Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Mual


__ADS_3

Bagaimana caranya aku mengatakan kepada Al, jika adiknya Vina kini sudah di keluarkan dari sekolah. Kepala jadi ikut pusing rasanya, saking pusingnya aku jadi berasa pingin muntah. Apa ini? Vertigo atau maag?


Sepertinya aku butuh istirahat untuk bisa menenangkan diri sendiri. Sudah sebulan menjadi seorang istri, banyak masalah yang mendera hingga aku menjadi lupa untuk bisa bersantai dan menikmati hidup ku sendiri.


Selama ini Al hanya tahu adiknya masih tetap pergi sekolah, tetapi aku sudah berjanji pada Vina untuk memberi tahu Al nanti, tetapi kapan bagaimana jika Al juga marah padaku?


Kulihat Al tengah duduk bersantai diatas ranjang, sambil menikmati acara TV kesukaannya. Sejak menikah memang Al lebih suka berada di dalam kamar, kata dia kalau diluar gak bisa bebas nyiumin aku. Alasan apa itu? Sudah jalan sebulan menikah pun dia masih saja bertingkah seperti pengantin baru.


Ku coba dekati Al dan bersandar di dadanya, sebenarnya aku juga suka dengan sikap Al yang selalu memanjakanku. Dia membuat diri ini melupakan harta Papa yang masih berada di tangan Ibu tiriku.


"Al aku mau bicara, tapi jangan marah ya," Kataku sambil merasakan kepala yang pusing tak kunjung hilang.


"Apa? Bilang aja sayang, gak usah dipendam," jawab Al sambil membelai rambutku dengan menukar chanel Tv menggunakan tangan yang lain.


"Tapi janji dulu, jangan marah?"


"Iya, aku Janji. Apa sih? Bikin penasaran aja," ucap Al mulai geram.


"Bener Janji, ya?" Tanyaku lagi meyakinkannya.


Sepertinya keal dia tidak menjawab pertanyaan ku, tetapi malah menggelitik pinggangku. Ya ampun nih orang jadi kayak anak kecil bangat ya.


"Al, stop! Iya aku mau bicara," Teriakku yang tidak bisa menahan tawa karena kelitikannya.


Akhirnya dia berhenti dengan tingkah konyolnya, dan memberi tatapan yang membuatku gemas ingin menggigit pipinya.


"Bagaimana jika Vina tidak dapat bersekolah lagi?" Aku bertanya dengan nada yang cepat.


"Apa? Dia harus sekolah, memang ada apa dengan sekolahnya?" Al kaget dan terlihat ada rasa kesal pada dirinya.


"Al, kamu kan sudah berjanji untuk tidak marah?" Aku merasa kecewa dengan sikapnya.


Al merapatkan giginya dan tersenyum dengan terpaksa, seolah dia tidak marah dengan yang aku katakan.


"Jadi menurutmu aku harus bagaimana?" Tanya Al dengan wajah yang konyol masih menyeringai dengan gigi rapatnya.


"Apa sih kamu garing bangat? Kalau menurutku biarkan Vina mencari jati dirinya sendiri Al, biarkan dia menikmati hidupnya dulu. Mungkin suatu saat ketika dia akan menemukannya dia akan semangat kembali untuk sekolah," Jelasku dengan panjang lebar dan dia begitu memperhatikan ku.

__ADS_1


"Ok siap, aku ikuti semua saran ratu hatiku," Al mendekatkan wajahnya padaku.


Tiba-tiba saja ada rasa mual yang menderaku, dengan cepat aku dorong badannya ke belakang dan pergi menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut. Sepertinya aku masuk angin, karena aku merasa akhir-akhir ini Ac dikamar terlalu dingin tidak seperti biasanya. Padahal aku dan Al tidak pernah mengganti suhunya.


Khawatir dengan keadaanku Al menyusul ke dalam kamar mandi, dia mengurut tengkuk leherku. Aku bingung kok bisa tiba-tiba mual seperti itu.


"Kamu kenapa sih? Bikin khawatir saja," Al bertanya masih memegang tengkuk leherku.


"Aku juga gak tau, kok aku jadi mual pas lihat wajahmu mendekat?"


"Maksudnya aku bikin kamu mual dan mau muntah gitu?" Al tersinggung dengan ucapanku.


Ketika selesai membersihkan, Al lantas menggendong ku sampai ke atas ranjang. Dia juga menyelimuti tubuhku dengab menggunakan selimut yang tebal.


"Kamu harus istirahat, aku gak akan ganggu kamu malam ini," Al menasehatiku kali ini sambil memijat kepalaku.


Enak juga ya punya suami seperti ini, selalu ada kalau sedang dibutuhkan. Apalagi dalam kondisi yang tidak fit seperti ini, doa selalu terjaga tanpa diminta. Berkali-kali Al memegang kepalaku, dan kemudian dia memegang kepalanya sendiri. Maksudnya dia mau mengukur suhu tubuh ku sama atau tidak kali ya dengan suhu tubuhnya. Oh co cweet, I Love U so much Al.


