
Al pulang dari kantor seperti kemarin, entah kenapa dia sekarang lebih suka di rumah? Padahal dulu selalu suka pulang larut malam. Tidak pernah pulang secepat ini, bahkan jarang sekali melihat keberadaannya di sore hari. Aku saja sekarang masih mengerjakan tugas di kamar, kapan selesainya ini? Duh.
Setelah mengganti baju, Al menghampiriku. Dia memberi ciuman hangat di pipiku, masih tak bergeming dengan kedatangannya. Tugasku terlalu banyak yang belum di selesaikan, jadi aku tidak tertarik dengan rayuan mautnya. Namun ternyata Al tidak suka jika aku terus terpaku di depan laptop. Berkali-kali dia merusak pekerjaanku dengan asal memencet tombol keywordnya.
"Al, kamu merusak tugasku!" keluhku kesal menutup laptop, sebelum semua dibuat semakin hancur olehnya.
"Kok kamu pakai jilbab di kamar?" Al bertanya tentang jilbab yang ku pakai saata menerima tamu kak Wildan tadi.
"Memang kenapa? Bukankah kamu tahu aku sudah berhijab?"
"Aku suka kamu berhijab di luar, tapi jika di kamar ini kalau bisa biarkan aku melihat rambut mu itu. Rambut yang selalu aku rindukan harumnya," ucap Al membantu melepaskan jilbabku.
"Tadi ada yang datang ke rumah, wali kelasnya Yasmin," jawabku. Sebagai seorang istri aku harus jujur dan mengatakan yang sebenarnya kalau ada tamu hari ini.
"Tumben, gak biasanya wali kelas datang ke rumah. Ada apa ya?" Al bertanya bingung sambil terus merapikan rambutku yang berantakan karena jilbab yang baru saja dibuka.
Jadi bukan Al yang mengundang nya kesini? Lalu siapa? Kok bisa tepat sekali bisa kak Wildan yang datang ke rumah. Aku tak ingin berprasangka buruk dulu, mungkin Yasmin yang memintanya untuk menjadi guru lesnya.
"Dia bilang ada yang menghubunginya untuk menjadi guru les nya Yasmin, bukan kamu kah yang menghubunginya?" tanyaku penasaran.
"Bukan, tapi bagus juga sih. Kalau dia mau mengajar privat Yasmin," jawab Al tiba-tiba, membuat aku kaget mendengar nya.
Tidak terima rasanya aku mendengar jawaban Al, bagaimana jika Wildan terus datang ke rumah ini. Bukankah bisa berbahaya untukku nantinya, atau aku bilang saja siapa dia di masa laluku pada Al ya? Aaah... Tapi nanti dia berpikir yang tidak-tidak lagi.
"Tapi dia itu cowok Al," kilahku, penuh harap agar Al mau mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Kamu gak mungkin jatuh hati pada gurunya Yasmin kan? Laila sayang, aku percaya padamu selama hatimu itu hanya untukku," jawab Al dengan suaranya yang seksi, mencium kening lalu memelukku.
Deg, sejenak jantungku terasa berhenti mendengar pertanyaan Al. Bukan begitu, kamu tidak tahu siapa Kak Wildan. Dia itu pria pertama yang kupilih sebagai pangeran penolong, karena Kak Wildan lah aku bisa hijrah menjadi wanita seperti sekarang ini. Dia begitu banyak jasa kepadaku.
"Gak usah kamu fikirkan yang lain dulu, sekarang fokus untuk bisa mendapatkan kembali harta Papa aja dulu," kata Al ketika melihat aku lebih banyak diam.
"Hah, maksudnya?" Jujur aku tak mengerti maksud dia seperti apa.
"Bagaimana Kalau kita melakukannya lagi?" rayu Al kemudian mencium ku lagi namun kini pindah ke bibir dan aku kembali luluh dalam buaiannya.
Al itu pantang menyerah ya? Selalu saja ada caranya untuk aku melupakan semua masalah yang ada. Ketika aku belum bisa menyelesaikan satu masalah, mengapa harus datang yang baru? Semoga Yasmin tidak menginginkan Kak Wildan untuk menjadi guru privatnya.
