Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Honey Moon yang tertunda


__ADS_3

Sampai di hotel yang katanya milik keluarga, aku langsung mengajak Al berlari menuju kamar hotel yang telah diambil kuncinya sebagai kamar kami nantinya.


Hotel yang besar dan mewah berantai tiga, memang cukup memuaskan untuk seorang pengusaha muda bisa menghandle beberapa perusahaan lainnya.


Nomor 156, merupakan kamar tempat kami menginap berada di lantai tiga, Presidential room sebagai kamar terbaik di hotel ini. Al begitu hapal sekali letak kamar ini, tanpa harus diikuti oleh room boy. Seolah dia memang sering pergi ke sana, baiklah akhirnya aku mengakui dan percaya jika ini adalah hotel miliknya.


Pintu kamar dibuka Al, tanpa permisi dan melihat ke sana kemari. Aku langsung berlari untuk mencari kamar mandi. Rasa yang kutahan sekarang rasanya akan keluar saat itu juga.


Ku muntah kan semua isi perut saat itu, lega rasanya jika semua sudah keluar. Selesai dan pergi keluar dari kamar mandi, aku baru sadar jika kamar ini begitu besar dengan view seperti apa aku tak tahu, karena di luar sudah terlalu gelap. Tapi yang pasti bisa merasakan sekali kesejukan yang asli, bukan karena dingin Ac yang menyala.


"Bagaimana sayang, kamu suka gak?" tanya Al sambil memelukku dari belakang saat aku berdiri memandang view di luar dari jendela kamar yang begitu besar.


"Lumayan lah, untuk pengusaha muda amatiran," jawabku asal.


Entahlah, ucapan Al atau kata manisnya tak menimbulkan efek apapun. Semua jadi terdengar biasa, meski seharusnya diri ini begitu senang berada di dalam pelukannya.


Ku kira Al bakal marah, tetapi nyatanya tidak. Dia malah sibuk sendiri, terus mencium dan memainkan rambutku. Ketika dia menatap, dengan sorot mata yang biasa aku sukai. Sekarang terasa begitu lain, malah selalu membuat mual. Aku menahan Al, dan mendorongnya lagi untuk berlari ke kamar mandi kembali.


"Oh, ayolah Laila ini kan bulan madu kita. Tidak bisakah kamu menahan rasa mualmu itu?" terialan Al terdengar sampai ke kamar mandi.


Habis mau bagaimana lagi, memang rasanya mual setiap kurasa dia ingin mencumbu. Halo, apakah ini normal? Begitu terus yang kurasakan hingga akhirnya Al memilih menyerah dan tidur dalam perasaan kecewa.


Maaf kan Aku Al, ini bukan keinginanku tapi memang keadaannya menjadi seperti itu.

__ADS_1


Dari subuh aku sudah bangun, atau malah tidak bisa tidur lebih tepatnya, mungkin karena bukan di rumah kali ya. Tapi kok waktu di rumah Al pertama kali, malah bisa pulas tidurnya? Keadaan ini kuanggap aneh selalu. Sampai saat ini aku belum mencoba Testpack, jadi belum tahu juga benar positif atau tidaknya.


Bangun dari tempat tidur, aku membawa sebuah test pack saja. Untuk apa aku memakai ke 5 nya, satu pun akan menjadi akurat jika memang benar aku positif hamil.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan hasilnya, aku langsung bisa melihat ada dua buah garis merah yang begitu nyata. Wajahku seperti merona, Alhamdulillah benar ternyata aku hamil, dan ini adalah anaknya Al, satu-satunya pria yang aku cintai.


Keluar dari kamar mandi Al masih tertidur, ingin sekali aku menggodanya pagi itu sambil memberi tahu tentang kehamilanku. Tapi nanti dia gak mau shalat subuh, tapi setidaknya sebagai seorang calon papa dia harus tahu kehamilanku.


"Papa bangun, Pa. Salat subuh, Pa." Aku berbisik di telinga Al.


Awalnya dia tidak perduli, mungkin dia fikir bisikanku adalah sebuah halusinasi. Sampai akhirnya, aku menggigit hidungnya yang besar dan mancung, barulah dia sadar.


"Ayo, Pa bangun...," panggilku lagi.


"Papa, aku sudah ada di perut Mama," jelasku memberi Al hasil testpack yang masih berada ditanganku.


Bukan main senangnya dia, langsung bangun dan terus memberondongiku kecupan. Terlalu lebay memang, tapi aku suka.


"Akhirnya berhasil, aku jadi Papa betulan...," teriak Al yang menurutku terlihat begitu berlebihan.


Pagi ini dia langsung melakukan shalat subuhnya tanpa alasan untuk bermalas-malasan. Mungkin Al merasa hidupnya kini begitu di sayang Allah, sampai ketika mendengar dia akan menjadi Papa rasanya luar biasa bersyukur atas semua.


Kami kembali ke rumah setelah zuhur, Al terlihat begitu sumringah dan terus tersenyum. Aku juga merasakan bahagia karenanya. Terimakasih ya Al, kamu selalu membuat aku merasa ingin hidup selamanya.

__ADS_1


Perjalanan kala itu tidak semacet kemarin, apalagi kami pulang di saat orang lain masih bekerja. Sampai di rumah, ku lihat motor milik Kak Wildan di sana. Akhirnya, ini untuk kali pertama Al akan bertemu Kak Wildan.


Aku turun dari mobil di ikuti oleh Al. Kak Wildan, sedang duduk bersama Yasmin yang sedang mengerjakan tugas darinya. Al terus menggenggam tanganku, tidak dia lepaskan sekali pun meski kami kini berada di depan Kak Wildan dan Yasmin.


Aneh sekali, tidak biasanya dia bersikap seperti itu.


"Hai Tante," sapa Al kepada Yasmin adik bungsunya.


"Apaan si Kak? Oh iya ini Pak Wildan, wali kelasku," ucap Yasmin mengenalkan Al dan Kak Wildan.


Kak Wildan yang kulihat dari tadi menatap genggaman tanganku dan Al, kini berdiri dan memberikan tangannya untuk berjabat dengan Al. Dengan melepaskan tanganku terlebih dahulu, Al membalas jabatan tangannya.


Kelihatan sekali jika dia tidak menyukai Kak Wildan.


"Wildan." Suara Kak Wildan yang menurutku lebih terdengar berat dari sebelumnya.


"Althaf," jawab Al dengan senyumannya yang khas namun terlihat terpaksa.


"Titip adik saya ya Pak, jangan di galakin," pesan Al.


"Insya Allah pastinya, akan saya didik dengan benar," jawab Wildan sambil menatap ku.


Ku tundukan wajah ini, Al menggenggam tangan ku kembali dan kami pergi untuk masuk ke dalam, meninggalkan Yasmin dan Kak Wildan. Apa maksud dari tatapan Kak Wildan kepadaku di depan Al tadi? Sadar kah Al kalau Kak Wildan menatapku tadi? Semoga saja Al tidak sadar saat itu.

__ADS_1


Untuk saat ini tidak ada yang harus aku jelaskan. Karena semua adalah masa lalu, ya masa lalu yang tidak akan pernah terulang kembali. Cerita tentang aku dan kak Wildan sudah selesai. Kini yang ada hanya aku, Al dan anak kami nantinya.


__ADS_2