
Yasmin semakin dekat padaku, dan terus belajar bagaimana cara dia mencintai kedua orangtuanya yang sudah meninggal. Dengan menjadi anak shalehah, dapat menyelamatkan tiap orangtua dari siksa neraka. Yasmin begitu antusias, dia tidak mau Papa dan Mamanya tersiksa di sana. Dan dia mulai melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Bersyukurnya aku ketika melihat Yasmin yang begitu mencintai orang tuanya. Dulu aku sama seperti dia, mencari arahan ke sana kemari tak kutemukan. Sampai datang Kak wildan, cowok manis berkulit putih yang mengajarkan aku semua. Kak Wildan itu anak seorang guru ngaji, jadi wajar saja jika dia juga memiliki ilmu yang diajarkan Bapaknya. Kemana dia sekarang? Kok tiba-tiba aku rindu.
Vina baru bangun jam 11 ini, Ok mungkin ini memang hari libur. Tetapi pulang tengah malan dalam keadaan mabuk bukanlah contoh yang baik untuk adiknya. Apalagi dia masih kelas 2 SMA. Semalam terhuyung dan terjatuh di depan kamarnya. Aku yang membantu dia agar bisa tetap tidur di kamarnya, membuka semua sepatu, bahkan aku yang membersihkan badannya. Agar Vina bisa tertidur pulas tanpa ada perasaan tidak nyaman sedikit pun. Tetapi tetap saja dia tidak tahu semua itu, namanya juga lagi mabuk.
Keesokan harinya...
"Laila... Laila...!!" Teriak Vina memanggilku, dia masih terlihat sempoyongan sambil memegang kepalanya.
"Ya, Vina," Jawabku, padahal aku sedang duduk di ruang keluarga tak jauh darinya. Masa memanggilku harus sekeras itu.
"Gue laper, mau makan. Ambilin gih," ucap Vina menyuruh tanpa adab dan sopan santun sebagai orang yang lebih muda dariku.
"Baiklah aku ambilkan," jawabku sadar diri karena aku hanya tinggal menumpang di rumahnya.
Selesai menyediakan makan untuk Vina. Al mengajakku pergi, bingung dia akan mengajak aku kemana. Tetapi setidaknya lumayan lah ketimbang suntuk di rumah.
Al mengajak ke sebuah butik, dia mengambil pesanan pakaian yang akhirnya diberikan untukku. Kok bisa, untuk apa dia memberikan aku pakaian resmi layaknya mau ke kantor.
Oh iya lupa, aku kan disuruh kerja di kantornya. Baiklah, ini rezeki untuk ku. Tapi kali ini kalau bekerja, di bayar kan Al? Tidak gratis lagi kan?
"Aku tahu siapa kamu sebenarnya, kamu adalah Laila Aida Qanita. Anak dari Harsono dan Aida Qanita, umurmu 22 tahun, kamu sedang kuliah jurusan tehnik industri dan setahun lagi akan lulus. Sila sebagai Kakak tiri dan Megan sebagai Ibu tiri. Anak pandai yang selalu juara dalam kelas, tidak ada satu catatan kejahatan sedikit pun. Ada yang kamu bantah dari semua yang aku bacakan?" Al membacakan semua yang dia ketahui tentang ku dan itu benar.
Kali ini tenggorokanku terasa kering dan tercekat karena kaget.
Sekarang kami berada di sebuah rumah makan, makan berdua Al terasa seperti kencan. Tapi ternyata dia malah membongkar semua data diriku.
"Aku... Aku... Pembantu," Jawabku masih mengelak, meski yang dikatakan Al itu benar semua. Dapat dari mana dia? Tidak mungkin dia sengaja bertanya pada Momy.
"Kamu benar-benar pembohong Laila, aku gak habis fikir kamu tidak pernah bicara yang jujur tentang siapa kamu?" Al menuduhku dengan sinisnya.
Aku tak bisa menatap mata coklatnya, meskipun aku ingin sekali. Karena aku tau, aku merasa salah.
"Untuk apa Al? Adakah yang perduli denganku? Tapi setidaknya aku akan lulus tahun ini, hidupku akan berubah. Terima kasih kamu telah mengingatkan aku," jawabku lemas, seperti seorang yang sedang ketahuan mencuri lalu di sidang di hadapan hakim tanpa pembelaan, yang ku bisa cuma pasrah. Seperti itulah rasanya.
"Kamu layak bahagia Laila, itu milikmu dan kamu bukan pembantu mereka. Baiklah aku akan menolongmu, setidaknya aku akan memberimu pekerjaan untuk magang. Besok ikut aku, dan pakai baju yang tadi kuberi."
Benarkah itu terjadi? Jujur tidak percaya. Apa ini mimpi? Tolong cubit dan bangunkan aku sekarang juga kalau ini cuma mimpi!!
__ADS_1
Aku menangis, ini pertama kalinya aku menangis di hadapan orang lain. Terimakasih Al, kamu mau menolong saat aku sudah mulai berpustus asa. Dan hanya menunggu waktu untuk itu semua akan terjadi.
Kulihat Al salah tingkah melihat aku menangis, mungkin dia bingung harus bersikap seperti apa. Akhirnya dia hanya memberikan sebuah tisue untuk menyeka air mataku.
Setelah Al berangkat ke kantor lagi, aku memberanikan diri untuk pergi ke rumah Papa. Demi mengambil foto kedua orang tuaku.