Hai Al bagaimana jika nanti aku kembali menaruh hati pada Wildan? Kamu tidak takut kehilangan aku kah? Jujur saat ini aku masih menyimpan semua kenangan kak Wildan, tetapi aku akan berusaha untuk tetap menjaga kepercayaan mu itu.
*****
Di ruang makan malam itu, Aku membicarakan tentang kedatangan Kak Wildan kepada Yasmin. Dia begitu senang jika Kak Wildan mau mengajarnya.
"Dia itu guru terganteng di sekolahku loh, Kak!" Seru Yasmin membuat aku tersedak mendengarnya.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Tenggorokan ku terasa penuh makanan, sampai Al memberikanku air minum.
"Berarti benar tampan ya, Kakak mu sampai tersedak mendengarnya. Beruntung dia bisa melihatnya hari ini," sindir Al padaku.
"Apa sih Al, kamu cemburu?" Aku membalas tuduhannya.
__ADS_1
Dia tidak menjawab, dan kembali serius dengan makanannya. Aku tahu dia pasti cemburu, hanya saja tidak mau mengungkapkan rasa cemburunya itu. Tenang Al, aku akan tetap mencoba menjaga hubungan kita.
"Aku mau kak, nanti aku akan bilang sama Pak Wildan di sekolah." Yasmin begitu bersemangat.
Al tak menjawab kemauan Yasmin, mungkin dia masih memikirkan kata-kata Yasmin soal guru terganteng tadi.
Setelah selesai makan, Al dan Yasmin langsung masuk ke kamar. Sedang Vina sampai saat ini tidak tahu di mana keberadaannya. Pulang ke rumah hanya untuk mengganti pakaian saja, dan pergi lagi setelahnya.
Selesai membantu Mbok Sum merapikan piring bekas kami makan tadi, aku langsung masuk ke kamar. Ku lihat Al sedang duduk bersama laptopnya di atas kasur.
"Al, kamu masih kerja? Ini sudah malam loh, kenapa gak di lanjut besok saja?" tanyaku sambil membuka jilbab dan kuncir rambut.
Mendengar ucapanku dia langsung menutup laptopnya. Dan menyuruh untuk tidur di sampingnya. Mata ini terasa berat, sampai akhirnya aku tertidur dengan belaian Al pada rambutku. Terima kasih kekasih halalku, telah membuat merasa nyaman selalu.
*****
Malam itu aku mendengar sesuatu, seperti ada orang yang melangkah masuk. Tapi Siapa? Pencurikah? Aku bangun dan memberanikan diri untuk mengintip terlebih dahulu. Tidak mungkin pencuri, karena rumah ini dan 11 rumah lainnya dijaga pengamanan 1x24 jam oleh satpam di depan pintu masuknya.
Aku membuka sedikit pintu kamar, dan terlihat Vina yang baru saja pulang ke rumah. Lampu kamar kunyalakan, sekedar untuk tahu jam berapakah ini. Ternyata jam 22.30, sudah larut juga anak ini baru pulang.
Ingin rasanya aku bangunkan Al, tetapi ya sudah lah adiknya sudah kembali malam itu, berarti sudah tidak ada perlu lagi yang dia khawatir kan. Ketika aku mulai mematikan lampu kamar kembali. Kudengar langkah kaki kembali, dan itu Vina yang akan keluar kembali. Apa? Dia mau keluar lagi? Ini anak gak bisa dibiarkan aku harus tau kemana dia pergi.
Aku pergi mengambil jilbab dan kunci motorku, tidaklupa untuk membawa handphone dan dompet juga, jaga-jaga jika harus menelpon Al nantinya. Vina keluar rumah, ternyata tak jauh dari sana dia sudah dijemput dengan mobil. Aku bersiap dengan motor dan helm sudah terpakai, ketika mereka pergi aku bisa mengikutinya dari belakang.
Bikin penasaran aja, kemana sih dia ingin pergi malam begini?
__ADS_1