
Selesai dengan kegiatan subuh, aku pergi ke dapur untuk membantu Mbok Sum yang sedang membuat sarapan. Wanita itu bekerja dengan cekatan, tak menyangka dia bisa memasak dalam waktu yang begitu singkat.
Jadi penasaran, Mbok Sum punya batre cadangan.
"Apa yang bisa ku bantu Mbok?" Aku bertanya ketika dia sedang meletakkan makanan yang selesai dimasaknya ke dalam wadah.
"Udah mbak, sudah kelar semua. Neng Vina sama neng Yasmin gak suka dengan masakan yang dibuat orang lain selain Mbok. Nanti mereka marah kalau bukan si Mbok yang buat," ucapnya dengan sedikit medok jawanya.
Sepertinya kali ini aku akan bertemu dengan manusia sombong lagi. Ya sudah aku sih sudah terbiasa menghadapi manusia seperti mereka. Momy dan Sila saja sudah seperti monster.
"Memang Vina dan Yasmin itu siapa Mbok?" Tanyaku penasaran, apakah mereka istri-istrinya Al.
Hebat juga si om itu, punya dua istri dalam satu rumah. Apa dia buka lowongan untuk istri ketiga? Kalau ada aku mau.
"Mereka itu adiknya Mas Al, Neng Vina kelas 11, Kalau Neng Yasmin baru kelas 7 kalau si Mbok gak salah," jelas Mbok Sum sambil membuat susu untuk siapa aku tidak tahu.
"Kalau Mas Al nya sendiri sudah menikah belum Mbok?" tanyaku ketularan kepo Mbok Sum, tapi emang masih penasaran juga dengan keluarga ini.
"Belum, Mas Al itu masih muda umurnya saja baru dua puluh sembilan tahun. Mbok yang mengasuh Mas Al dari bayi. Makanya sudah seperti anak sendiri sendiri."
Hah,apa? Dua puluh sembilan tahun? Kok mukanya terlihat boros ya?? Aku fikir dia sudah kepala tiga. Seenggaknya udah punya istri lah ya.
"Mbook....Mbook...!!!" Terdengar suara teriakan memanggil Mbok Sum dari dalam.
"Mbak, bantu bawa ini semua ke meja makan, ya. Mbok dipanggil Neng Vina." Mbok pergi setengah berlari memenuhi panggilan dari majikannya itu.
__ADS_1
Satu persatu sarapan yang telah disiapkan si Mbok aku bawa ke meja makan. Meja makan cukup besar yang berisi delapan buah kursi bagiku terlalu banyak hanya untuk makan tiga orang anggota keluarga. Apakah ada orang lain yang tinggal di sini? Oh iya bagaimana dengan orang tua mereka?
"Laila, nama kamu Laila kan? Aku mau kamu makan bersama kami," ucap Al dengan suara yang berat terdengar dari belakang ku.
Aku melihat ke arahnya. Ya, dia memang tidak terlalu tua. Justru kulihat dia dewasa sebagai seorang pria. Apa dia pangeranku? Jangan mimpi Laila ini masih pagi. Apa aku harus tidur lagi supaya bisa bertemu pangeran yang sebenarnya?? Benar-benar dalam mimpi maksudnya.
Kenapa saat dia memanggil namaku ada sesuatu menggelitik di jantung ini. Harusnya manggilnya sayang gitu bukan Laila aja.
"Saya... Saya mau membawakan yang lainnya," kataku segera pergi meninggalkan Al sendirian.
Kok jadi merasa salah tingkah ya? Mengapa ada perasaan jengah setelah aku tahu dia masih single, bukannya aku harus lebih takut lagi jika dia sudah beristri? Bagaimana jika ada label PELAKOR di jidatku?? Horor.
Aku kembali dengan membawakan yang masih tertinggal di dapur. Di sana sudah duduk anak perempuan memakai pakaian SMP dan satu lagi memakai pakaian SMA. Tidak salah lagi mereka kedua adiknya Al.