Kalian tahu ketika aku datang, mereka sedang membakar foto-foto Papa Mama. Dua makhluk ini semakin gila, pantas saja hati ini selalu berkata untuk pulang ke rumah. Ternyata firasat buruk itu benar. Dengan sigap, aku berlari dan berusaha mematikan api dengan tangan kosong. Seharusnya belajar debus terlebih dahulu, supaya tangan ini tidak melepuh karenanya.
"Kamu, anak sial!! Berani pulang, sudah bosan hidup?" ancam Momy melihatku berusaha mematikan api.
Sila mengambil kesempatan untuk menginjak tanganku yang sedang berusaha memungut satu persatu foto. Sudah panas, sakit pula.
"Sila, sakit. Aku hanya mau mengambil foto Mama Papa."
"Oh, sakit ya? Maaf ya adikku tersayang. Eh mereka kan udah mati. Ngapain fotonya di simpan??"
Mendengar jawaban Sila membuatku ingin menjadi psychopat saat itu juga. Ingin rasanya mencincang mulut Sila yang sudah keterlaluan.
"Ckckck. Momy Laila nangis kasihan gak ada yang bisa dipeluk," ucap Sila merendahkan ku.
Tanpa banyak bicara setelah mengambil sisa foto yang ada, aku bangkit dan ingin segera melangkah pergi. Tetapi Momy tidak membiarkan jalanku begitu mudah. Hijab kembali ditarik ke belakang sambil berbisik." "Kalau sudah keluar dari rumah ini, pastikan dirimu tidak akan pernah kembali!"
Tetangga?? Jangan berharap mereka akan datang menolong, karena sebelumnya ada beberapa yang membantuku malah habis di maki Momy. Begitulah keadaanku.
Kembali ke rumah Al, semoga saja pria itu belum sampai ke rumah. Gak enak juga kalau dia melihatku dengan tampang mengenaskan seperti ini. Terlebih dia sudah terlalu banyak membantu.
Kali ini aku berusaha menyelinap, agar tidak bertemu siapapun dalam kondisi buruk begini.
"Kamu dari mana??" suara Al membuat aku kaget setengah mati.
"Aku habis dari mall, cari buku." Mulut ini kenapa sulit sekali untuk berkata jujur sih??
"Dengan pakaian seperti itu? Jilbab yang kotor dan robek? Beberapa jam lalu, kamu tidak sekacau ini!" tegas Al membuat aku tak bisa bicara.
"Kenapa kamu gak bisa jujur? Dan ya ampun, luka apa itu?" Al melihat kedua telapak tanganku yang melepuh.
Huhuhu... Ini sakit loh Al. Tapi entah mengapa, sulit sekali rasanya untuk menangis. Tadi padahal ketika dihadapan Momy dan Sila jadi merasa cengeng.
"Ini, bukan apa-apa." Aku menyembunyikan kedua telapak tanganku ke kantong, dan berasa semakin sakit karena tempat yang sempit.
__ADS_1
Tanpa bicara Al menarik tanganku, dengan lembut dia menyuruhku duduk di sebuah sofa di ruang tv. Setelah itu pergi ke dalam, entah apa yang mau dia lakukan. Tak beberapa lama, Al kembali dengan membawa kotak P3K. Perlahan tapi pasti, Al membersihkan luka dan mengoleskan salap bakar pada lenganku.
"Kamu itu bukan super hero Laila, kamu gak bisa sekuat mereka. Jangan pernah membuat luka seperti ini, karena aku juga merasakan sakitnya." Al menatap dengan wajah serius.
Apa maksudnya?? Ini kode atau apa ya? Kok dia buat aku jadi deg-degan gimana gitu.
Mata kami bertemu, saling memandang. Ada sesuatu yang hangat mengalir di dadaku. Seketika sadar ini salah, aku segera mengalihkan pandangan. Malu...
"Terimakasih, Al."
"Sama-sama, aku mau simpan ini dulu," ucap Al terlihat salah tingkah.
Ya ampun, Al kamu bisa membuat aku salah paham. Jangan beri harapan palsu yang tak akan bisa terwujud.
******
Keesokan paginya, aku memakai pakaian yang dibelikan Al untukku. Sebuah baju stelan resmi berwarna hitam, layaknya pakaian kantor. Begitu pas di badan ku.
Aku keluar dari kamar, semua orang memandangku tak biasa, apa karena sehari-hari mereka hanya melihatku memakai kaos biasa mungkin.
"Hebat, dari asisten rumah tangga. Jadi pegawai kantoran, jangan-jangan setelah ini jadi istri boss lagi," sindir Vina membuat aku merasa tak enak hati.
"Vina harap jaga mulut kamu. Laila duduklah kita makan lalu kita berangkat," Al menyuruhku duduk ditempat biasa.
Yasmin tersenyum kepadaku, dia juga memujiku cantik dengan suara berbisik. Untung ada si bungsu yang selalu menguatkan.
"Bagaimana dengan luka mu?" tanya Al dengan tatapan yang sama, terlihat begitu khawatir.
"Sudah baikkan. Terimakasih," ucapku tulus.
"Kakak, tanganmu kenapa??" Yasmin kaget melihat luka mengerikan di telapak tanganku.
"Gak apa-apa. Kemarin kena api sedikit, tapi udah baikkan kok," ucapku lagi-lagi berbohong. Padahal masih terasa panas sekali.
"Hish, lebay amat. Namanya pembantu ya, kena api tuh biasa kali," celetuk Vina.
"Vina!!!" hardik Al.
Tak menjawab, selanjutnya acara sarapan kami semakin canggung. Meski harusnya terbiasa seperti ini, namun sekarang aku merasakan kalau semua jadi salahku.
__ADS_1