
Seperti biasa malam sebelum tidur, aku dan Al selalu berdiskusi tentang banyak hal. Dari seputar keluarga kecil kami, sampai ke hal yang menyangkut kepentingan adik-adiknya.
Tempat tidur adalah tempat yang paling nyaman untuk berdiskusi, ketika sudah mulai lelah bisa langsung terlelap di sana.
Entah kenapa saat itu dia langsung membicarakan hal yang sebenarnya aku malas bicarakan. Tiba-tiba Al ingin tahu seputar Kak Wildan.
"Yang, Pak Wildan itu masih muda ya? Jadi benar kata Yasmin dia ganteng," ucap Al memulai pembicaraan yang entah dari mana arahnya bisa muncul nama itu.
"Terus kenapa? Kamu naksir?" sindirku yang sebenarnya mulai malas.
"Ya bukan aku lah, kamu kali gitu yang naksir. Secara dia kan lebih muda dari aku, dulu aja kamu manggil aku dengan sebutan Om, kok," jawab Al mengingatkan aku dengan sebuatan yang dulu.
"Kamu emang berwajah boros, mau gimana lagi? Tapi dia kan memang lebih muda dari kamu, jadi wajarlah." Oops aku keceplosan, kenapa aku harus bilang Kak Wildan itu lebih muda dari Al?
Pasti setelah ini dia akan curiga terus deh.
"Kok kamu tau? Jangan-jangan kalian sudah saling bertukar identitas ya?"
Kan bener dia curiga, karena kebodohanku.
"Apaan si, kamu tuh! Aku cuma asal ngomong kok." Aku berusaha menutupi, agar Al tidak curiga. Sudah cukup bagiku untuk menutup masa lalu dengannya, tanpa harus membuka kembali.
"Eh tapi tadi kamu sadar gak sih kalau dia terus memperhatikan mu? Tatapan matanya itu beda saat melihat kamu, jangan-jangan dia suka sama kamu lagi. Kamu gak pernah keluar kan kalau ada dia?" Al terdengar posesif, masa sih dia mulai cemburu dengan Kak Wildan.
Ternyata Al sadar dengan tatapan yang Kak Wildan berikan padaku. Baru seperti ini saja dia sudah cemburu, bagaimana jika tahu kalau Kak Wildan adalah masa laluku. Pasti akan terjadi hal buruk yang akan terjadi dan tidak ingin aku bayangkan.
"Al, mau seperti apa pun dia menyukai ku. Tetapi aku tidak akan pernah menggantimu dengan dirinya, apalagi udah ada calon bayi kita, dia yang menguatkan cinta kita. Kamu telah memberi aku kehidupan baru, terimakasih ya sayang."
Aku memeluk erat suamiku, terimakasih Al aku bersungguh-sungguh mengatakannya.
Aku sudah nyaman dengan keluarga ini, ada Vina dan Yasmin yang selalu menemaniku disaat Al tidak ada di rumah. Mereka semakin dekat padaku, bahkan mereka selalu bercerita tentang kisah keseharian mereka padaku. Tidak, aku tidak akan menukar mereka dengan apapun, mereka terlalu berharga bagiku.
"Aku juga berterimakasih padamu. Kamu seperti lentera dalam kehidupan keluargaku," ucap Al terlihat tulus, kemudian mencium keningku.
Tenang Al aku tidak akan membagi hatiku pada yang lainnya. Kini aku tidak memiliki impian lain selain tua bersama mu dan anak-anak kita nantinya.
*****
__ADS_1
Siang itu Vina izin kepadaku untuk pergi ke toko buku, dan sekedar jalan bersama teman-teman nya. Senang rasanya melihat Vina yang kembali ceria, tidak muram dan pemarah seperti dulu lagi.
Yasmin tengah bersiap untuk menanti kedatangan Kak Wildan guru lesnya. Tapi sebelum itu dia meminta izin padaku untuk pergi ke mini market sebentar, membelikan cemilan yang akan dia sediakan untuk Pak Wildan nantinya. Aku berpesan pada Yasmin untuk tidak berlama-lama.
Tett... Tett.. Tett... Bel rumah berbunyi, aku mengambil jilbabku dan membuka pintunya. Ternyata, Kak Wildan yang datang untuk mengajar les.
"Assalamu’alaikum, La!" sapanya halus dengan gaya yang dulu dia lakukakan untuk menggodaku.
"Wa'alaikumsalam," jawabku malas.
Aku mempersilakan dia tunggu di depan, agar tidak terjadi fitnah nantinya. Namun ketika aku berjalan ke dalam dia mengikuti dari belakang.
"Aku masih menyimpan rasa untukmu Laila," ucapnya tiba-tiba, membuat aku kaget setengah mati.
Untuk apa sih dia bicara seperti itu? Dia gak sadar apa kalau aku sudah menikah dan bahkan sekarang sedang mengandung anak suamiku. Kenapa tidak muncul rasa malu pada dirinya saat mengucapkan itu kepada istri orang lain?
"Tapi aku tidak Kak, tidak ada tempat untuk Kakak di hatiku. Sudahlah jangan pernah ganggu kebahagiaan ku," jawabku ketus, memandang wajahnya agar dia percaya bahwa aku jujur.
"Tapi aku tidak bisa melupakanmu begitu saja, please La kasih aku kesempatan." Kak Wildan meraih kedua tanganku, dia mulai gila rupanya.
Aku menghempaskan genggaman tangannya, tetapi terlambat Al telah melihat Kak Wildan menggenggam tanganku sebelum aku menghempaskannya. Ya ampun apa lagi ini???
