingin kulempar guci kecil yang sedang ku pegang untuk dibersihkan ke arahnya. Pantas saja tidak ada satu pengawas pun yang sanggup untuk bekerja dengan mereka. Keduanya itu monster kecil.


"Ya udah si gak usah caper sama Kak Al, gak usah ngadu kalau aku pergi, beres kan?" Vina keluar dengan berlari dan pergi menuju motor si pria yang tadi mengantarnya ternyata sudah menunggu.


"Vina... Vina...!!" Aku berteriak diantara suara motor yang menggerung kencang.


Aku tidak tahu dia benar tidak mendengar atau sengaja tidak mau mendengarkan. Motor itu pergi membawa Vina, aku berdiri terpaku. Mau gigit sendal, lupa kalau tadi larinya gak pakai sendal.


Apa yang harus aku katakan pada Al nanti? Apakah aku harus jujur padanya bahwa adiknya itu seperti monster semua? Huaa... Lunas hutangku dengan Al jangan-jangan aku sudah terlanjur gila. Gak Laila, Momy dan Sila lebih menyeramkan dari ini. Kamu harus berjuang, semangat.


Sore itu, ketika aku sedang mengerjakan tugas kampus ku. Mbok Sum mengetuk pintu kamar, dia memberi tahu jika Al memanggilku. Tanpa banyak membuang waktu aku pergi menghampiri Al yang sedang duduk bersantai di ruang TV.


Sejenak dia melihat aku menghampirinya, lalu dia cepat membuang wajahnya ketika aku mendekat. Nih orang kenapa lagi? Kadang baik, kadang ketus.


"Kamu mau menggodaku?" Lantas saja Al bertanya kepadaku seperti itu.

__ADS_1


Apa maksudnya, aku tidak mengerti. Memang apa yang sudah aku lakukan? Seharian ini aku di rumah dan tidak berbuat hal yang aneh-aneh, mana bisa aku menggodanya?


"Maksud kamu? Maaf aku gak ngerti."


"Kemana hijab mu?Mengapa kamu membiarkan aku melihat rambut mu yang...," Al belum sempat melanjutkan, aku langsung memegang kepalaku.


Oh iya, dia benar. Tadi aku lupa memakai hijabku di kamar. Aku berlari tanpa berkata apapun kepadanya. Tidak itu bukanlah sebuah kesengajaan, tapi aku memang lupa. Aku memang terbiasa tidak berhijab di dalam kamar dan rumahku karena tidak ada pria di sana. Tapi ini kan rumah Al? Dasar Laila bodoh.


Setelah aku mengambil dan telah memakai hijab, aku kembali menemui Al yang masih duduk di sana. Namun saat ini dia masih membuang mukanya, apa ada yang salah lagi denganku? Jangan-jangan aku juga lupa memakai baju atau celana? Aku perhatikan semua, ternyata sudah lengkap semua, lalu salahnya dimana wooii?


"Bagaimana dengan kedua adikku?" tanya Al tanpa mau menatapku.


"Yasmin hari ini pulang tepat waktu, hanya saja ketika aku suruh untuk berganti baju dan makan dia malah mengunci kamarnya. Vina tadi sudah pulang sekolah juga, tapi habis itu dia berganti pakaian, lalu langsung pergi lagi dengan temannya," jawabku yang masih berdiri di hadapan Al, tidak kah dia menyuruhku untuk duduk?


"Jadi menurut kamu mereka bagaimana?" Al bertanya pendapatku tentang adiknya.


"Ya begitulah, aku tidak bisa memberi pendapat apa-apa."


"Kira-kira kamu bisa tahan dengan mereka?" tanya Al lagi masih tetap tidak mau melihatku.


Ayolah Al lihat aku, ingin sekali rasanya melihat bola mata coklat mu itu.


"Aku gak tau, tapi insya Allah aku bisa," jawabku optimis.


"Baiklah kalau begitu, semoga kamu bisa menjadi pengawas yang baik untuk mereka," Al berharap aku bisa menjaga kedua monsternya.


Al bangkit dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkanku tanpa menoleh sedikit pun. Huaa... Kok aku sedih ya, tidak bisa melihat bola mata Al?


Baiklah setidaknya aku harus bisa bertahan di rumah ini, sampai hutang lunas, dan sampai aku punya target tempat lain untuk bisa aku tinggali setidaknya sampai lulus kuliah nanti.

__ADS_1


__ADS_2