
Kisah Cinderella ku tak berakhir bahagia ketika aku menikah, ada saja masalah yang datang kepada keluarga kecilku. Sudah 4 hari aku di sini, sebuah apartemen yang aku sewa dengan harga murah permalamnya. Aku gak tahu kapan Al akan datang mencariku, atau memang dia tidak mencintai ku lagi?
Kalian tahu? Aku tidak memakai sedikit pun uang yang Al berikan, sebelum pergi kemarin aku sempat mampir ke Kantor Om Haris. Tentu saja aku jujur kepadanya jika saat ini aku sudah hamil, yang entah sudah beberapa minggu janin kecil itu ada di perutku. Soalnya sejak di test menggunakan testpack waktu itu, aku memang belum pernah datang ke dokter untuk memeriksanya.
Aku nekat meminjam uang Om Haris saat itu dengan catatan akan diganti segera saat harta Papa pindah ketanganku. Om Haris tertawa mendengar ucapanku, dia bilang kapan pun aku butuh bantuan memang seharusnya aku datang kepadanya. Kenapa tidak aku lakukan dari dulu saja? Ah, bodohnya diri ini.
Siang itu aku hanya bisa terduduk di atas balkon apartemen. Hari berjalan seperti hampa, tidak ada Al yang selalu menggodaku. Tidak ada pelukan Al menjelang tidur yang selalu membuatku nyaman. Dan ternyata aku begitu merindukannya.
Sebenarnya aku tidak berniat pergi dari rumah jika masalah kemarin bisa kami bicarakan baik-baik. Sebelumnya Al dulu yang pergi dan pulang dalam keadaan mabuk, sebagai seorang suami seharusnya dia bisa memberiku contoh yang baik.
Mabuk juga suatu hal yang paling ku benci. Bagaimana bisa dia mencintai ku dengan benar, jika setiap ada masalah Al selalu pergi dan mabuk nantinya? Mungkin jika aku meninggalkannya dia bisa berfikir bahwa yang dia lakukan tidaklah benar.
Bagaimana jika Al tidak mencariku? Apa yang harus kulakukan? Apa aku bisa hidup tanpa Al selamanya?
Sejak kejadian itu, aku tidak hentinya menangis. Mungkin akan mengganggu psikis janinku juga nantinya, makanya setiap hari aku selalu mengajaknya bicara. Mungkin calon bayiku memang belum mengerti, tapi aku yakin dia bisa merasakan kegundahanku.
Tok... Tok.. Tok... Bunyi ketokan dari luar pintu kamar membuat lamunanku terhenti. Siapa ya? Masa ada tamu di apartemen yang satu orang pun tidak tahu keberadaan ku. Sambil mengusap air mata, kupakai jilbab ku dan berjalan ke arah pintu.
"Siapa?" Tanyaku penasaran.
"Room service," jawab suara pria tak ku kenal dari luar pintu.
Perasaan aku gak memesan Room service atau lainnya. Mungkin dia salah kamar, aku membuka sedikit pintu kamar. Pria itu berseragam tetapi dia memakai topi. Tak terlalu ku perhatikan wajahnya yang tertutup topi.
"Maaf mungkin salah kamar, aku tidak memesan apa pun," jawabku dengan wajah yang ku tundukan.
Berniat ingin menutup kembali pintu kamar, tetapi di tahan oleh pria itu. Loh kok kurang ajar sekali dia, akhirnya aku dan dia saling mendorong daun pintu. Aku tidak mau ada seorang pria mana pun yang masuk ke kamarku.
"Mas jangan kurang ajar ya, saya sudah punya suami!" hardikku kesal masih berusaha menutup pintu.
"Dan aku suaminya." Pria itu membuka topinya, dan ternyata dia adalah Al.
__ADS_1
Wajah Al yang selalu kurindukan kini berada dihadapan dan mencariku. Dia berhasil menemukan istrinya, dengan sedikit info yang dia miliki. Ternyata dia memang mencintai ku. Air mata tidak dapat lagi kutahan. Tak mau dilihat Al, aku berbalik badan.
Al masuk menyusul, dan memelukku dari belakang. Tak dapat kutolak pelukannya, karena ternyata aku juga membutuhkannya.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku, maafkan aku." Al terus mengucapkan itu.
Mulut ini terlalu kaku untuk menjawab, aku hanya bisa terdiam dan menangis. Al membalikan badanku.
