Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Menikah?


__ADS_3

Selesai makan ikut Al pergi ke kantor. Katanya ada rapat yang harus aku ikuti bersamanya, loh kok bisa, untuk apa? Bagaimana juga kan karyawan baru masa harus ikut rapat?


Aku berjalan mengikuti langkah Al yang panjang, selain karena tidak tahu ada dimana ruang rapat nya yang pasti aku harus tetap ikut kemana pun dia pergi. Beberapa karyawan Al melihat, mungkin mereka bertanya-bertanya siapa aku?


Pintu ruang rapat terbuka, tidak ada seseorang pun di sana selain Momy dan Sila. Untuk apa mereka ke sini? Al duduk di bangku kebesaran miliknya, sedang Sila dan Momy bersebelahan. aku sendiri berseberangan dengan keduanya.


"Baiklah kita mulai rapat ini," Ucap Al seketika.


Ini rapat apa sih? Terlihat wajah Momy sedikit pucat menghadapi Al.


"Silakan apa yang ingin kamu bicarakan pada kami?" Rupanya Momy memiliki rasa penasaran yang sama denganku.


Aku hanya diam menatap Al dan Momy bergantian. Karena memangaku tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi di sini.


"Ok, aku cuma mau mengabari kalau Aku dan Laila akan menikah besok," ujar Al bagai petir di siang bolong.


Hai Al, ucapanmu itu seperti petir yang bisa membunuh ku kapan saja. Kamu lagi gak mabuk seperti Vina kemarin kan? Apa mungkin jidat pria ini terluka karena ketiban kelapa? Atau jangan-jangan dia orang sekarat yang akan mati esok dan butuh seorang pendamping? Masa bilang mau nikah semudah meludah??

__ADS_1


"Apa?!! GAK, Kamu bohong. Kalian menipu kami, kan?" Momy terlihat behitu histeris.


Aku hanya tetap diam, meski rasa penasaran ini terus menghantui. Jadi tambah ingin tahu bagaimana rencana Al selanjutnya. Apa dia serius dengan ucapannya itu? Menikah? Dengan Al... Yess, Mata itu akan menjadi milikku nanti. Astagfirullah, jaga sikap Laila.


"Suka atau tidak suka, aku sudah bilang ke pengacara dan orang kepercayaan ku untuk mengurus semua." Al memberi ketegasan bahwa dia sangat serius.


"Aku tidak setuju, Aku tidak merestui kalian," Momy semakin pucat, Sila berusaha menenangkannya.


"Memang kalian siapa? Kalian bukan walinya, Laila itu yatim piatu tanpa sanak saudara yang lain. Dia bisa di walikan oleh hakim, bukan kalian. Silakan bilang kepada pengacara keluarga kalian untuk menyiapkan proses pemindahan hak waris kepada Laila yang sudah menikah." Al begitu tenang pembawaannya.


"Kamu fikir begitu mudah, baik kita lihat saja nanti. Apalagi kalau aku tahu jika pernikahan kalian adalah palsu nantinya. Tidak ada warisan berpindah bahkan aku bisa menuntut kalian di pengadilan atas kasus penipuan!" ancam Momy berdiri dan pergi meninggalkan kami berdua dengan di ikuti Sila di belakangnya.


"Al, apa mereka akan percaya jika kita akan menikah sungguhan?" tanyaku bingung, dan mulai sedikit mengerti dengan permainan Al.


Karena selama ini tidak ada pembahasan tentang menikah, meski kami tinggal serumah. Ya meski gak ngapa-ngapain juga, mungkin Al melakukan itu untuk menjaga nama baiknya. Ya setidaknya, aku bisa lepas dari jerat ibu dan kakak tiriku.


"Kita memang akan menikah sungguhan, di depan wali hakim dan penghulu betulan. Namun jika nanti urusanmu telah selesai. Semua akan kembali padamu, maunya seperti apa, aku tidak akan memaksa," ucap Al membuat ku tenang.

__ADS_1


Maksudnya dengan kata terakhir itu bagaimana? Kok aku tidak bisa mencerna kata-kata aku tidak akan memaksa? Jadi kalau aku mau selesai ya udah, tapi kalau ketagihan ya boleh nerus gitu kek tiket terusan? Ah, biarlah nanti menjadi urusan nanti.


Jadi besok aku akan menikah? Loh katanya dia mau mempekerjakan aku, kok malah mau menikah? Tapi tidak apa-apa, lebih cepat lebih baik. Biar aku bisa mengusir Sila dan Momy.


Al kalau nanti aku tidak mau bercerai padamu bagaimana? Apa kamu tidak ada perasaan suka sedikit pun padaku?


Ada perasaan senang dan sedih sekaligus. Aku menikah, bukankah itu hal yang selalu kutunggu? Namun terasa sedih karena tidak tahu bagaimana perasaan pria yang akan menjadi suamiku. Dia cinta atau hanya iba?


"Kenapa kamu terlihat murung? Bukankah seharusnya kamu bahagia?"


"Aku... Aku sangat berterimakasih kepadamu Al. Meski bukan siapa-siapa, tetapi kamu selalu menolongku. Tak ada yang bisa ku alas untukmu selain ucapan terimakasih dan aku berhutang budi."


"Sudah cukup. Tidak ada urusan hutang budi diantara kita. Karena ini semua keinginanku," jelas Al.


Huh, hutang rumah sakit aja aku disuruh bayar. Apalagi semacam hal yang menyangkut kehidupan pribadinya. Pasti dia akan meminta bayaran yang cukup mahal. Atau jangan-jangan aku akan membayar ya dengan tubuhku? Tidak, itu tidak boleh terjadi.


Berpikir Laila, bagaimana caranya agar kamu bisa membalas budinya.

__ADS_1


__ADS_2