
Sudah seminggu aku di sini, tidak ada perubahan yang terjadi pada kehidupanku. Vina masih suka membentak, Yasmin yang kecil namun bertubuh besarpun juga melakukan hal yang sama. Al, sampai sekarang dia segan memandangku, memang apa salahku padanya? Sehingga dia tidak mau melihatku sama sekali.
Pagi itu seperti biasa aku menyiapkan makanan di meja, Al dan Vina sudah duduk di sana. Namun aku tidak melihat ada Yasmin, mungkinkah dia belum bangun dari tidurnya?
"Yasmin kemana ya?" tanyaku melihat ke arah Al dan Vina.
"Mungkin masih di kamar," jawab Al sambil membetulkan dasinya.
Aku pergi meninggalkan Al dan Vina untuk pergi ke kamar Yasmin. Ku ketuk pintu kamarnya 3 kali dan kubuka tanpa menunggu jawaban darinya. Aku khawatir telah terjadi sesuatu padanya, meskipun dia benci padaku.
Ternyata benar, Yasmin sedang menangis di atas tempat tidurnya. Kira-kira kenapa ya dia? Aku berusaha untuk duduk di samping tempat tidurnya. Yasmin sadar dengan kedatanganku, tetapi dia tidak marah ketika aku duduk di sana.
"Perlu teman bicara?" tanya ku perlahan mencoba bernegosiasi dengan si bungsu di keluarga ini.
"Aku juga dulu tidak punya teman bicara, sesak rasanya jika punya masalah tapi gak tahu harus bicara sama siapa." Terus kucoba untuk bicara dengan Yasmin.
"Brug!" Tiba-tiba dia memelukku, sampai kaget seperti diterjang beruang besar.
Aku membalas pelukannya.
Tak kusangka jika reaksi Yasmin akan seperti ini padaku, dia memeluk tanpa bicara. Perlahan kubelai rambutnya yang tipis tapi panjang. Ini pertama kali aku merasakan pelukan dari orang lain, ternyata sama seperti dia akupun butuh pelukan. Begitu nyaman rasanya.
"Yasmin ada masalah? Kakak boleh tau?" Aku bertanya tetap dengan nada yang lembut, agar dia tidak tersinggung dan mengubah mood monsternya kembali.
Yasmin bercerita jika hari ini dia mendapatkan haid pertamanya. Aku tersenyum dan menjelaskan padanya bahwa itu adalah hal yang wajar, karena semua wanita akan merasakan hal yang sama. Aku berkata padanya bahwa kini dia telah menjadi wanita dewasa, dan banyak hal yang tidak boleh dilakukan ketika berteman dengan teman prianya.
Dulu waktu dapat haid pertama pun aku bingung harus bicara pada siapa, aku menangis sendiri hingga Papa yang harus menjelaskannya. Dia bilang, aku harus bisa menjaga diriku, jangan sampai terjerumus ke dalam hal yang tidak baik.
Yasmin terlihat membaik. Aku menyuruhnya bergegas ke kamar mandi, dan berjanji akan menyediakan pembalut untuknya. Dan dia memintaku untuk merahasiakan ini kepada kedua kakaknya. Mungkin dengan Vina aku bisa, tetapi tidak dengan Al, karena dia akan bertanya tentang bagaimana keadaan adiknya setiap pulang kerja.
"Bagaimana Yasmin, mengapa kalian lama sekali?" tanya Al penasaran dengan apa yang telah kulakukan di kamar Yasmin, kali ini Al menatapku dalam dan penuh ke khawatiran.
__ADS_1
Horee.... Akhirnya aku bisa melihat mata itu.
Aku menggeleng dan tersenyum, kemudian duduk untuk makan bersama mereka.
"Aku jalan, kak," pamit Vina berdiri sambil membawa tas sekolahnya.
Vina masih saja tidak menghiraukan keberadaanku, dia bilang aku caper, mau harta kakaknya dan dia bilang segala hal buruk ketika aku menasihatinya. Terserah apa katamu Vina, yang pasti aku tidak memiliki maksud yang dia sebutkan tadi.
Kini aku dan Al berdua kembali, dia tidak melihatku sama sekali. Yasmin datang dengan keadaan yang lebih murung dari biasanya. Al bingung melihat perubahan adiknya.
"Kamu baik-baik saja, dek?" Tanya Al pada adik bungsunya.