"Al jangan Al, lepaskan dia Al," pintaku memohon pada Al, bagaimana juga Kak Wildan pernah berjasa kepadaku.
Al melepaskan genggamannya, sorot matanya begitu tajam. Seperti Elang yang telah mendapat mangsanya.
"Maaf pak Althaf, saya ingin menjelaskan..." Kak Wildan berusaha menjejakan kakinya agar tidak terjatuh.
"Pergi sekarang juga, aku bilang pergi!!!" Al berteriak membuang mukanya dan mengusir Kak Wildan dari rumah.
Namun Kak Wildan tak mau mendengarkan dia tetap ingin menjelaskan sesuatu, Al mulai emosi kembali dan kulihat ingin sekali dia memukul Kak Wildan. Aku berusaha memeluk dan menahan Al. Kenapa sih nih orang tidak tahu diri.
"Pergi Kak, aku bilang Kakak pergi sekarang. Aku tidak mau melihat Kakak lagi!" Aku ikut berteriak mengusir Kak Wildan, sambil menahan Al yang emosi.
Kak Wildan akhirnya mengalah dan keluar dari rumah. Mungkin dia tidak tega juga melihat aku menahan Al dengan sekuat tenaga. Baiklah, entah apa yang akan terjadi setelahnya.
"Kakak kamu panggil dia Kakak? Kamu bilang kamu tidak kenal dia dan sekarang kamu panggil dia Kakak?" Emosi Al tidak stabil.
__ADS_1
"Brak!!!" Al meninju cermin hias yang ada di ruang tamu.
"Al biar aku jelaskan, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Al... Al dengarkan aku!!" Aku berusaha menjelaskan dengan pelan sampai akhirnya Al pergi meninggalkan ku dengan mobilnya.
"Al... Al...aku bisa jelaskan Al!!" Aku berteriak seperti orang gila.
Tangisku pecah saat itu, mengapa Kak Wildan bisa berbuat hal ini? Kamu masa lalu ku Kak, kamu akan tetap menjadi masa lalu ku. Tidak akan pernah berubah menjadi masa depanku.
Al aku cinta kamu, hanya kamu yang ada di hatiku Al. Aku terus menangis sambil mengambil serpihan kaca yang hancur karena dipukul Al.
Mbok Sum yang kaget, datang membantuku untuk membersihkannya. Aku masih menangis, sampai kehadiran Yasmin di sana.
"Assalamualaikum, loh Kakak kenapa Kak?" tanya Yasmin dengan wajah panik.
Akhirnya aku bercerita pada Yasmin yang baru berusia 13 tahun tetapi pikirannya dewasa. Yasmin memelukku, dia tidak menyalahkanku. Dia malah menyuruh untuk bersabar, Yasmin pun berkata jika Kak Al kalau emosi ya seperti itu. Makanya Yasmin dan Vina takut kepada kakaknya.
****
Malam itu sudah pukul 01.00, tidak juga ada tanda kepulangan Al. Kepalaku terasa begitu pening, karena sudah lelah menangis dan memikirkannya. Al kemana kamu?
Tak beberapa lama kudengar bunyi mobil Al, dia pulang juga akhirnya. Aku keluar dari kamar untuk menyambutnya, dan ternyata kedatangannya membuat aku membencinya. Al pulang dalam keadaan mabuk. Benci sekali melihat dia seperti itu.
"Hai sayang, kamu menunggu ku ya?" tanya Al dengan jalan yang tidak seimbang.
Aku membawanya ke kamar, dan membuka semua sepatu dan pakaian kantor yang masih dipakainya dari tadi siang. Ketika aku ingin membuka bajunya Al menarikku ke pelukannya.
"Aku tidak suka kamu berbicara pada pria manapun, terlebih jika pria itu menaruh hati padamu. Kamu hanya milikku, milikku seorang," Al meracau.
Dia memaksaku untuk melayaninya dalam keadaan mabuk, aku memang istrinya, tetapi melayani dia dalam keadaan mabuk adalah hal yang kubenci. Tetapi tetap saja tenaga dia lebih besar dari ku, akhirnya aku pasrah dengan keadaanku.
Keesokan paginya, Al baru bangun jam 10 siang. Kesadarannya memang sedang ku tunggu-tunggu. Aku tidak mau bicara pada orang yang sedang emosi, apalagi kalau dia sedang mabuk. Karena semua akan percuma. Al kaget bangun hanya berselimut tanpa sehelai pakaian pun.
"Apa semalam aku melakukan itu kepadamu?" Tanya Al seperti ada rasa bersalah kepadaku.
Aku yang sudah siap dan rapi kini bangun dari tempat dudukku. Al harus bisa percaya Padaku, jika aku memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan siapapun. Sepertinya kami memang harus merenung, menjauh untuk sementara waktu.
"Aku rasa untuk saat ini kita saling menenangkan diri, dan berfikir masih pantaskah kita bersama. Jika tidak ada kepercayaan disana, kalau kamu sudah bisa berfikir jernih carilah aku," jelasku mengambil tas yang telah aku siapkan.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Laila? Laila tunggu aku," panggil Al dari dalam kamar dan tak kuhiraukan.
Kemarin kamu yang pergi meninggalkan ku Al, sekarang kamu rasakan bagaimana rasanya jadi aku kemarin. Tenang Al aku tidak akan pergi ke tempat mana pun yang kamu tahu. Setidaknya jika kamu mencintai aku, kamu pasti akan menemukanku.