Berharap Jadi Cinderella

Berharap Jadi Cinderella
Guru les


__ADS_3

"Aku baik Kak, dirimu bagaimana?" Tanya ku balik.


Ya, setidaknya aku harus menanyakan kabar setelah kepergian dia tiba-tiba kala itu. Meninggalkan diriku sendiri.


"Alhamdulillah, aku baik. Oh iya aku kesini mau mengajar les untuk Yasmin, katanya dia butuh bantuan untuk diajar les?" tanya Wildan kepadaku begitu meyakinkan.


Mengajar les? Yasmin ataupun Al tidak bicara apa-apa kepadaku. Dengan sedikit tidak enak hati kupersilakan kak Wildan untuk duduk di bangku teras. Sekarang di rumah sedang tidak ada siapapun selain aku dan Mbok Sum, takut akan jadi fitnah jika menyuruhnya untuk duduk di dalam ruang tamu.


"Duduk dulu kak, aku buatkan minum sebentar." Aku izin untuk membuatkan dia minuman kedalam.


Sebenarnya aku menyuruh Mbok Sum yang membuatnya, sedang diriku kembali menemui Kak Wildan, orang yang pernah mengisi hatiku saat SMP dan SMA dulu. Bukan, dia tidak pernah menjadi kekasih ataupun lebih dekat dari itu. Hanya saja aku pernah suka padanya dan sampai saat ini mungkin kak Wildan tidak pernah tahu perasaanku yang sebenarnya.


"Kak Wildan sekarang guru?" tanyaku saat aku kembali dari dalam.


Garis wajah yang tegas, namun terlihat menyejukkan memang menjadi ciri khas Kak Wildan yang tak bisa dilupakan. What? Khayalan liar apa ini? Otakku jadi berasa keram memikirkannya.

__ADS_1


"Kebetulan aku wali kelas Yasmin di sekolah, dan hari ini aku ditelpon dari seseorang untum mengajar Yasmin secara private," jawab Kak Wildan dengan tatapan yang tidak biasa kepadaku.


Hei jangan melihat seperti itu bodoh, atau hatiku yang nakal ini akan memberi kesempatan untukmu. Dan itu perbuatan dosa. Batinku kembali memanas.


"Kamu dan Yasmin ada hubungan apa?" Kak Wildan bertanya dengan penuh kepingin tahuan.


Selama ini yang dia tahu aku adalah seorang yatim piatu tanpa sanak saudara.


"Aku... Aku istri kakaknya Yasmin," jelasku terasa kaku lidah ini untuk memberi tahunya.


Ada sedikit rasa kecewa, kehadiran Kak Wildan tidak tepat. Meski dulu aku pernah mengharapmu, kali ini aku harus menyerah karena keadaan.


"Jadi kamu sudah menikah? Akhirnya kamu menemukan pangeranmu. Kamu cantik dengan hijabmu," puji Kak Wildan dengan mengucapkan hal tersebut penuh kekecewaan, ya aku merasakan itu.


Dulu aku menunggu kak Wildan yang akan melamarku, tetapi akhinya dia menghilang begitu saja. Kembali beristighfar, karena membuat prasangka kalau dia kecewa disaat mendengar aku sudah menikah.

__ADS_1


"Yasmin nya sedang keluar Kak, nanti kalau Yasmin pulang akan aku tanyakan pada nya atau pada Al... Suamiku," jelasku tidak ingin dia berlama-lama di rumah ini, agar rasa yang pernah ada padaku tidak muncul kembali.


Kak Wildan tersenyum dan mengerti maksudku. Akhirnya dia merapikan tas nya dan berdiri dari tempat duduknya. Sana pergilah secepatnya kalau bisa jangan kembali lagi.


"Baiklah aku pamit ya Laila, semoga kamu bahagia selamanya," pamit Kak Wildan memberi kan tangannya untuk ku jabat.


Aku tidak mau mengambil resiko jika setrum hati itu masih ada dengan menjabat tangannya. Jadi aku memberi salam tanpa menyentuh. Kak Wildan tersenyum, dia sadar aku telah berubah menjadi yang lebih baik dan memberikan salam setelahnya. Semoga ia tidak tersinggung sama sekali, kalaupun tersinggung ya terserah. Aku gak mau ambil pusing.


Memandang kak Wildan dari belakang, aku biarkan masa lalu pergi bersamanya. Sebagai seorang istri Aku harus bisa menjaga diri dari pandangan orang lain. Jangan sampai melakukan sesuatu yang bisa menjatuhkan martabatku sebagai seorang istri dan khianat atas kepercayaan suaminya.


"Loh, tamunya kemana?" tanya Mbok Sum dengan segelas air teh hangat.


"Sudah pulang Mbok, letakkan di sini. Nanti aku yang minum," pintaku.


Cuaca begitu cerah, tapi ada rasa mendung mengganjal di hati. Entah apa itu, semoga saja tidak ada hubungannya dengan kepergian Kak Wildan kali ini. Dia hanya masa lalu, kehadirannya tidak akan mengubah apa pun.

__ADS_1


__ADS_2