"Aku mau kenalkan pengawas kalian yang baru, Laila namanya. Kak Laila ini adalah seorang mahasiswi, jadi gak seperti mbak yang lain yang selalu kalian panggil bodoh, tolol atau lainnya. Jadi Kakak minta kalian dengar apa kata dia, Kakak gak mau kalian berulah atau membuat pengawas kalian tidak betah di rumah," Al memperkenalkan aku kepada dua adik perempuannya.
Bagus jadi tugasku hanya mengawasi kalian berdua, awas kalau kalian macam-macam. Aku pites bagai kutu. Ya ampun, beginikah rasanya jadi Ibu tiri?? Tidak, aku tidak mau seperti momy.
"Hai aku Laila," sapaku berusaha ramah, meski tatapan mereka begitu sadis. Sesadis tetangga kalau lihat orang lain beli barang baru.
"Ya.. Ya... Ya...," jawab si bungsu Yasmin dengan wajah konyolnya.
"Mahasiswi tetap saja terlihat dungu dan kampungan," Ketus Vina kakaknya dengan gaya modis dan sok cantik, ehm tapi emang dia cantik sih.
Hai dik, aku ini anak pengusaha loh. Hanya saja jalan hidupku tidak seindah kalian. Mencoba berusaha menahan mulutku bicara, sabar Laila ini bukan hal baru untukmu. Anggap aja jika di rumah ada dua nenek sihir yang ini bisa disebut bocah sihir.
__ADS_1
"Vina, jaga mulutmu," gertak Al dari kursinya.
"Duduk, La. Kita makan bersama," Pinta Al padaku.
Duduk gak ya?? Nanti mereka tambah kesal lagi kalau aku mau menuruti semua permintaan Al.
"Gak nafsu, yuk dek kita berangkat!" Vina bangkit dari mejanya dan pergi dengan mengajak adik bungsunya.
Pantas saja Al terlihat boros untuk ukuran wahah, oh mungkin karena ini sebabnya. Ulah sang adik yang membuat dia menjadi banyak pikiran. Kalau jadi dia, sudah aku jitak satu-satu adik model begini.
Al membiarkan adiknya pergi begitu saja, tanpa pamit atau mengatakan sesuatu pada dia sebagai Kakaknya yang paling tua.
Kini tinggal aku duduk berdua bersama Al di meja makan. Tak ada pembicaraan di antara kami. Aku merasa canggung sendiri. Mungkin begini rasanya punya suami, please fokus kuliah Laila.
"Maafkan mereka ya, sifat mereka seperti itu sejak Mama dan Papa meninggal karena kecelakaan pesawat. Mereka jadi kehilangan sosok yang sering memanjakan mereka, sedang aku terlalu sibuk untuk memperhatikan mereka," jelas Al tiba-tiba.
Curhat bang? Aku sampai kaget mendengarnya.
"Oh, gak masalah bagiku. Aku terbiasa menghadapi orang yang sifatnya seperti mereka," jawabku lagi.
Waduh, kata Saya kamu sudah berubah menjadi aku kamu. Ada kemajuan antara aku dan Al, eh tapi benar bukan sih kalau dia adalah pangeran dalam kisah Cinderella ku?
"Biasa maksudnya?" Al bingung dengan yang ku katakan.
"Biasa, Aku kan pembantu, jadi kalau ketemu majikan seperti itu adalah hal biasa bagiku," jawabku berbohong. Padahal cuma ibu dan kakak tiri sebagai majikanku.
__ADS_1
Dan sepertinya Al tidak sepenuhnya percaya dengan ucapanku. Dia kembali memperhatikan, cara dia memandang membuat dada terasa sesak. Sudahlah Al, jangan melihat aku seperti itu atau nanti aku bisa mati karena jantung yang berhenti berdetak.
Al pria tinggi bertubuh besar, berambut hitam, bermata coklat. Ya ampun tanpa sadar aku juga memperhatikan bola matanya. Astagfirullah, semoga aku tidak jatuh cinta pada orang yang baru ku kenal kemarin.