Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Tolong


__ADS_3

Dua jam kemudian aku sudah sampai di rumahku sendiri, rumah yang begitu terasa dingin. Mungkin karena tidak ada kasih sayang sebagai khalayak nya sebuah keluarga. Atau memang karena perasaanku saja yang merasa dingin dengan rumah itu?


Aku menarik nafas panjang dan berusaha untuk menguatkan diriku dengan apa yang akan terjadi nantinya, aku serahkan semua pada sang pemilik nyawa.


Seandainya mati pun tidak akan adalagi yang menangis atau mencariku. Sudahlah, tak usah dipikirkan yang belum terjadi. Ya siapa tau Momy mau menjamuku dengan makan siang bareng atau apa gitu. Bisa saja mereka sudah taubat dengan kepergianku kemarin.


"Assalamualaikum." Memang kebiasaan ku selalu mengucap salam ketika masuk ke rumah.


"Mom... Si Lele sudah kembali!!" teriak Sila memanggil Momy dengan memanggilku sebutan Lele nama ikan.


Gadis secantik aku dipanggil Lele, Babang tamvan seperti Al saja mengakui kecantikanku. Terserahlah dia mau manggil apa aja, asal jangan dipanggil malaikat idzrail aja. Aku kan takut...


"Kamu kemana aja hah? Akhirnya kamu kembali ke rumah ini, kamu masih sayang rupanya dengan barang milik Papa mu," ucap Momy datang dari dalam kamar dengan wajahnya yang mirip sekali dengan nenek sihir.


"Ini rumahku dan aku berhak atas apa yang ada di rumah ini," jawabku santai.

__ADS_1


Lucunya ucapan Momy, tadi bukankah dia yang ngebet bangat agar aku bisa kembali ke sini?


"Plak!!" Momy menamparku kembali, kali ini begitu terasa sangat sakit. Mungkin karena sudah lama tidak merasakan tamparan di pipiku.


Aku mau menangis, pedih rasanya hati ini. Tapi kenapa air mataku tidak juga turun? Justru ada bisikan yang mengatakan aku harus kuat, jangan tunjukkan kelemahan di hadapan mereka.


Aku masih berdiri terpaku tak bergerak. Ingin rasanya aku memukul dan meninju keduanya, namun jika aku lakukan itu bukankah diri ini sama buruknya seperti mereka?


"Kamu bilang ini rumah mu? Tidak ini rumah kami. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah memiliki ini semua." Momy berkata dengan berapi api sepertinya dia marah sekali aku mengakui ini adalah rumahku.


Padahal kenyataannya seperti itu, jelas sekali kan dia memang ingin menguasai semua yang kumiliki.


Bukannya takut aku malah memberi ancaman kepada mereka.


Kesal dengan ucapanku, Sila dan Momy menyerang. Hijabku ditarik dengan sekencang-kencangnya. Tanganku pun ditarik ke belakang oleh mereka, aku terus memberi perlawanan agar tidak tumbang dan membuat mereka terus mengintimidasi.

__ADS_1


"BUG!!" sesuatu yang keras menimpa kepalaku. Terasa amat pusing dibuatnya, mata ini terasa berat sekali untukku buka sampai akhirnya aku kehilangan keseimbangan dan tak sadarkan diri.


****


Kepala begitu terasa sakit sekali, apakah aku sudah mati dan pergi menyusul kedua orang tuaku ke surga? Tapi sampai saat ini, diriku belum merasakan sosok malaikat pencabut nyawa datang. Kubuka mata perlahan, pusing masih terasa ketika mata mulai terbuka.


Aku melihat sekeliling, ternyata tempat ini adalah gudang belakang dan rumah. Tempat dimana aku terbiasa dikurung jika melakukan kesalahan. Ku pegang kepala yang bersumber dari rasa sakit. Aww! Mereka memukulku dengan apa? Mengapa terasa perih?


Aku baru sadar ternyata banyak darah mengering di hijab yang kupakai. Ya ampun darahnya lumayan banyak, sudah berapa lama aku di sini? Tidak kah mereka tahu jika kepalaku berdarah?


Gudang di rumah ini memang tidak berjendela, di buat khusus untuk menyimpan perabotan bekas milik keluarga kami. Tapi Papa membuatkan sebuah kamar kecil di sana. Katanya kalau kami kangen dengan barang di sana, kami bisa duduk dan bernostalgia tanpa harus terganggu dengan alasan mau ke kamar kecil. Makanya Momy senang sekali mengurungku di sini, dengan alasan agar tidak meminta keluar untuk sekedar membuang air kecil.


Terpajang di dinding lukisan Papa dan aku saat berusia 4 tahun. Aku memang tidak memiliki foto atau lukisan keluarga bersama Mama, di sini hanya ada kebersamaan dengan Papa yang sedang memelukku dan terlihat begitu menyayangiku. Tangis yang dari kemarin tidak keluar kini pecah, aku meraung dan menangis sampai terasa sesak.


Papa Mama ajaklah aku bersama kalian, jangan tinggalkan aku di sini sendirian.

__ADS_1


Tidak kah ada yang merasa kehilanganku? Tidak kah ada yang bisa menolong untuk keluar dari sini? Tidakkah ada yang sedih dengan ketiadaanku?


Ku benamkan wajah ini di atas sofa kecil di sana. Mungkin jika berkaca, wajahku akan terlihat membengkak karena terlalu banyak menangis. Perut lapar tak terhiraukan, hanya sesak terasa di dada yang teramat sangat. Apakah kisahku akan berakhir di tempat ini?? Sendirian sampai akhir tak ada satupun orang yang akan mencariku.


__ADS_2