"Jangan pernah tinggalkan aku Laila, aku akan mati tanpamu," ucap Al memelukku kembali, dan tak kusangka dia pun menangis.
"Aku pun merasakan hal yang sama Al, ternyata aku juga tidak bisa jauh dari mu." Akhirnya lidah ini bisa juga berbicara.
Al mencium bibirku, aku rindu saat-saat seperti ini Al. Dia membuka jilbab yang kupakai dan melepaskan semua kerinduan yang kami tahan cukup lama. Anehnya saat itu aku tidak merasakan mual, mungkinkah anakku juga merindukan Papanya?
*****
Setelah melepaskan kerinduan kami berdua, aku mencoba bicara dengan Al.
Al memelukku dari belakang semakin erat, seolah dia tidak akan membiarkan aku menjauh darinya.
"Iya sayang aku percaya, aku sudah tau semua tentang kamu dan dia. Setelah kamu pergi dia datang kembali, aku sempat meninjunya sekali. Tetapi meminta maaf setelahnya," jelas Al dari belakang punggungku.
"Kamu jahat bangat sih, kan dia sudah minta maaf." Aku memukul tangan Al.
"Kamu belain dia? Suruh siapa dia menyatakan cinta pada istri orang?" Al sedikit tak terima.
"Bukan gitu Al, dia itu banyak jasa padaku. Kalau tidak ada Kak Wildan, mungkin aku sudah mati membunuh diriku sendiri. Dia yang menguatkan aku, setidaknya kamu harus ingat itu."
"Iya aku tau, aku kan sudah cari info kemana-mana. Dan kamu tahu siapa yang mengirim dia ke rumah?" Pertanyaan Al membuat aku penasaran.
"Siapa?"
__ADS_1
"Momy yang menyuruhnya. Dia tau jika siapa tuh, aku malas menyebut namanya itu belum bisa melupakanmu. Bahkan sampai sekarang saja dia belum menikah, karena masih menunggu kamu," jelas Al.
"Ya wajar Al dia belum menikah, dia kan baru berumur 25 tahunan. Kamu aja baru nikah umur 28 tahun kan?" sindirku pada Al.
"Kamu ini belain dia terus yaa," Al menggelitik pinggangku.
"Sepertinya Momy memang ingin kita berpisah, Al. Aku takut, Momy sekarang lebih tidak menggunakan akal sehat nya. Bagaimana reaksi dia jika tahu sekarang aku sedang hamil?" Aku begitu merinding mendengar Momy lah otak di belakang semua ini.
"Aku sudah datang dan mengancam Momy mu, agar dia tidak mengganggu kita lagi, dan dia sepertinya terserang penyakit jantung ketika aku bilang kamu sedang hamil," jawab Al tersenyum senang, rupanya banyak yang telah dia lakukan semenjak kepergianku.
"Kamu kok malah tertawa senang?"
"Iyalah senang, dia biang kerok kok. Pantas untuk nya jika azab datang padanya." Al masih saja sumringah menceritakan bagaimana reaksi Momy setelah tau aku hamil.
"Terus rencananya kita pulang kapan?" Tanyaku karena memang aku sudah rindu rumah, aku rindu Yasmin dan Vina.
"Nanti saja, aku masih kangen sama kamu. Besok atau dua hari lagi, atau seminggu lagi juga gak apa-apa," Jawab Al bermalas-malasan.
"Ini kan bayar, memang kamu kira aku di sini gratis?"
"Ini kan apartemen milikku, aku mau setahun lagi pun gak apa-apa" Jawab Al tenang.
Pantas saja dia bisa mencariku dengan mudah, ternyata aku salah mencari apartemen. Terus uangku yang sudah masuk bagaimana? Rugi dong kan aku sudah bayar.
"Kembalikan uangku yang sudah masuk untuk membayar apartemen ini," Protesku keras.
"Aku gak megang, uangnya langsung masuk ke uang perusahaan. Hutang mu ke Om Haris pun sudah kubayar," jelas Al sampai tahu hutang ku ke Om Haris.
Ya ampun Al, kamu memang pengertian. Aku gak menyangka kamu begitu mencintai aku sampai seperti itu. Seandainya saat itu aku tidak menabrak mobilmu mungkin sampai saat ini aku masih hidup dibawah siksaan Momy dan Sila.
Rasa mualku datang kembali, kurasa anak ini memang akan mirip Papanya. Karena setiap dekat Al, aku begitu mual dan merasa tersiksa.
__ADS_1