Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Vina terjebak


__ADS_3

Vina bersama mobil itu mulai bergerak, dan aku mengikuti mereka. Menelusuri jalan yang mulai sepi.


Hawa dingin angin malam yang sudah lama tidak kurasakan, kini aku rasakan kembali. Hai, bukannya aku juga pernah keluar malam seperti Vina juga? Tapikan kalau aku pergi karena sedang ribut dengan Momy. Jadi pergi keluar hanya untuk nongkrong menghilangkan penat di tukang nasi goreng aja kok, gak jauh-jauh lah. Hehehe, itu sih menghilangkan lapar ya.


Mobil yang membawa Vina pergi ke pusat kota, dan berhenti di sebuah tempat yang kurasa adalah sebuah klub malam. Sangat berharap jika Vina tidak akan turun dan masuk ke sana, hai umurnya kan masih 16 tahun tidak mungkin dia boleh masuk ke sana.


Vina turun di ikuti dengan 1 orang teman wanitanya, dan 4 orang teman pria. Wow, banyak juga teman Vina yang mengajaknya. Untuk sementara aku memilih tetap memperhatikan terlebih dahulu. Dan ternyata benar, Vina dan ke 5 temannya masuk ke dalam sana. Hadeuuh... Nih anak nyusahin bangat ya.


Aku turun dari motor dan melangkah untuk ikut masuk ke dalam. Tersadar tiba-tiba saat semua orang memperhatikanku, seorang wanita berjilbab dengan piyama untuk apa masuk ke dalam klub malam? Mungkin fikir mereka seperti itu. Suara dentuman suara musik sudah terdengar di depan pintu masuk, bagaimana kalau bunyi suaranya di dalam? Apa mereka tidak tuli nantinya mendengar suara musik sekencang itu? Belum sampai masuk aku dihadang oleh dua orang yang berbadan besar.


"Maaf anda dilarang masuk!" Hadang salah satu pria berbadan besar dengan cetakan perut yang aku bisa lihat dari kaosnya yang terlalu ketat.


"Loh memang kenapa? Bukan kah ini tempat umum?" tanyaku menatap sinis pria itu.


Badan pria itu besar, bahkan terlalu besar bagiku. Macam hulk saja dia, takut aku dibuatnya.


"Ini tempat umum, tapi ada peraturan untuk masuk ke sini. Pakaian yang anda pakai tidak diperbolehkan masuk ke sana," ucap yang lain menimpali.


Loh memangnya ada yang salah dengan pakaianku? Hai mereka yang berpakaian minim gak bener aja boleh masuk, masa aku tidak? Gak adil bangat nih. Siapa sih yang buat aturan ini??


"Tapi adikku ada di dalam, aku mau masuk," tunjukku mengarah ke dalam.

__ADS_1


"Apalagi seperti itu, nanti mbak bisa membuat keributan di dalam. Silakan mbak pergi dari tempat ini," ucap salah satu dari mereka sambil menuntun siku tanganku untuk menyuruh pergi dan menjauh.


"Aku bisa keluar sendiri," teriakku berusaha melepaskan pegangannya.


Berjalan menjauh dari pintu masuk, aku pergi ke tempat motor terparkir. Al harus tahu ini, jangan sampai sesuatu terjadi pada Vina nantinya. Aku menelepon Al, cukup lama baru diangkat olehnya. Mungkin saat ini dia masih tertidur pulas.


"Assalamualaikum Al," ucapku lebih keras takut Al belum sadar dari tidurnya.


"Wa'alaikum salam, sayang. Udah malam, tidur di sebelah aja kamu masih telpon aku. Rindu ya?" ledek Al yang sepertinya masih belum sadar dengan ketidak beradaanku di sampingnya.


"Al aku ada di Milenial Club daerah pusat kota."


"Itukan nama klub malam sayang, Kamu ngapain ke sana???!!!" Al kaget dan baru sadar setelah aku menyebutkan nama tempat itu.


Aku menunggu cukup lama, Al tidak kunjung datang dan Vina pun tidak keluar dari sana. Aku mulai bosan, ingin rasanya kembali ke rumah saja dan tidur di pelukan Al. Iya ngaku deh kalau sekarang aku mulai senang tidur di peluk Al, tidak seperti kemarin yang terasa sempit dan sesak.


Tak lama setelah aku merasa bosan, Vina keluar sendiri dan tak lama setelahnya dua teman pria mengikutinya. Vina pergi seperti dalam keadaan marah lalu di tarik oleh salah satu teman prianya, namun Vina berusaha memberontak dan melawan. Pria yang lainnya pun berbuat sama, dan mereka mulai kurang ajar pada Vina. Aku yang gerah melihatnya, menghampiri mereka.


"Hai kalian, mau kalian apakan adikku?" panggilku kepada dua teman pria Vina saat itu.


"Oh jadi cewek sok suci ini adik lo. Tapi kayaknya lo juga Ok buat nemenin kita," ucap salah satu dari mereka terlihat sepertinya sudah mabuk.

__ADS_1


"Kakak tolong bawa aku, kak," mohon Vina pergi berlari ke arahku, wajahnya terlihat begitu ketakutan.


"Aku tidak mau membuat masalah, aku hanya ingin membawa adikku pulang," jelasku kepada keduanya. Saat itu jantungku terasa mau berhenti. Menghadapi dua pemabuk bukan gayaku.


"Gimana kalau kalian berdua ikut kami aja," ajak satu pria lainnya.


"Kami tidak mau, permisi!" Aku menuntun Vina untuk pergi, tapi dihalangi keduanya.


Mereka menarik tanganku dan memaksa aku untuk ikut bersama mereka juga. Aku memberontak dan tak lama kemudian datang Al di saat yang tepat.


"Tidak ada yang boleh menyentuh istriku," ucap Al kesal dan emosi.


"Brug" Al meninju orang yang menarikku, dia terhuyung jatuh. Di susul dengan pria yang mabuk pun tidak lepas dari pukulan Al. Keduanya terjatuh tak bergerak. Vina berlari memeluk Al.


"Kamu gak apa-apa kan Vina?" tanya Al pada adiknya.


Vina menggeleng sebagai jawabannya, terlihat sekali dia masih shock. Al merangkul pundak Vina, dan menggenggam tanganku dengan tangannya yang lain. Sampai di depan pintu mobil Al, aku melepaskan genggamannya.


"Al bagaimana dengan motorku!?" tanyaku setelah Vina masuk ke dalam mobil.


"Besok aku suruh anak buahku untuk mengambilnya, sekarang masuk lah. Aku gak mau kamu pulang dengan menggunakan motor, ini sudah malam," jawab Al sambil membukakan pintu depan mobilnya untukku.

__ADS_1


Aku menurut apa yang dikatakan Al, duduk manis di sampingnya. Alhamdulillah, tidak sampai terjadi sesuatu pada Vina. Semoga ini bisa menjadi pelajaran yang baik bagi Vina. Agar dia tidak mau lagi bergaul pada orang yang salah. Semoga mulai malam ini, Vina mau menerimaku sebagai istri kakaknya.


__ADS_2