Halo.... Apa dia gak tau teknologi yang namanya termometer??


***


Siang itu aku agak baikan, oh iya ini adalah hari ke tiga kak Wildan mengajar private Yasmin di rumah. Tapi selama itu aku tidak pernah menemuinya, biarkanlah Yasmin dan Mbok Sum saja yang ribet dengan kedatangannya. Apalagi saat ini Vina selalu ada di rumah kadang dia yang aku suruh memantau adik bungsunya. Biar bagaimana pun juga Yasmin adalah perempuan dan kak Wildan adalah laki-laki.


Sepertinya kali ini aku salah perhitungan, ketika aku pulang dari sebuah mini market, Kak Wildan tengah menunggu di luar. Mungkin Yasmin dan Vina sedang sibuk di dalam. Kenapa aku harus ke mini market sih? Dan kenapa juga hari ini aku ingin sekali maskan es krim? Padahal keinginan ku dulu tidak pernah seperti ini. Kok sepertinya ada yang berbeda ya? tetapi apa?


Melihat aku turun dari motor kak Wildan bangun dari temoat duduknya, dia memberiku salam maka sebagai muslimah aku wajib menjawabnya.


Ketika aku hendak masuk ke dalam, tiba-tiba saja kak Wildan menarik lengan bajuku.


"Laila kamu marah padaku? Apa karena aku menghilang begitu saja?" Tanya Kak Wildan membuat aku tertahan.


Aku tersenyum dan menoleh kepadanya, tidak Wildan aku tidak marah padamu. Aku hanya menjaga hati suami ku sendiri.


"Sudah kak lupakan, aku sekarang istri orang lain. Jangan bicarakan yang dulu lagi," Jawabku tetap dengan tersenyum.


"Aku... Aku dulu pernah melamar mu melalui Momy, tapi dia menolak dan mengancam akan membuat abahku yang sakit-sakitan semakin menderita. Makanya aku mundur dan menghilang darimu," Jelas Wildan.

__ADS_1


Kenapa dia berbicara seperti itu? Aku sudah tidak mau dengar kisah antara aku dan dia dulu. Kenapa dia malah menjelaskan itu semua padaku?


"Aku tidak marah Kak, aku hanya gak enak saja jika Yasmin dan Vina tau kalau kita pernah dekat dulu," Jelasku kembali.


"Aku juga hanya ingin menjelaskan itu, agar kamu tidak terus salah paham denganku nantinya," Jelas kak Wildan.


"Aku tidak marah, permisi aku masuk dulu," Aku meminta izin kepadanya untuk masuk ke dalam.


Di dalam kamar dadaku terasa sesak, dulu memang itu yang selalu aku tunggu. Tapi sekarang maaf Kak, sudah tidak ada tempat lagi untuk Kakak, meski kenangan Kakak akan selalu ada. Aku sudah terlalu bahagia bersama Al, dialah pangeranku yang sebenarnya. Semoga setelah mengatakan hal itu Kakak tidak penasaran lagi padaku.


Al melakukan panggilan melalui video call, sepertinya dia masih khawatir jika aku masih mual seperti semalam.


"Assalamualaikum cantik," Suara dan wajahnya begitu jelas di dalam handphone ku.


"Wa'alaikum salam jelek,"


"Jelek tapi bikin si cantik deg-degan terus. Lagi apa sekarang?"


"Lagi makan es krim,"


"Tumben, memang sudah enakan?"


"Udah lek," Jawabku meledeknya, namun dia tidak pernah marah.


"Yasmin dan Vina bagaimana kabarnya?"


"Yasmin lagi les, dan Vina mungkin sedang menemani dia,"


"Bagus, diam dikamar ya. Jangan biarkan guru Yasmin yang tampan itu melihatmu. Nanti kamu main hati ke dia aku nangis,"


Apa sih, jayus bangat ini orang. Aku sudah terlanjur bertemu Kak Wildan Al, dan kau tahu dia bahkan sudah menjelaskan kepergiannya waktu itu padaku. Tapi aku tidak akan pernah mau mengganti mu dengannya.


"Siap boss perintah dilaksanakan, i Love u," Kuberi dia kecupan dari jarak jauh.


"Kalau jauh kamu berani ya, coba kalau dekat aku terus yang mulai duluan, tapi biar begitu aku juga cinta kamu," Sindir Al dan memberiku kecupan jarak jauh juga.


Al menutup panggilannya, pusing ku terasa kembali. Sepertinya aku memang harus banyak istirahat. Aku membuang sampah bekas es ku kedalam tempat sampah dekat kamar mandi. Rasanya berputar seluruh bumi ini dan aku tidak kuat. Aku pun tertidur begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2