"Aku baik, Kak. Cuma sakit perut sedikit," jawab Yasmin dengan wajah sedikit lesu.
"Ya sudah sarapan dulu, nanti Kak Al antar ke sekolah, ya!" pinta Al pada Yasmin.
Yasmin menjawab dengan sebuah anggukan. Ketika aku ingin melanjutkan makan, ponselku tiba-tiba berdering, kulihat sebuah panggilan dengan nomor baru, siapa ya kira-kira?
"Laila, kamu pulang sekarang juga! Atau Momy jual motor tua Papa mu!!" Ancam Momy dari sana.
"Momy tunggu Momy...," pintaku refleks berteriak mengingatkan Momy, tapi aku lupa jika masih berada di meja makan bersama Yasmin dan Al.
"Maaf semua, permisi," pamitku seraya bangun dari kursi dan pergi kebelakang untuk melanjutkan pembicaraan dengan Ibu tiriku.
"Momy tolong Momy, aku akan pulang. Jangan jual motor kesayangan Papa. Aku mohon," Pekikku ketika sudah merasa aman dan yakin tidak ada yang mendengar.
"Kalau begitu pulang sekarang," hardik Momy dibalik ponselnya.
"Iya Momy, aku pulang." Suaraku terdengar bergetar, aku tidak akan membiarkan semua kenangan Papa di jual mereka.
Ku tutup handphone dengan rasa panik, ketika aku berbalik, Al sudah ada di depanku. Sudah berapa lama dia berdiri di situ? Apa dia mendengar semua yang aku ucapkan?
__ADS_1
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Al menatapku dalam dengan mata tajam sendu yang aku suka.
"Aku... Aku... Pembantu, hehehe...," jawabku dengan penuh keraguan.
"Aku tidak percaya, kamu pembohong. Aku ingin bicara dengan kamu sore ini, setelah pulang kantor." Al berkata dengan begitu serius dan ingin pergi meninggalkan ku.
"Aku tidak akan ada di sini sore nanti!" teriakku ketika dia membelakangi untuk pergi.
"Maksudmu? Kamu akan pergi dari sini? Kamu masih punya hutang padaku kamu ingat?" Al kembali mendekatiku.
"Aku tahu, tapi tenang saja akan aku ganti setahun lagi, bagaimana?" pintaku memelas, semoga dia mau mengerti.
"Tidak, itu terlalu lama."
"Baiklah kamu boleh menahan semua identitas ku, tetapi tolong biarkan aku pulang karena ada suatu hal yang harus aku kerjakan. Aku berjanji setelah itu aku akan kembali." Aku berusaha meyakinkan Al.
Sebenarnya bisa saja aku pergi tanpa izin dari dia, tapi rasanya tidak etis. Aku datang baik-baik, maka harus izin secara baik juga. Kalau aku pamitan seperti ini, seandainya punya masalah kembali, aku bisa kabur kesini lagi. Setidaknya harus punya rencana cadangan.
"Baiklah jika itu maumu, dan pastikan kamu akan kembali sebelum aku sampai ke rumah sore nanti." Al menyerah dan mau menuruti apa mauku.
"Ok, siap pak boss. Aku akan kembali ke rumah sebelum pak boss sampai." Aku bersemangat untuk meyakinkannya.
Itu pun jika aku selamat ya Al, karena bisa saja Ibu tiriku melenyapkanku untuk selamanya. Kan tidak tahu juga apa rencana mereka.
Aku bersiap merapikan kamar dan beberapa pakaian yang ku bawa. Sepertinya aku akan kembali lagi ke rumah ini, jadi kutinggalkan beberapa buku kuliah di sini. Ketika semua telah berangkat dengan aktivitas masing-masing, aku pun pamit dengan Mbok Sum.
Sebelum pergi, aku menyediakan pembalut yang cukup banyak untuk Yasmin. Aku tahu dia tidak akan cerita pada yang lain jika hari ini adalah haid pertamanya, dan dia pasti malu untuk meminta itu pada yang lainnya.
Seminggu tinggal di sini cukup membuat sedih, mungkin ini bukan rumahku. Tapi aki sudah merasa terbiasa dengan keadaan rumah ini.
Keluarga Al yang memiliki tampang boros, tetapi tidak melunturkan ketampanan dan kecantikan wajah mereka. Mbok Sum yang begitu baik, dan masakan enaknya. Membuat Laila merasa di sini lebih baik daripada di rumah sendiri
__ADS_1